Warisan Sejarah Jadi Prioritas, Kota Singaraja Siap Ditata Ulang oleh Bupati Buleleng

0
213
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menegaskan komitmennya menjaga Kota Singaraja sebagai Kota Pusaka dengan rencana penataan kawasan heritage, saat menghadiri Rakernas JKPI 2025 di Yogyakarta.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menegaskan komitmennya menjaga Kota Singaraja sebagai Kota Pusaka dengan rencana penataan kawasan heritage, saat menghadiri Rakernas JKPI 2025 di Yogyakarta. Sumber foto : Humas Buleleng

UPDATEBALI.com, YOGYAKARTABupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Buleleng untuk terus mempertahankan identitas Kota Singaraja sebagai Kota Pusaka.

Komitmen tersebut disampaikan saat mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) Tahun 2025 yang berlangsung di Yogyakarta, Rabu, 6 Agustus 2025.

Dalam kesempatan itu, Bupati Sutjidra menyampaikan rencana penataan ulang kawasan heritage di Kota Singaraja dalam waktu dekat.

Hal ini sebagai bentuk nyata dalam menjaga nilai-nilai sejarah dan budaya yang melekat kuat pada kota yang dahulu menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan di Bali Utara.

Baca Juga:  Pj Lihadnyana Komitmen Berantas Penyalahgunaan Narkoba di Buleleng

“Singaraja memiliki warisan sejarah yang sangat penting, mulai dari peninggalan Kerajaan Buleleng, bangunan kolonial Belanda, hingga rumah Ibunda Bung Karno. Semua ini menjadi kekayaan budaya yang wajib kita lestarikan,” tegas Sutjidra.

Ia juga mengungkapkan bahwa penataan kawasan pusaka ke depan akan difokuskan pada wilayah-wilayah yang memiliki nilai historis tinggi, seperti Museum Gedong Kertya, Puri Kerajaan Buleleng, Pelabuhan Tua, dan beberapa kawasan hunian kolonial yang masih bertahan.

Menurutnya, pelestarian bukan hanya soal fisik bangunan, namun juga tentang menjaga nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga:  Menteri Hadi Tjahjanto Launching Kabupaten Badung Lengkap Pertama di Indonesia

Oleh sebab itu, melalui forum Rakernas JKPI, pihaknya mendorong terjadinya kolaborasi antardaerah dalam pengembangan dan perlindungan kota pusaka.

“Melalui jaringan ini, kita bisa saling bertukar praktik baik, memperkuat jejaring budaya, serta mengambil inspirasi dari daerah lain dalam memperkuat identitas sejarah Kota Singaraja,” tambahnya.

Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya mengungkapkan bahwa tantangan pelestarian kota pusaka semakin kompleks seiring perubahan zaman. Ia menyoroti adanya pergeseran nilai di masyarakat yang berdampak pada aspek pelestarian.

Baca Juga:  Bupati Sedana Arta Buka Lomba Cipta Menu Berbasis Sumber Pangan Lokal

“Pelestarian warisan sejarah tidak hanya tentang menjaga fisiknya, tetapi juga melestarikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya untuk generasi mendatang,” ujar Sri Sultan.

Rakernas JKPI 2025 yang berlangsung selama lima hari dari 5 hingga 9 Agustus ini diikuti oleh 75 pemerintah kota dan kabupaten anggota JKPI.

Kegiatan ini menjadi wadah refleksi, diskusi, dan pemantapan strategi dalam menjaga dan memajukan kota-kota pusaka di Indonesia.(adv/ub)