UPDATEBALI.com, Jembrana – Warga Dusun Pebuahan, Desa Banyubiru, Negara mengeluhkan penanganan abrasi pantai pebuahan yang belum kunjung datang. Padahal musibah abrasi ini sudah terjadi sejak belasan tahun, bahkan terparah dalam lima tahun terakhir. Hingga ratusan meter daratan tergerus dan puluhan rumah hilang.
Menurut keterangan warga, abrasi yang sudah banyak menelan kerugian materi, kini hanya menyisakan kesedihan bagi para warga yang kena dampak abrasi. Bagaimana tidak, warga yang sudah sangat lama menunggu bantuan pemerintah untuk penanganan abrasi ini hanya tinggal janji-janji saja.
“Ya kepingin cepat-cepat ditangani, disender, sudah lama sekali ini. Mengharap kepada Pak Tamba (Bupati Jembrana) supaya cepat ditangani,” kata Fathayasin salah seorang warga Pebuahan.
Abrasi pantai Pebuahan ini, lanjut Fathayasin, abrasi terparah kurun waktu lima tahun terakhir. Bahkan akses jalan disepanjang pesisir pantai Pebuahan yang biasa dilalui untuk aktifitas nelayan putus sudah sejak tahun lalu. Kini warga harus memutar arah jika harus melalui akses jalan dipesisir pantai Pebuahan.
“Jalan putus sudah setahunan, ini akses jalan pinggir pantai, untuk kegiatan nelayan sudah tidak bisa, “ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Heriyanto, warga lain. Menurutnya, Pemerintah dinilai lamban dalam penanganan abrasi pantai Pebuahan ini. Seharusnya menjadi prioritas penanganan dari Pemerintah, karena kerusakan sudah sangat parah. Sekolah, Musollah, akses jalan, bahkan dalam sepuluh tahun terakhir sekitar 2,6 kilometer terdampak abrasi dengan luas daratan yang sudah hilang sekitar 100 meter. Ini semua sarana dan fasilitas umum, merupakan hal penting yang harus dijadikan pertimbangan pemerintah untuk mempercepat penanganan abrasi.
“Kalau masih nunggu lagi, semakin banyak rumah warga yang hilang karena abrasi,” ujar Hariyanto.

Menurut informasi yang dia terima, bahwa untuk tahun ini, ada kabar proyek pembangunan pengaman pantai di Jembrana yang menyasar ruas pantai Gilimanuk, ruas Pantai Desa Candikusuma hingga Desa Deloberawah juga mendapat jatah pembangunan senderan pantai sebagai salah satu upaya untuk menghentikan abrasi yang selama ini terjadi. Sementara warga Banjar Pebuahan, yang pantainya juga mengalami abrasi terlewati. Menurutnya, jika dibandingkan dampak abrasinya, yang paling parah adalah abrasi pantai Pebuahan.
“Justru menurut kajian dari Kementerian PU, abrasi pantai terparah di Pebuahan tapi dilewati,” ungkapnya.
Pembangunan senderan pantai yang menggunakan anggaran APBN melalui satker BWS Bali Penida tahun ini menurut informasi, pembangunan senderan ruas Gilimanuk sepanjang 1,1,8 kilometer sebagai pekerjaan utama pada tahun ini, selanjutan di pesisir pantai Candikusuma, Kecamatan Melaya sekitar 750 meter dan pesisir pantai Delodberawah, Kecamatan Mendoyo sepanjang 890 meter. Dan pelaksanaan selama 240 hari kalender atau selama 8 bulan, diperkirakan selesai pada bulan November mendatang.
Meski pembangunan senderan pantai merupakan kewenangan pemerintah pusat, warga tetap berharap kepada pemerintah daerah sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat untuk bisa menyampaikan keluhan warga dan mengawal percepatan penanganan abrasi pebuahan. Mengingat abrasinya sudah semakin parah.
“Jangan cuman janji – janji politik saja,” imbuhnya.
Sementara Bupati Jembrana I Nengah Tamba dalam arahannya mengatakan, abrasi di daerah pebuahan sangat parah sehingga memerlukan penanganan yang lebih serius.
Apabila abrasi pebuahan tidak diatasi sampai tahun depan, proyek dari kementrian perikanan yang ingin menambah bibir Pelabuhan, mungkin tidak akan berjalan. Bupati juga akan berkordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida untuk melakukan sosialisasi dengan mengundang camat, perbekel, lurah, kaling, bendesa serta masyarakat di rumah jabatan Bupati pada Selasa nanti.
“Untuk Pebuahan kita akan maksimalkan pada tahun 2023 karena membutuhkan anggaran yang besar dan panjang 2,5km,” Jelasnya.(nal/ub)





