UPDATEBALI.com, DENPASAR – Duta Kabupaten Buleleng menghadirkan lebih dari sekadar parade busana pada Utsawa (Parade) Busana Adat Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Minggu, 12 Juni 2026.
Belasan peraga tampil membawakan ragam busana adat yang mengisahkan kekayaan tradisi dan identitas budaya yang masih hidup di desa-desa tua Bali Utara.
Dalam penampilan tersebut, Buleleng menampilkan Payas Ningrat berdampingan dengan busana khas Desa Bali Mula Sidetapa, busana Pecalang Buleleng, hingga busana yang digunakan dalam prosesi Memukur dan Ngadegang Bubur Dewata. Seluruh rangkaian disusun menjadi sebuah narasi budaya yang menggambarkan perjalanan adat masyarakat Buleleng.
Koordinator Parade Busana Adat Kabupaten Buleleng, Nyonya Karnadi Parwati Panji, mengatakan konsep penampilan tahun ini disesuaikan dengan tema PKB 2026, Atma Kerti: Mahakarya Jagat Kerthi, sehingga setiap busana ditampilkan secara berurutan untuk membangun sebuah cerita yang utuh.
“Payas pengantin tetap kami tampilkan karena itu merupakan identitas daerah yang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat luas. Selain itu kami juga menampilkan busana desa Bali Mula yang masih lestari hingga saat ini,” ujarnya.
Parade diawali dengan kemunculan Busana Pecalang Buleleng yang mengenakan kain panjang hitam melancingan, kampuh poleng hitam, baju hitam, destar dara kepek bertepi poleng, serta keris sebagai simbol penjaga adat. Saput poleng yang dikenakan melambangkan peran pecalang dalam menjaga keseimbangan antara alam sekala dan niskala.
Setelah itu, para pecalang menyambut prajuru Desa Bali Mula Sidetapa yang mengenakan busana khas desa adat tersebut. Kaum pria tampil dengan kain dan kampuh bebali tanpa baju serta destar batik, sementara perempuan mengenakan kain bebali, kebaya hujan gerimis warna benhur, selendang bebali, dan tengkuluk sederhana yang menjadi ciri khas masyarakat Sidetapa.
Nuansa kemegahan kemudian hadir melalui Busana Pengantin Ningrat Buleleng yang diperagakan layaknya raja dan permaisuri dengan balutan busana berornamen perada serta hiasan kepala tradisional. Payas Ningrat menjadi simbol identitas budaya Buleleng yang masih terus dilestarikan dalam berbagai prosesi adat.
Alur cerita berlanjut pada prosesi Memukur dengan busana khusus yang dikenakan kerabat puri, berupa kain bebali motif dobol, songket Buleleng, kebaya putih, serta tata busana meleluwakan khas Buleleng yang ditandai posisi tagelan di sisi kanan.
Busana tersebut mengandung filosofi penyatuan pikiran dari dunia sekala menuju niskala dalam perjalanan spiritual.
Sebagai penutup, parade menghadirkan prosesi Ngadegang Bubur Dewata. Seorang cucu raja tampil dengan busana serba putih sebagai simbol kesucian saat mengaduk Bubur Dewata, kemudian berjalan bersama raja dan permaisuri membawa sangku menuju tempat upacara sebagai simbol menstanakan kekuatan Dewata serta memohon tuntunan bagi roh leluhur.
Salah seorang peraga busana, Ketut Andika Pratama Dwi Payana, mengaku bangga dapat menjadi bagian dari parade tersebut sekaligus memperkenalkan budaya Buleleng kepada masyarakat yang lebih luas.
“Ini pertama kali saya ikut Utsawa Busana Adat Buleleng. Saya berharap masyarakat tidak hanya melihat keindahan busananya, tetapi juga mengetahui sejarah dan makna budaya yang ada di baliknya,” katanya.
Andika yang juga aktif di komunitas Semeton Jegeg Bagus (Sejebag) Buleleng menjelaskan bahwa seluruh peraga telah menjalani persiapan selama satu hingga dua bulan.
Menurutnya, parade ini menjadi media penting untuk memperkenalkan kekayaan busana adat Buleleng, termasuk tradisi khas desa-desa Bali Aga yang masih terjaga hingga saat ini.(adv/ub)





