Tabuh Perang Untek Duta Badung, Wujud Syukur untuk Alam Semesta

0
315
Komunitas Seni Jong Gembyong menjadi wakil Kabupaten Badung dalam ajang PKB ke-47 tahun 2025 melalui penampilan Baleganjur Perang Untek.
Komunitas Seni Jong Gembyong menjadi wakil Kabupaten Badung dalam ajang PKB ke-47 tahun 2025 melalui penampilan Baleganjur Perang Untek. Sumber foto: Humas Kominfo Badung

UPDATEBALI.com, BADUNG – Komunitas Seni Jong Gembyong menjadi wakil Kabupaten Badung dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 tahun 2025 melalui penampilan Baleganjur bertema Perang Untek.

Digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Kamis 26 Juni 2025, garapan ini menggugah publik dengan kekuatan musikal dan makna tradisi dari Desa Adat Kiadan, Kecamatan Petang.

Garapan Badung tampil bersanding dengan delegasi Denpasar, Buleleng, dan ditutup oleh parade dari duta Tabanan. Tradisi Perang Untek sendiri merupakan upacara sakral yang digelar setiap Purnama Sasih Kepitu oleh masyarakat Kiadan sebagai bentuk syukur dan doa keselamatan bagi seluruh ciptaan. Nilai-nilai ini sejalan dengan tema besar PKB 2025, “Jagat Kerthi Lokahita Samudaya”.

Baca Juga:  Sekaa Gong Anak-anak Semara Winangun Tampil Memukau di Pesta Kesenian Bali ke-4

Garapan tabuh tersebut dikemas apik dengan perpaduan komposisi musik dan koreografi yang menggambarkan ritus Perang Untek. Ciri khas uniknya, penggunaan simbolik angka 555 tumpeng dan 777 untek/penek, dengan dominasi warna putih dan kuning yang menyimbolkan keseimbangan arah timur dan barat, menjadi elemen utama dalam struktur musikal.

Konseptor garapan, I Gusti Ngurah Alit Supariawan, menyampaikan bahwa tantangan mengangkat Perang Untek dalam bentuk baleganjur menjadi pengalaman berharga bagi komunitasnya.

Baca Juga:  Pemda Buleleng Usulkan Metempeng Gandong Jadi Warisan Budaya Tak Benda

“Persiapannya hampir enam bulan, dan kami ingin menyampaikan pesan penting: penghormatan kepada alam yang memberi kehidupan,” ujarnya.

Dengan 29 perangkat tabuh, 6 tukang bandrang, dan 1 papan nama, garapan berdurasi 17 menit ini menyuguhkan kombinasi dinamis dari ceng-ceng, reong, ponggang hingga hitungan gong yang kuat secara ritmis dan estetis.

Pembina Jong Gembyong, Putu Sugiarta, menambahkan bahwa tema Perang Untek dipilih sebagai bentuk penghargaan terhadap kearifan lokal.

Baca Juga:  Penyumbang Wisatawan Terbanyak, Wagub Cok Ace Terima Kunjungan Walikota Dujiangyan City

“Kita ingin generasi muda tahu bahwa tradisi seperti ini bukan sekadar pertunjukan, tapi warisan budaya yang harus dijaga,” tegasnya.(adv/ub)