
UPDATEBALI.com, BULELENG – Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, mulai mengembangkan wisata berbasis pertanian melalui budidaya anggur impor.
Kebun yang dikenal dengan nama Krisna Grape di Banjar Sandikerta, Jalan Asem Kembar, ini menawarkan pengalaman mencicipi hingga memetik langsung berbagai varietas anggur bagi pengunjung.
Pengelola Krisna Grape, Made Sujana yang akrab disapa Bli Kadek, mengatakan pada Rabu, 21 Oktober 2026 bahwa ide mengembangkan kebun anggur impor berangkat dari keinginannya memperkenalkan potensi pertanian Desa Pejarakan yang lebih beragam.
“Desa Pejarakan bukan hanya tentang memperkenalkan anggur lokal. Kami ingin memperkenalkan juga anggur impor, dengan setiap lokasi memiliki varian yang berbeda,” ujar Made Sujana.
Saat ini, Krisna Grape membudidayakan sejumlah varietas anggur impor, di antaranya Taldun, Julian, Everest, dan Akademik. Setiap varietas memiliki karakter rasa dan tekstur yang berbeda.
Pengunjung diberi kesempatan mencicipi anggur sebelum memutuskan untuk memetik atau membelinya. Cara ini memungkinkan wisatawan mengenali karakter setiap varietas secara langsung.
“Setiap varian rasanya berbeda, teksturnya juga berbeda. Jadi sebelum petik, pengunjung boleh mencicipi terlebih dahulu. Biar mereka sendiri yang merasakan dan memilih,” jelasnya.
Sejak dibuka untuk umum, kebun tersebut mendapat respons positif dengan jumlah pengunjung mencapai ratusan orang. Selain menjadi pilihan rekreasi keluarga, Krisna Grape juga ingin menjadi tempat edukasi pertanian bagi anak-anak.
Pengunjung dapat melihat langsung budidaya anggur di kawasan pedesaan sekaligus mengenal buah-buahan yang dikembangkan oleh petani setempat.
“Harapannya keluarga ramai-ramai datang ke sini. Anak-anak bisa belajar dan tahu bahwa di Desa Pejarakan, ketika masuk ke pedesaan, ternyata ada buah anggur impor yang dibudidayakan,” katanya.
Dari sisi produksi, panen anggur di Krisna Grape dilakukan sekitar tiga bulan sekali. Dalam setiap periode panen, omzet yang diperoleh berkisar Rp18 juta atau lebih.
Meski demikian, budidaya anggur menghadapi tantangan cuaca. Saat musim hujan, proses pembuahan menjadi lebih sulit dan tingkat kemanisan buah cenderung menurun. Sebaliknya, produksi dan rasa manis anggur cenderung lebih optimal saat musim panas.
Untuk menikmati wisata petik anggur, pengunjung dewasa dikenakan tiket masuk Rp10.000 per orang. Anak-anak berusia di atas lima tahun dikenakan tarif Rp5.000, sedangkan anak di bawah lima tahun gratis. Tiket masuk tersebut sudah termasuk kesempatan mencicipi anggur.
Sementara itu, anggur yang dipetik dan dibeli pengunjung dijual dengan harga Rp80.000 per kilogram untuk seluruh varietas yang tersedia.
Made Sujana menyarankan calon pengunjung menghubungi pengelola melalui WhatsApp terlebih dahulu untuk memperoleh petunjuk lokasi atau share location. Pasalnya, kebun berada di kawasan pedesaan dan tidak terletak tepat di pinggir jalan utama.
Ia juga berharap semakin banyak pencinta anggur datang langsung ke kebun. Saat ini, pengelola belum mampu memenuhi permintaan pembelian secara daring maupun melalui sistem cash on delivery (COD) dalam jumlah besar.
“Kalau ada permintaan banyak melalui online, kami belum bisa melayani. Jadi saya berharap para pencinta anggur datang langsung ke sini, mencicipi dan merasakan sendiri buahnya,” pungkasnya.
Perbekel Desa Pejarakan, I Made Astawa, menyatakan pemerintah desa berkomitmen mendukung pengembangan usaha masyarakat, termasuk budidaya anggur yang mulai dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
Dukungan tersebut dilakukan melalui pendampingan, fasilitasi promosi, serta mendorong pelaku usaha dan petani anggur membentuk kelompok. Langkah ini diharapkan memudahkan pengelolaan usaha dan memperluas pemasaran.
Pemerintah desa juga berupaya memperkenalkan potensi wisata petik anggur melalui media informasi desa serta membantu memfasilitasi akses pengunjung menuju lokasi kebun.
Menurut Astawa, pengembangan wisata berbasis pertanian berpeluang membuka usaha baru, meningkatkan kunjungan wisatawan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Kehadiran Krisna Grape menjadi salah satu upaya memperkenalkan potensi pertanian Desa Pejarakan dengan pengalaman wisata yang memadukan rekreasi, edukasi, dan hasil budidaya lokal. (adv/updatebali)


