spot_img
spot_img
BerandaBaliWayang Genjek Bungkulan Tampil Perdana di PKB XLVIII, Buktikan Tradisi Buleleng Tetap...

Wayang Genjek Bungkulan Tampil Perdana di PKB XLVIII, Buktikan Tradisi Buleleng Tetap Hidup di Era Modern

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Seni tradisi Buleleng kembali menunjukkan daya adaptasinya di panggung bergengsi Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Untuk pertama kalinya, Wayang Genjek Bungkulan tampil dalam ajang seni terbesar di Bali dengan membawa garapan bertajuk “Kala Baka: Ruwat Atma Ekachakra”.

Pementasan kelompok seni asal Banjar Dinas Ancak, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng tersebut berlangsung di depan Gedung Kriya, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis 9 Juli 2026. Kehadiran Wayang Genjek dalam PKB menjadi catatan penting bahwa seni tradisi mampu berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan akar budaya yang menjadi identitasnya.

Koordinator Wayang Genjek Bungkulan, Komang Juni Mahardika, menyampaikan bahwa kesempatan tampil di PKB merupakan pencapaian besar bagi perjalanan kesenian tersebut. Menurutnya, panggung PKB menjadi ruang untuk memperkenalkan inovasi seni khas Buleleng yang tetap menjaga nilai budaya dan filosofi pewayangan.

Baca Juga:  Kadisnaker Gianyar Kunjungi Sejumlah LPK

Wayang Genjek merupakan perpaduan antara seni pedalangan dengan vokal genjek yang berkembang dari kreativitas masyarakat Buleleng. Meski menghadirkan konsep pertunjukan yang lebih komunikatif dan dekat dengan penonton, unsur utama dalam seni pewayangan tetap dipertahankan.

Komang Juni menegaskan, kelompoknya tetap menjaga pakem pedalangan Buleleng, termasuk penggunaan lampu minyak dalam setiap pementasan. Bagi Wayang Genjek Bungkulan, setiap elemen dalam pertunjukan memiliki simbol dan makna tersendiri.

Batang pisang atau gedebong yang menjadi tempat menancapkan wayang dimaknai sebagai Pertiwi atau bumi. Kelir menggambarkan langit, sedangkan cahaya dari lampu minyak menjadi simbol Surya atau matahari yang memberikan kehidupan sekaligus menjaga keseimbangan alam.

“Yang kami ubah adalah cara penyajiannya agar lebih komunikatif dan menarik bagi penonton. Namun, nilai, cerita, dan esensi wayangnya tetap kami jaga,” ujarnya.

Baca Juga:  Alasan Honda-e Tak dipasarkan di Indonesia

Keistimewaan Wayang Genjek terlihat dari perpaduan peran dalang, tokoh wayang, penembang genjek, penabuh gender, hingga pemain suling yang membangun komunikasi harmonis selama pertunjukan berlangsung. Unsur genjek semakin terasa ketika adegan yang melibatkan tokoh punakawan dimainkan, sehingga menghadirkan suasana dinamis tanpa menghilangkan karakter utama seni pewayangan.

Komang Juni menjelaskan, hingga saat ini Wayang Genjek masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Buleleng. Kesenian tersebut masih digunakan dalam sejumlah kegiatan adat, terutama pada rangkaian Manusa Yadnya seperti upacara tiga bulanan dan mepandes.

Menurutnya, perkembangan Wayang Genjek sejak awal tahun 2000-an tidak mengubah fungsi utama kesenian tersebut. Inovasi yang dilakukan justru menjadi upaya agar seni tradisi tetap dapat diterima masyarakat tanpa menghilangkan nilai yang diwariskan leluhur.

Dalam setiap pementasan, Wayang Genjek Bungkulan melibatkan sekitar 10 personel yang terdiri dari dalang, penabuh gender, pemain suling, penembang genjek, serta pendukung lainnya. Kekompakan para pemain menjadi salah satu kekuatan utama dalam menciptakan karakter pertunjukan yang khas.

Baca Juga:  Modus Pinjam Korek, Maling Berhasil Bawa Kabur Tas di Dalam Mobil

Penampilan perdana di PKB XLVIII menjadi bukti bahwa Wayang Genjek bukan hanya sebuah kreasi seni, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya Buleleng. Tradisi tetap menjadi fondasi utama, sementara inovasi menjadi cara agar warisan tersebut terus berkembang dan dikenal generasi baru.

Komang Juni berharap semakin banyak anak muda yang tertarik mendalami seni pedalangan maupun tabuh gender sehingga Wayang Genjek dapat terus tumbuh sebagai warisan budaya yang hidup.

“Kami ingin menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk mengikuti perkembangan zaman. Justru dengan berkreasi tanpa meninggalkan esensinya, warisan leluhur akan tetap hidup dan dicintai oleh generasi berikutnya,” pungkasnya. (adv/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments