Paparkan Sabha Wana Kerthi, Bupati Tamba Jadi Pembicara di Festival LIKE II KLHK

0
161
Bupati Tamba dipercaya oleh Kementrian Lingkungan Hidup RI menjadi pembicara dalam talkshow lingkungan, iklim, kehutanan, dan energi baru terbarukan yang digelar serngkakan dengan Festival LIKE II yang dilaksanakan di JCC (Jakarta Convention Center), Kamis, 8 Agustus 2024. Sumber Foto : Humas Jembrana

UPDATEBALI.com, JEMBRANA – Bupati Jembrana, I Nengah Tamba, kembali dipercaya menjadi pembicara di tingkat nasional. Kali ini, Bupati Tamba diundang oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia untuk berbicara dalam talkshow tentang lingkungan, iklim, kehutanan, dan energi baru terbarukan, yang menjadi bagian dari rangkaian Festival LIKE II di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis, 8 Agustus 2024.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Tamba memaparkan materi berjudul “Sabha Wana Kerthi sebagai Implementasi Indonesia Hijau di Kabupaten Jembrana“. Ia menjelaskan bahwa terdapat empat misi utama Kabupaten Jembrana yang berfokus pada perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, yaitu Wana Kerthi, Danu Kerthi, Segara Kerthi, dan Jagat Kerthi.

Bupati Tamba menjelaskan bahwa latar belakang pembentukan Sabha Wana Kerthi didasari oleh adanya kesenjangan sosial antara masyarakat pesisir dan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, serta kejadian bencana alam seperti banjir bandang di Jembrana. Selain itu, program ini juga merupakan upaya Pemkab Jembrana untuk meningkatkan indeks kualitas lahan di daerah tersebut.

Baca Juga:  Jembrana Raih Opini WTP dari BPK Sepuluh Kali Berturut-turut

“Menghadapi tantangan tersebut, diperlukan kolaborasi dan sinergi antar berbagai pihak dalam pengelolaan dan pelestarian hutan,” ujar Bupati Tamba.

Konsep Sabha Wana Kerthi meliputi pengelolaan kawasan hutan dan perhutanan sosial, pelestarian lingkungan, pemanfaatan hutan secara profesional dan berkelanjutan, serta peningkatan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Selain itu, program ini juga mengintegrasikan budaya luhur Bali, seperti Tri Hita Karana, Tumpek Uduh, dan Tanam Tuwuh.

Bupati Tamba juga mengungkapkan bahwa hingga tahun 2023, terdapat 32 Kelompok Tani Hutan (KTH) dengan total anggota 5.823 kepala keluarga, yang memanfaatkan lahan seluas 5.313,35 hektar. Pada tahun 2024, direncanakan ada tambahan tiga KTH baru yang akan mendapatkan izin pemanfaatan lahan.

Baca Juga:  Komisi Informasi Bali Tinjau Kinerja PPID Bangli, Pastikan Informasi Publik Mudah Diakses

“Setiap KTH menandatangani Pakta Integritas, di mana jika terjadi pelanggaran atau tindak pidana kehutanan, mereka siap dikenakan sanksi sesuai peraturan yang berlaku. Yang menarik, dan mungkin satu-satunya di Indonesia, KTH di Jembrana telah menyetorkan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) sebesar Rp34.622.000 pada tahun 2023,” jelasnya.

Bupati Tamba juga menyoroti pentingnya keberadaan hutan mangrove di Jembrana, yang mencakup area seluas 968 hektar dan dikelola oleh dua KTH. Sebagai bentuk komitmen terhadap perlindungan lingkungan, Pemkab Jembrana berupaya meningkatkan status kawasan mangrove KTH Lindu Segara Tanjung Pasir di Desa Tuwed, yang seluas 44 hektar, menjadi Taman Hutan Raya (Tahura).

Dalam presentasinya, Bupati Tamba juga memperkenalkan dan mempromosikan Kebun Raya Jagatnatha, yang menjadi ikon Kabupaten Jembrana. Selain sebagai destinasi wisata, Kebun Raya Jagatnatha berfungsi sebagai tempat konservasi, penelitian, pendidikan, dan jasa lingkungan, dengan koleksi sekitar 396 spesimen dan 135 jenis tanaman.

Baca Juga:  Wakasal Panen Perdana Udang Vaname di Inap Banyubiru

“Bagi bapak/ibu yang belum pernah berkunjung ke Jembrana, saya mengajak untuk datang dan berwisata di sini. Banyak hal menarik yang bisa dilihat di Jembrana. Dari pemandangan hutan yang alami hingga pantai yang menakjubkan, serta budaya lokal seperti Jegog dan Makepung yang sudah mendunia. Kuliner kami juga sangat beragam,” tutur Bupati Tamba.

Sementara itu, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK, Sigit Reliantoro, menjelaskan bahwa Festival LIKE bertujuan sebagai media promosi atas hasil kerja pemerintah dan berbagai pihak, serta bentuk apresiasi terhadap upaya masyarakat dalam mewujudkan kualitas lingkungan hidup dan kehutanan yang lebih baik. Festival ini juga diharapkan menjadi momentum kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, akademisi, kelompok aktivis, LSM, dan dunia usaha untuk melanjutkan serta meningkatkan upaya mitigasi perubahan iklim dan kemajuan ekonomi Indonesia.(yud/ub)