Pemkab Bangli Bangun Rumah Jabatan Bupati Berbasis Arsitektur Sikut Satak

0
336
Pemerintah Kabupaten Bangli memulai pembangunan rumah jabatan bupati dengan mengadopsi konsep arsitektur tradisional Hindu Bali, Sikut Satak.
Pemerintah Kabupaten Bangli memulai pembangunan rumah jabatan bupati dengan mengadopsi konsep arsitektur tradisional Hindu Bali, Sikut Satak. Sumber foto: Humas Bangli

UPDATEBALI.com, BANGLI – Pemerintah Kabupaten Bangli memulai pembangunan rumah jabatan bupati dengan mengadopsi konsep arsitektur tradisional Hindu Bali, Sikut Satak. Proyek ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menjaga identitas budaya sekaligus menghadirkan pembangunan yang selaras dengan nilai-nilai lokal.

Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta menyampaikan bahwa pemilihan konsep Sikut Satak bukan sekadar aspek desain, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pembangunan rumah jabatan tersebut diharapkan mampu menjadi referensi bagi arah pembangunan di Bangli.

“Dengan menggunakan Sikut Satak, kami ingin rumah jabatan ini menjadi contoh bagi pembangunan lainnya di Bangli, sekaligus menjadi warisan budaya untuk generasi mendatang,” ujarnya dalam Forum Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Ruang Rapat Bupati Bangli, Sabtu 24 Januari 2026.

Baca Juga:  Guru TK Jadi Fondasi Karakter Anak, Putri Koster Dorong Profesionalisme dan Kesejahteraan

FGD tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Sekretaris Daerah Bangli, tokoh Puri Bangli, Majelis Desa Adat (MDA) Bangli, seniman ukir kayu dan paras, hingga jajaran perangkat daerah terkait. Dalam forum tersebut, konsep pembangunan rumah jabatan dibahas secara komprehensif, termasuk aspek arsitektur, estetika, dan nilai filosofis.

Rumah jabatan bupati dirancang berdiri di atas lahan seluas 50 are dengan nilai anggaran lebih dari Rp29 miliar. Bangunan ini akan menampilkan karakter arsitektur Bali khas Bangli dengan berbagai elemen tradisional, seperti Bale Ancak Saji, Bale Pertemuan, Bale Paon, Bale Kerta Pengajahan, Bale Munjungsari, Merajan, Bale Gedong, tugu, serta fasilitas pendukung lainnya.

Baca Juga:  UMKM Bangli Didorong Naik Kelas, Pemkab Beri Pendampingan Izin Usaha Lewat OSS

Pemerintah Kabupaten Bangli juga menegaskan komitmen terhadap prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan proyek. Kanit Tipikor Polres Bangli, Iptu I Wayan Dwipayana, menyatakan bahwa pihak kepolisian akan turut mengawasi jalannya pembangunan guna memastikan penggunaan anggaran berjalan sesuai ketentuan.

Dalam pembahasan FGD, para tokoh adat, MDA, dan seniman yang hadir pada prinsipnya menyetujui konsep pembangunan rumah jabatan tersebut. Namun, mereka menekankan pentingnya konsistensi penerapan Sikut Satak, terutama pada detail ornamen, panel, dan ukiran bun-bunan (suluran) agar benar-benar merepresentasikan motif khas Bangli.

Baca Juga:  Pohon Bunut Tumbang di Banjar Tengah Buahan, Seorang Warga Tertimpa Ranting

Pembangunan rumah jabatan bupati ini diharapkan tidak hanya menghadirkan bangunan representatif, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan budaya di tengah modernisasi. Melalui pendekatan arsitektur tradisional, Bangli berupaya memadukan pembangunan fisik dengan pelestarian nilai budaya yang menjadi jati diri daerah.(yud/ub)