Wabup Supriatna Sambut Panen Padi Unggulan, Target 110 Ribu Ton Siap Dikejar

0
269
Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna menegaskan panen perdana Semeton Buleleng sebagai langkah menuju swasembada pangan dan penguatan ekonomi lokal.
Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna menegaskan panen perdana Semeton Buleleng sebagai langkah menuju swasembada pangan dan penguatan ekonomi lokal. Sumber foto : Humas Buleleng

UPDATEBALI.com, BULELENG – Kabupaten Buleleng menandai langkah besar dalam perjalanan ketahanan pangannya melalui panen perdana varietas padi unggulan lokal, Semeton Buleleng, yang digelar pada Minggu, 3 Agustus 2025 di Balai Benih Unggulan, Desa Tangguwisia, Kecamatan Seririt.

Acara ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan kedaulatan pangan yang berbasis pada potensi lokal.

Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, menegaskan bahwa panen perdana ini memiliki arti strategis bagi pencapaian swasembada pangan di tingkat daerah.

Menurutnya, varietas Semeton Buleleng dirancang secara spesifik untuk menjawab tantangan geografis dan iklim lahan marginal di Buleleng.

Baca Juga:  TP PKK Bali Perkuat UMKM Buleleng Lewat Program Berbelanja dan Berbagi, Dorong Ekonomi Lokal Tumbuh

“Ini adalah kunci menuju target produksi 110.132,4 ton gabah kering giling tahun ini,” ujar Supriatna di sela-sela panen.

Ia menyebutkan, hingga Juli 2025, produksi sudah mencapai 60.026 ton—capaian yang memberikan optimisme akan terpenuhinya target akhir tahun.

Lebih lanjut, Supriatna menyoroti pentingnya proses hilirisasi pertanian, agar hasil panen tidak hanya dikirim dalam bentuk gabah mentah ke daerah lain dan kembali dalam bentuk beras dengan harga tinggi.

“Kita dorong RMU lokal beroperasi optimal agar nilai tambah tetap di Buleleng,” tegasnya.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Gede Melandrat, menjelaskan keunggulan teknis Semeton Buleleng, termasuk daya adaptasi tinggi, tahan hama burung karena struktur daun yang tegak lurus, serta hasil ubinan perdana sebesar 5,7 ton per hektar, mendekati target ideal enam ton.

Baca Juga:  UMKM Aluh Jadi Inspirasi, Pemkab Buleleng Siapkan Galeri Permanen Produk Lokal

Varietas ini juga tahan terhadap rebah dan dapat ditanam pada musim tanam kedua (MK II), saat varietas lain seperti Inpari 32 cenderung gagal karena tingginya kebutuhan air.

Uji adaptasi dilakukan di tiga lokasi dengan karakteristik berbeda: Alasangker, Buleleng Kota, dan Giri Emas.

“Kami tidak hanya berfokus pada hasil produksi, tapi juga pada dukungan infrastruktur pertanian seperti irigasi, alsintan, dan penggilingan. Produksi tanpa hilirisasi tidak akan berkelanjutan,” tambah Melandrat.

Baca Juga:  Kenalkan Nyamannya Pakai Motor Listrik, PLN Goes to School ke Kampus UNHI

Semeton Buleleng diposisikan sebagai pelengkap bagi varietas lain seperti Inpari 32 (unggul di musim hujan) dan Cierang (tahan kekeringan). Distribusi benih akan dilakukan melalui Perumda Swantara atau koperasi, guna memperkuat ekosistem benih lokal.

Panen perdana ini juga menjadi pembuka jalan menuju peluncuran varietas jagung unggulan Buleleng yang dijadwalkan pada 11 Agustus 2025.

Seluruh langkah ini menegaskan tekad Buleleng untuk menjadikan pertanian sebagai lumbung pangan sekaligus penggerak ekonomi berdaulat.(adv/ub)