Tekanan Ekonomi Global Meningkat, Sektor Jasa Keuangan Indonesia Masih Tunjukkan Ketahanan

0
23
Tekanan Ekonomi Global Meningkat, Sektor Jasa Keuangan Indonesia Masih Tunjukkan Ketahanan
Tekanan Ekonomi Global Meningkat, Sektor Jasa Keuangan Indonesia Masih Tunjukkan Ketahanan. Sumber foto: OJK/Updatebali

UPDATEBALI.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan tekanan geopolitik. Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar pada 30 September 2026.

Kepala Direktorat Komunikasi Publik OJK Sekar Putih Djarot mengatakan, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan 2025. Meski demikian, proyeksi tersebut masih lebih baik dari perkiraan sebelumnya, antara lain didukung peningkatan investasi dan perdagangan yang berkaitan dengan pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Namun, momentum pertumbuhan ekonomi global masih menghadapi sejumlah tantangan. Eskalasi konflik geopolitik kembali mendorong kenaikan harga minyak yang berpotensi meningkatkan inflasi. Kondisi tersebut diperberat fenomena El Nino yang sangat kuat dan berpotensi menekan harga pangan serta komoditas pertanian.

Tekanan inflasi global kemudian mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga pada level tinggi dalam waktu lebih lama. Kenaikan suku bunga terjadi di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang, sementara pasar masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada akhir 2026 dan berlanjut hingga 2027.

Kondisi tersebut turut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah ke level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Imbal hasil obligasi pemerintah di Amerika Serikat dan Eropa kembali ke level sebelum 2008, sedangkan Jepang mencapai level sebelum 1997.

“Kenaikan imbal hasil juga dipengaruhi tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah serta meningkatnya penerbitan obligasi jangka panjang oleh perusahaan hyperscaler untuk membiayai investasi terkait AI,” ungkapnya.

Sekar Putih Djarot juga menyebutkan, di dalam negeri, kondisi perekonomian dinilai relatif stabil. Inflasi masih berada dalam sasaran pemerintah sehingga turut menjaga permintaan domestik dan konsumsi masyarakat. Kondisi tersebut menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga:  Hari Raya Galungan dan Kuningan Dorong Kinerja Penjual Ritel di Bali

Optimisme terhadap perekonomian Indonesia juga tercermin dari langkah OECD yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 0,5 persen. Hal tersebut menunjukkan kepercayaan terhadap daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Sektor keuangan turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Fundamental industri jasa keuangan dinilai tetap solid dan stabilitas sektor keuangan masih terjaga.

Di pasar saham, pergerakan pada September 2026 berlangsung dinamis seiring meningkatnya volatilitas pasar keuangan global akibat eskalasi geopolitik dan kenaikan suku bunga.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.071,14 pada akhir September 2026. Angka tersebut menunjukkan koreksi 6,96 persen secara month to month (mtm) dan 29,79 persen secara year to date (ytd).

“Pada periode yang sama, investor asing mencatatkan net sell di pasar saham sebesar Rp10,24 triliun. Kondisi tersebut berbalik dari Agustus 2026 ketika investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp1,19 triliun,” katanya.

Meski pasar bergerak volatil, likuiditas pasar modal domestik masih terjaga. Rata-rata bid-ask spread pasar saham berada di level 1,20 persen, relatif stabil dibandingkan Agustus 2026 sebesar 1,17 persen. Sementara rata-rata nilai transaksi harian tercatat Rp14,94 triliun, turun dari Rp15,86 triliun pada bulan sebelumnya.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) berada di level 439,05 pada akhir September 2026, terkoreksi tipis 0,23 persen secara mtm dan 0,41 persen secara ytd.

Rata-rata yield Surat Berharga Negara (SBN) meningkat 14,12 basis poin secara mtm. Kenaikan tersebut sejalan dengan peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah global dan masih tingginya ketidakpastian perekonomian dunia.

Investor asing di pasar SBN juga mencatatkan net sell sebesar Rp0,34 triliun secara mtm. Pada Agustus 2026, investor asing masih membukukan net buy sebesar Rp15,35 triliun.

