spot_img
spot_img
BerandaBaliTuak Bali, Warisan Budaya yang Tetap Digemari Hingga Generasi Muda

Tuak Bali, Warisan Budaya yang Tetap Digemari Hingga Generasi Muda

UPDATEBALI.com, BANGLI – Tuak, minuman tradisional beralkohol yang khas dengan keberadaannya di Bali, tetap menjadi bagian penting dari budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Minuman ini digemari oleh berbagai kalangan usia, dari generasi muda hingga tua, yang senang menikmati warisan leluhur ini.

Salah satu contoh perajin tuak yang berdedikasi adalah Ni Nengah Suartini, seorang perempuan Bali yang bersama suaminya, setiap hari memanjat pohon kelapa untuk mengambil tuak. Dengan puluhan pohon kelapa di sekitar rumahnya, Ni Nengah Suartini telah terbiasa dengan pekerjaannya, meskipun pohon-pohon tersebut tidak terlalu tinggi. Dalam sehari, ia mampu menghasilkan lebih dari 15 botol tuak, di mana setiap botol berisi 1 liter.

Baca Juga:  Polisi Tetapkan Satu Lagi Tersangka Kasus Pembakaran Rumah di Julah

“Tuak yang dihasilkannya dijual dengan harga Rp 20.000 per botol, dan pembelinya tidak hanya dari Bangli, tetapi juga dari Denpasar, Gianyar, dan daerah lainnya. Bahkan pada upacara atau hari raya, ia seringkali kewalahan melayani pesanan,”pungkasnya.

Untuk mempermudah proses memanjat pohon kelapa, suaminya menciptakan alat yang bekerja seperti lift dengan menggunakan dinamo berkekuatan listrik. Alat ini dapat digunakan dengan mudah dengan hanya menekan tombol kontrol, memungkinkan Ni Nengah Suartini naik dan turun dengan cepat. Alat ini terbukti sangat membantu dalam proses pembuatan tuak, terutama karena pohon kelapa di sekitar rumahnya tidak terlalu tinggi.

Baca Juga:  Terdapat Air di Planet Mars, Peneliti China Klaim Pertama Kali yang Menemukan

Selain sebagai minuman beralkohol, Tuak Bali juga dikenal memiliki manfaat kesehatan. Tuak dianggap dapat membantu dalam mengatasi penyakit kencing manis, menjaga kesehatan tulang, dan melancarkan sistem pencernaan. Ini karena tuak kaya akan kandungan protein, kalsium, dan berbagai vitamin, tentunya dengan konsumsi dalam takaran yang wajar.

Dengan perajin seperti Ni Nengah Suartini yang terus mempertahankan tradisi ini dan masyarakat Bali yang tetap menghargainya, minuman tuak tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari dan budaya Bali yang kaya. (put/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments