UPDATEBALI.com, BULELENG – Sosok Si Luh Pasek, ibu dari Ki Barak Panji Sakti yang kisahnya nyaris terlupakan, mendapatkan panggung terhormat dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII tahun 2025.
Lewat garapan tari berjudul “Rungu I Meme”, Sanggar Seni Anglocita Suara yang menjadi Duta Kabupaten Buleleng memukau penonton di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar, Jumat, 11 Juli 2025.
Tari Rungu I Meme yang berarti “mendengar ibuku” menyuguhkan penghormatan mendalam terhadap peran ibu sebagai sumber kehidupan dan penjaga keseimbangan semesta.
Mengangkat figur Si Luh Pasek, karya ini menjadi refleksi atas kemuliaan seorang ibu yang kerap terlupakan dalam narasi besar sejarah.
“Kami ingin membawakan sesuatu yang berbeda, bukan hanya soal teknik tari, tapi juga soal nilai dan perenungan yang dalam,” ujar Ketua Sanggar, Putu Aldi Philberta Harta Celuk.
Ia menyampaikan bahwa persiapan untuk penampilan ini telah dilakukan sejak Januari lalu.
Konsep garapan ini berpijak pada filosofi Jagad Kerthi, di mana penghormatan terhadap ibu tidak hanya bersifat simbolik, melainkan merupakan laku spiritual yang luhur.
“Sering kali kita lupa, jagad sesungguhnya adalah ibu itu sendiri,” tambahnya.
Dengan menampilkan sosok Si Luh Pasek, Sanggar Anglocita Suara berupaya menempatkan kembali peran perempuan, khususnya ibu dalam konteks sejarah dan budaya Bali yang lebih luas, bukan sekadar pelengkap, tetapi fondasi kehidupan.
Tak hanya Rungu I Meme, sanggar ini juga mempersembahkan dua karya lain yakni Tabuh Kreasi Baru “Giri Guru” serta Tari Kekebyaran “Sattva Samata”.
Kedua garapan tersebut turut mengusung pesan spiritualitas, keharmonisan, dan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat Bali masa kini.(adv/ub)