Baca Juga:  Unud Jalin Kerja Sama dengan PT Jasa Raharja dan PT Asuransi Jasaraharja Putera

Sebaliknya, aliran dana asing di pasar Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) korporasi menunjukkan perkembangan positif dengan net buy Rp0,91 triliun pada September 2026. Pada bulan sebelumnya, pasar tersebut mencatatkan net sell Rp0,02 triliun.

Kinerja industri pengelolaan investasi juga mengalami penyesuaian mengikuti dinamika pasar keuangan. Nilai Asset Under Management (AUM) tercatat Rp1.004,68 triliun pada akhir September 2026, turun 1,55 persen secara mtm dan 3,65 persen secara ytd.

Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp637,07 triliun, terkoreksi 2,42 persen secara mtm dan 5,66 persen secara ytd. Sementara investor reksa dana mencatatkan net redemption sebesar Rp10,43 triliun.

Untuk instrumen baru, sejak ETF Emas diluncurkan pada 10 Agustus 2026 hingga 30 September 2026 telah terdapat tujuh produk ETF Emas yang diterbitkan tujuh manajer investasi. Total dana kelolaan produk tersebut mencapai Rp105,63 miliar.

Di tengah dinamika pasar, jumlah investor pasar modal domestik masih meningkat. Pada September 2026 terdapat tambahan 1,03 juta investor baru. Secara ytd, jumlah investor pasar modal tumbuh 57,96 persen menjadi 32,17 juta investor.

OJK terus mendorong pemanfaatan pasar modal sebagai sumber pembiayaan bagi dunia usaha dengan tetap memperhatikan kualitas keterbukaan informasi dan pelindungan investor.

Melalui Securities Crowdfunding (SCF), sepanjang September 2026 tercatat 15 efek baru dan sembilan penerbit baru dengan dana yang dihimpun sebesar Rp22,92 miliar. Secara kumulatif, total dana yang berhasil dihimpun melalui SCF telah mencapai Rp2,06 triliun.

Di pasar keuangan derivatif, sejak 10 Januari 2025 hingga 30 September 2026 terdapat 113 pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip dari OJK. Volume transaksi pada September 2026 mencapai 42.718 lot, sehingga secara kumulatif sepanjang Januari-September 2026 mencapai 395.571 lot.

Baca Juga:  OJK Luncurkan Peta Jalan Baru untuk Perkuat Industri Penjaminan dan Dukung UMKM

Sementara itu, Bursa Karbon yang telah diluncurkan sejak 26 September 2023 mencatat 160 pengguna jasa terdaftar hingga 30 September 2026. Secara kumulatif, volume transaksi mencapai 1,98 juta tCO2e dengan nilai transaksi Rp93,97 miliar.

Pada sektor perbankan, intermediasi terus menunjukkan penguatan. Pertumbuhan kredit pada Agustus 2026 mencapai 13,65 persen secara year on year (yoy), meningkat dibandingkan Juli 2026 yang berada di level 13,58 persen. Total penyaluran kredit perbankan mencapai Rp9.178 triliun.

Berdasarkan penggunaannya, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 25,11 persen yoy. Selanjutnya, kredit modal kerja tumbuh 11,45 persen dan kredit konsumsi sebesar 5,07 persen.

Dari sisi debitur, kredit korporasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 22,18 persen yoy. Sementara kredit UMKM terus tumbuh positif sebesar 2,32 persen yoy, meningkat dari 1,62 persen pada Juli 2026.

Berdasarkan kepemilikan, pertumbuhan kredit bank BUMN menjadi yang tertinggi, yakni 16,41 persen yoy.

Adapun baki debet kredit Buy Now Pay Later (BNPL) yang tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) mencapai Rp31,41 triliun per Agustus 2026. Nilainya setara 0,34 persen dari total kredit perbankan, namun tumbuh 29,10 persen yoy.

Jumlah rekening BNPL juga meningkat menjadi 34 juta rekening dari 33,50 juta rekening pada Juli 2026.

Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 10,94 persen yoy menjadi Rp10.413 triliun. Pertumbuhan tersebut sedikit melambat dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 11,21 persen.

Pertumbuhan DPK tertinggi berasal dari deposito sebesar 13,10 persen yoy, disusul giro 9,82 persen dan tabungan 9,56 persen.(yud/updatebali)