UPDATEBALI.com, DENPASAR – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali melaporkan bahwa Industri Jasa Keuangan (IJK) di Provinsi Bali tetap menunjukkan performa yang solid hingga Juni 2024.
Kinerja yang kuat ini ditopang oleh permodalan yang kokoh, likuiditas yang stabil, dan profil risiko yang terjaga, yang secara langsung mendukung pertumbuhan ekonomi Bali sebesar 5,36 persen year on year (yoy) pada triwulan II 2024. Pertumbuhan ekonomi Bali ini melampaui angka nasional sebesar 5,05 persen, menempatkan Bali di posisi ke-7 tertinggi secara nasional.
Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu mengatakan, data sektor perbankan di Bali menunjukkan penyaluran kredit mencapai Rp108,42 triliun, tumbuh 7,19 persen yoy, didorong oleh kenaikan kredit investasi sebesar Rp5,58 triliun atau 20,67 persen yoy. Sektor perdagangan besar dan eceran serta sektor konsumtif mendominasi penyaluran kredit dengan porsi masing-masing 30,33 persen dan 34,68 persen.
“Kredit yang disalurkan kepada UMKM di Bali juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,67 persen yoy, menunjukkan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi Bali,” kata Kristrianti pada Jumat, 23 Agustus 2024.
Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mencatat pertumbuhan yang kuat, mencapai Rp182,21 triliun, tumbuh 18,29 persen yoy, meski sedikit melandai dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan DPK ini terutama didorong oleh peningkatan tabungan sebesar Rp16,03 triliun, yang mencerminkan membaiknya kondisi ekonomi masyarakat Bali.
Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat menurun menjadi 59,50 persen pada Juni 2024, dibandingkan dengan 65,67 persen pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini mencerminkan pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit.
OJK memastikan kecukupan modal Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tetap terjaga dengan Cash Ratio (CR) sebesar 15,93 persen dan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 36,31 persen, yang mampu menyerap potensi risiko yang dihadapi.
Meskipun rasio Non-Performing Loan (NPL) gross sedikit meningkat menjadi 3,32 persen pada Juni 2024, dibandingkan 2,94 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya, terdapat penurunan dari bulan sebelumnya yang sebesar 3,44 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas kredit perbankan di Bali masih terkendali dengan baik.
OJK Bali juga mencatat pertumbuhan jumlah investor pasar modal dengan peningkatan double digit, termasuk jumlah investor saham yang mencapai 128.784 Single Investor Identification (SID), tumbuh 23,67 persen yoy. Investor reksa dana dan Surat Berharga Negara (SBN) juga meningkat masing-masing 26,70 persen dan 26,60 persen yoy.
Komitmen OJK untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan terus diwujudkan melalui berbagai program edukasi, terutama di Bali dan Nusa Tenggara. Hingga Juli 2024, OJK Bali telah melaksanakan 611 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau lebih dari 23.528 orang di seluruh kabupaten/kota di Bali, serta melalui media sosial yang menjangkau sekitar 204.300 orang.
“Edukasi ini menjadi bagian penting dalam strategi nasional untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, terutama bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas,” ujarnya.(yud/ub)





