UPDATEBALI.com, DENPASAR – Dukungan terhadap pengelolaan sampah berbasis sumber terus menguat di Kota Denpasar. Desa Adat Denpasar menyatakan komitmennya untuk mengambil peran aktif dalam penanganan sampah organik langsung dari tingkat masyarakat.
Komitmen tersebut disampaikan Bendesa Adat Denpasar, I Gusti Ngurah Alit Wirakesuma, saat kegiatan sosialisasi pengolahan sampah di Wantilan Setra Agung Badung, Minggu 19 April 2026, yang turut dihadiri Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara.
Menurut Alit Wirakesuma, persoalan sampah tidak bisa ditangani secara parsial, melainkan membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat adat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara unsur dinas dan desa adat dalam menciptakan sistem pengelolaan yang efektif.
Dengan cakupan wilayah mencapai 106 banjar, Desa Adat Denpasar dinilai memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat, khususnya dalam memilah dan mengolah sampah organik sejak dari rumah tangga.
Ia menjelaskan, upaya pengolahan sampah organik secara mandiri telah dilakukan, terutama untuk limbah upacara. Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada partisipasi warga dalam memilah serta mengolah sampah sejak awal.
“Perlu sinergi yang jelas. Sampah organik ditangani di tingkat masyarakat dan desa adat, sementara pemerintah fokus pada anorganik dan residu,” ujarnya.
Sebagai langkah lanjutan, Desa Adat Denpasar juga menyiapkan lahan penampungan untuk hasil olahan komposter, seperti dari tong komposter, teba modern, maupun bag komposter. Lahan tersebut direncanakan akan dikembangkan menjadi ruang terbuka hijau.
Sementara itu, Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menyambut baik komitmen tersebut. Ia menilai keterlibatan desa adat menjadi kunci dalam mempercepat penanganan sampah di kota.
Menurutnya, kebiasaan memilah sampah harus terus diperkuat karena berpengaruh langsung terhadap efektivitas pengolahan, termasuk dalam sistem Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) yang tengah disiapkan.
Ia menjelaskan, meskipun teknologi PSEL mampu mengolah sampah campuran, kualitas hasil pengolahan sangat dipengaruhi oleh kondisi sampah yang masuk. Sampah yang telah dipilah memiliki nilai kalor lebih stabil dan kadar air lebih rendah, sehingga mendukung proses konversi energi yang lebih optimal dan ramah lingkungan.
“Sinergi antara pemerintah dan desa adat ini menjadi fondasi penting agar penanganan sampah di Denpasar berjalan maksimal,” ujarnya.
Kegiatan sosialisasi tersebut juga dihadiri jajaran perangkat daerah, camat, lurah, prajuru adat, hingga pecalang, sebagai bentuk penguatan komitmen bersama dalam pengelolaan sampah berkelanjutan di Kota Denpasar.(per/ub)





