updatebali.com/, DENPASAR – Transplantasi rambut kini semakin diminati sebagai solusi mengatasi kebotakan maupun penipisan rambut. Prosedur ini dikenal aman dengan tingkat keberhasilan tinggi, namun tetap memiliki sejumlah efek samping yang perlu dipahami pasien sebelum menjalani tindakan.
Dalam konferensi pers, Senin 18 Mei 2026 di Denpasar, Hye Ri Hong menjelaskan bahwa sebagian besar efek samping transplantasi rambut bersifat ringan dan sementara, terutama pada masa pemulihan awal setelah prosedur dilakukan.
Menurutnya, pasien umumnya mengalami nyeri ringan di area kulit kepala setelah efek anestesi mulai hilang. Selain itu, pembengkakan di sekitar dahi dan mata juga dapat muncul beberapa hari setelah tindakan, meski biasanya mereda dalam waktu sekitar satu minggu dengan bantuan kompres dingin dan obat pereda nyeri.
Sensasi kulit kepala terasa kencang atau kebas juga cukup umum terjadi akibat trauma ringan pada saraf kulit kepala selama proses transplantasi. Kondisi tersebut disebut bersifat sementara dan biasanya pulih dalam beberapa minggu.
“Risiko infeksi sangat rendah (kurang dari 1%), terutama jika prosedur dilakukan secara steril dan dirawat sesuai petunjuk dokter,” ujar Dr. Hye Ri Hong.
Selain itu, perdarahan ringan dapat terjadi dalam 24 jam pertama pascaoperasi, namun umumnya berhenti dengan sendirinya. Pasien juga akan mengalami pembentukan kerak atau scabs pada area tanam rambut yang akan mengelupas secara alami dalam waktu 7 hingga 10 hari.
Rasa gatal selama proses penyembuhan juga disebut sebagai kondisi normal. Meski demikian, pasien diimbau tidak menggaruk area transplantasi untuk menghindari iritasi maupun risiko infeksi.
Dr. Hye Ri Hong menambahkan, beberapa efek samping jangka panjang meski jarang tetap dapat muncul, seperti jaringan parut atau bekas luka. Pada metode FUT, bekas luka biasanya berbentuk garis tipis yang tersembunyi di bawah rambut, sedangkan metode FUE dan DHI meninggalkan bekas berupa titik-titik kecil yang cenderung sulit terlihat.
Ia juga menjelaskan kemungkinan terjadinya kebas berkepanjangan, terutama pada metode FUT yang melibatkan sayatan. Namun, kondisi tersebut disebut jarang terjadi.
Selain itu, pertumbuhan rambut yang tampak tidak alami dapat muncul apabila penanaman folikel dilakukan dengan arah yang kurang tepat. Karena itu, pemilihan dokter dan klinik berpengalaman menjadi faktor penting dalam keberhasilan prosedur.
Beberapa pasien juga dilaporkan mengalami munculnya kista kecil atau benjolan di area transplantasi. Kondisi tersebut umumnya tidak berbahaya dan dapat hilang dengan sendirinya maupun melalui perawatan ringan.
Sementara itu, fenomena shock loss atau kerontokan sementara setelah transplantasi juga disebut sebagai bagian normal dari proses pertumbuhan rambut baru.
“Rambut baru yang tumbuh bisa rontok sementara sebelum tumbuh kembali secara permanen dalam 3-4 bulan,” jelasnya.
Dr. Hye Ri Hong menyebut tingkat keberhasilan transplantasi rambut dapat mencapai 95 hingga 98 persen apabila dilakukan oleh dokter yang berpengalaman dan tersertifikasi.
Ia mengingatkan pentingnya konsultasi sebelum tindakan agar pasien memahami manfaat, risiko, hingga proses pemulihan pascaoperasi secara menyeluruh.
Dengan penanganan medis yang tepat dan perawatan pascatransplantasi yang baik, prosedur transplantasi rambut dinilai tetap aman dan efektif untuk membantu mengembalikan kepercayaan diri pasien.(den/ub)





