spot_img
spot_img
BerandaGaya hidupStop Buang-buang Makanan! Dapat Sakiti Banyak Pihak

Stop Buang-buang Makanan! Dapat Sakiti Banyak Pihak

 

UPDATEBALI.com, JAKARTA – Masyarakat Indonesia masuk tiga besar dunia dalam hal persampahan makanan. Setiap orang telah membuang makanan sisa hingga 150 kg per tahun. Padahal ada begitu banyak warga miskin yang belum mampu memenuhi kebutuhan pangan harian mereka secara layak.

Perilaku membuang makanan secara sia-sia, bagaimanapun, dapat menyakiti banyak pihak. Ada jerih payah para petani yang tidak dihargai, juga melukai warga miskin yang kekurangan makanan. Belum lagi bila bicara dalam konteks ketahanan pangan. Pemerintah berikut segenap jajarannya terus berjuang dalam mewujudkan ketahanan pangan dan mencegah terjadinya krisis maupun kelangkaan bahan pangan.

Baca Juga:  Fenomena Pegawai Kota Besar Banting Setir jadi Petani di Desa

Deputi Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi, Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nyoto Suwignyo amat menyayangkan keterbuangan makanan yang menurutnya menyakiti petani.

Food waste akan sangat menyakiti kerja keras petani selama menghasilkan pangan,” ujar dia pada 15 Maret 2023.

Hasil penelitian Bapanas menyebutkan jumlah makanan terbuang mencapai 150 kg per kapita/tahun. Menurut Suwignyo, angka itu sangat fantastis ketika dikalikan jumlah total penduduk Indonesia dan lalu dikonversi ke dalam rupiah.

Besarnya jumlah sampah makanan, kata dia, berpotensi besar mengganggu ketersediaan pangan nasional.

Baca Juga:  Ini Pengganti Nutrisi Susu Pada Anak

{bbbanner}

Hal yang kurang lebih sama disampaikan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo bahwa sampah makanan dapat memperparah ancaman krisis pangan, selain perubahan iklim dan perang yang menghambat rantai pasok.

Terdapat dua istilah dalam bahasan sampah makanan, yakni food loss dan food wasteFood loss adalah hilangnya bahan makanan pada rantai pasok, karena rusak sebelum sampai ke konsumen. Kerusakan bisa terjadi dalam perjalanan distribusi, atau tanaman rusak akibat gagal panen, sedangkan food waste mengacu pada perilaku konsumen yang tidak menghabiskan makanan dan berakhir ke tempat sampah.

Mentan Syahrul mengutip hasil kajian Badan Pangan Dunia (FAO), yang menunjukkan sepertiga bahan pangan yang diproduksi dunia, terbuang dan menjadi sampah.

Pada saat yang bersamaan kebutuhan bahan pangan terus meningkat seiring bertambahnya penduduk. Padahal penduduk yang sekarang ada saja, belum semuanya mampu mencukupi kebutuhan pangannya. Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), pada akhir 2022 terdapat 17 juta penduduk Indonesia menderita kelaparan, yang sekaligus menjadi angka kurang gizi dan gizi buruk. Lantas apakah perilaku membuang-buang makanan seperti itu tidak menyakiti mereka?.(ub/antara)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments