Festasada 2026 Meriah, UMKM dan Seni Lokal Tampil dalam Satu Panggung Budaya

0
167
Festasada 2026 di Sukasada digelar untuk membangkitkan kembali seni budaya lokal sekaligus meningkatkan kesadaran pengelolaan sampah melalui berbagai pertunjukan dan kegiatan masyarakat.
Festasada 2026 di Sukasada digelar untuk membangkitkan kembali seni budaya lokal sekaligus meningkatkan kesadaran pengelolaan sampah melalui berbagai pertunjukan dan kegiatan masyarakat. Sumber foto : Kominfosanti Buleleng

UPDATEBALI.com, BULELENG – Festival Seni Adat dan Budaya Kecamatan Sukasada (Festasada) 2026 kembali digelar sebagai upaya membangkitkan seni budaya lokal sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Buleleng di bawah kepemimpinan I Nyoman Sutjidra bersama Wakil Bupati Gede Supriatna dalam melestarikan seni dan budaya daerah.

Plt. Camat Sukasada, I Komang Budiarsana, menjelaskan bahwa festival ini menjadi momentum kebangkitan kembali seni budaya Sukasada setelah sempat vakum sejak tahun 2020.

“Melalui tema Abhyudaya, kami ingin membangkitkan kembali seni dan budaya Sukasada yang adiluhung dan menjadi kebanggaan krama Bali,” ujarnya, Rabu, 15 April 2026.

Baca Juga:  Sekda Suyasa Dukung Penuh BPS dalam Registrasi Sosial Ekonomi

Festasada 2026 dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 17 hingga 19 April 2026 di RTH Taman Bung Karno Sukasada.

Beragam pertunjukan seni khas akan ditampilkan, mulai dari Tari Selat Segara, Baleganjur, hingga kesenian unik seperti menggoak-goakan dari Desa Panji, Rejang Renteng, serta Burdah dari Desa Pegayaman sebagai simbol akulturasi budaya.

Selain pertunjukan seni, festival ini juga dimeriahkan dengan Festival Gebogan berbahan bunga lokal, parade budaya, berbagai lomba, hingga pertunjukan seni modern yang tetap mengusung kearifan lokal. Seluruh pelaku seni yang tampil merupakan putra-putri daerah Sukasada.

Baca Juga:  Transformasi Digital di Sekolah, Pemkab Buleleng Luncurkan Aplikasi e-Surat

Tak hanya itu, sektor UMKM turut dilibatkan dengan menghadirkan kuliner khas Sukasada dan Buleleng. Panitia menekankan penggunaan makanan tradisional sebagai bentuk penguatan identitas lokal sekaligus meningkatkan daya tarik festival.

Di sisi lain, isu pengelolaan sampah menjadi perhatian serius dalam pelaksanaan festival. Panitia menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis sumber dengan mewajibkan setiap pedagang menyediakan tempat sampah terpilah.

Selain itu, disiapkan pula titik pengawasan serta sistem pengangkutan sampah, khususnya sampah organik yang akan diolah lebih lanjut guna mengurangi residu.

Baca Juga:  BI Bali Optimis Inflasi Bali Agustus 2025 Terkendali, Deflasi Bulanan Capai -0,39 Persen

“Kami ingin festival ini tidak hanya meriah, tetapi juga bersih dan ramah lingkungan. Ini bagian dari tanggung jawab bersama,” tegas Budiarsana.

Ia berharap Festasada dapat menjadi agenda rutin yang berkelanjutan, tidak hanya sebagai ruang ekspresi seni, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan masyarakat, pelaku UMKM, serta penguatan identitas budaya Sukasada.

Festasada 2026 terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Masyarakat diundang untuk turut meramaikan sekaligus menjaga kebersihan lingkungan demi keberlanjutan kegiatan serupa di masa mendatang.(adv/ub)