Ogoh-ogoh ‘LAKSMI ALAKSMI’ dari ST Cantika Pukau Masyarakat

0
993
Ogoh-ogoh dari ST Cantika Banjar Sedana Merta, Ubung, Denpasar Utara.
Ogoh-ogoh dari ST Cantika Banjar Sedana Merta, Ubung, Denpasar Utara. Sumber foto: den/ub

UPDATEBALI.comDENPASAR – Dalam menyambut hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1946, setiap banjar di desa seluruh Bali melakukan pembuatan ogoh-ogoh. Hal tersebut juga dilakukan oleh sekaan truna dari ST Cantika Banjar Sedana Merta, Ubung, Denpasar Utara.

Usai dinilai pada Minggu, 18 Februari 2024 kemarin dalam lomba Kesanga Festival 2024, ST Cantika Banjar Sedana Merta meraih nilai paling tinggi dengan membuat ogoh-ogoh yang megah dengan mengusung inovasi hidrolik. Ini membuat masyarakat kagum atas karya yang dikerjakan oleh ST Cantika.

I Nyoman Mariadi seorang arsitek ogoh-ogoh dari ST Cantika Banjar menjelaskan untuk ogoh-ogoh yang dibuat kali ini mengangkat tema “LAKSMI ALAKSMI”. Ogoh-ogoh yang diciptakan kali ini memiliki dua karakter tokoh, menunjukkan kompleksitas dan kekayaan detail dalam karya seni tersebut.

Baca Juga:  Sekda Adi Arnawa Resmi Buka Turnamen Youth Badminton 2024 di Desa Adat Jimbaran

Laksmi Alaksmi dikisahkan ketika Resi Durwasa yang merasa sakit hati terhadap silat angkuh Dewa Indra, yang saalat itu Resi Durwasa memberikan sumpah bahwa kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki Dewa Indra akan lenyap seketika.

Dewi Laksmi yang menyaksikan peristiwa itu kemudian memilih untuk pergi dan menyatu ke ruang tanpa batas. Tanpa dirinya, sapi-sapi berhenti menghasilkan susu, tanaman tidak lagi menghasilkan buah dan bunga, sinar matahari semakin meredup, emas dan permata tidak lagi berkilau, hingga banyak duka yang terjadi.

Baca Juga:  160 Ogoh-Ogoh Kota Denpasar Bersaing dalam Penilaian Kesanga Fest 2024

Tak berdaya akan kehancuran, para dewa dan iblis bertaruh untuk memperebutkan sosoknya, semua menginginkan kembali ke-ngungan, kemakmaran, serta kejayaan-nya Lama berselang, akhirnya ia (Laksmi) lahir kembali bersama sifat-nya yang berlawanan.

Alaksmi adalah dewi kesialan, kemalangan, kemiskinan, kesengsaraan, ketidakmurnian perselisihan, waan, dan kotor adalah sosoknya, ia bersanding dengan Laksmi. Dalam pembuatan ogoh-ogoh proses penggarapannya semakin menarik adalah penggunaan mesin hidrolik.

Lebih lanjut, penggunaan hidrolik tidak datang tanpa tantangan. Mariadi menceritakan pengalaman pahitnya pada tahun 2020, di mana kurangnya kesiapan dan pemahaman mengakibatkan kegagalan total dalam pengerjaan.

“Hidrolik memfokuskan pada titik beban terberat, dan ini memerlukan keahlian teknis yang mendalam. Sedikit kesalahan dapat mempengaruhi hasil akhir ogoh-ogoh secara signifikan,” ujarnya pada Senin 19 Februari 2024.

Baca Juga:  Bupati Tabanan Hadiri Upacara Dewa Yadnya di Banjar Umadiwang dan Batulumbang

Sebelumnya, I Komang Indra Wirawan, salah seorang juri, penilaian ogoh-ogoh mencakup tiga aspek utama. Pertama, ide yang diusung haruslah orisinal dan baru. Kedua, kreativitas dan rancang bangun, termasuk proporsionalitas ogoh-ogoh itu sendiri. Dan ketiga, pertunjukan, di mana anggota ST diminta untuk mengangkat dan menggoyangkan ogoh-ogoh dalam akhir penilaian.

“Total ada 12 ogoh-ogoh terbaik dari empat kecamatan yang akan mendapatkan uang pembinaan, dan nantinya diparadekan di kawasan Catur Muka Denpasar. Festival ini berlangsung selama tiga hari, pada 1–3 Maret 2024,” ungkapnya.(den/ub)