UPDATEBALI.com, BULELENG – Kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai berkembang menjadi ruang publik yang tidak hanya ramai dikunjungi masyarakat, tetapi juga menjadi panggung kreativitas generasi muda.
Melalui kegiatan musik mingguan bertajuk Suara Senja, sekelompok pemuda Buleleng berupaya menghidupkan kawasan tersebut sebagai pusat ekspresi seni yang terbuka bagi semua kalangan.
Inisiatif ini lahir setelah penataan kawasan Titik Nol oleh pemerintah daerah yang membuat ruang publik tersebut semakin diminati warga untuk bersantai pada sore hingga malam hari. Melihat potensi itu, komunitas kreatif setempat menghadirkan pertunjukan musik rutin sebagai media berkumpul sekaligus menampilkan karya anak-anak muda.
Salah satu kru sekaligus gitaris Suara Senja, Rajendra Siaga Tika, mengatakan gagasan tersebut berawal dari keinginan menghadirkan ruang ekspresi yang mudah diakses masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kami melihat tempat ini sangat berpotensi menjadi wadah anak muda mengekspresikan diri. Ke depannya, kami ingin tempat ini menjadi hub untuk segala jenis ekspresi seni budaya. Bukan hanya musik, tapi tidak menutup kemungkinan ke depan ada teater, paduan suara, atau seni lainnya,” jelas Rajendra.
Mengusung konsep inklusif, Suara Senja membuka kesempatan bagi siapa saja untuk tampil tanpa membedakan latar belakang. Penyelenggara juga berencana menggandeng sekolah-sekolah di Buleleng agar pelajar dari tingkat TK hingga SMA/SMK dapat berpartisipasi bersama musisi umum dalam setiap penyelenggaraan.
Kegiatan yang digelar setiap akhir pekan itu diharapkan mampu menghadirkan hiburan secara konsisten sekaligus memperluas ruang apresiasi seni bagi masyarakat.
Sejak pertama kali digelar, Suara Senja telah memasuki penyelenggaraan ketiga dan akan kembali hadir pada akhir pekan mendatang. Antusiasme masyarakat yang terus meningkat menjadi dorongan bagi penyelenggara untuk mengembangkan konsep acara dengan melibatkan lebih banyak cabang seni.
Rajendra menuturkan, Suara Senja tidak hanya ditujukan sebagai panggung pertunjukan musik, tetapi juga diharapkan menjadi embrio lahirnya pusat kesenian publik di Kota Singaraja.
“Rencana besarnya, kami ingin menjadikan Suara Senja ini sebagai titik di mana masyarakat bisa berkumpul, bersenda gurau, dan menikmati seni bersama. Kami ingin Titik Nol Singaraja ini hidup sebagai pusat kesenian publik bagi warga Buleleng,” pungkas alumni SMAN Bali Mandara itu.
Melalui kolaborasi komunitas kreatif dan dukungan ruang publik yang semakin representatif, Suara Senja diharapkan mampu memperkuat ekosistem seni di Buleleng sekaligus menjadikan Titik Nol Singaraja sebagai ikon baru aktivitas budaya dan kreativitas masyarakat.(adv/ub)





