spot_img
spot_img
BerandaBaliKisah Inspiratif Mahasiswi Penjual Bawang dari Songan

Kisah Inspiratif Mahasiswi Penjual Bawang dari Songan

UPDATEBALI.com, BULELENG – Kuliah sambil berjualan mungkin merupakan sesuatu hal yang banyak dijumpai pada zaman sekarang. Namun berbeda dengan apa yang dijalani oleh sosok mahasiswi cantik bernama Ni Wayan Restiti yang tidak gengsi menjadi seorang penjual bawang.

Restiti sebenarnya mengawali jadi penjual bawang sedari belum masuk ke dunia pendidikan, awalnya mahasiswi kelahiran tahun 2002 ini bergelut di dunia pertanian karena sering ikut kedua orang tuanya ke ladang yang ada di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli. Singkat cerita, sejak pembelajaran dialihkan akibat pandemi Covid-19, dirinya mulai mengikuti jejak kedua orang tuanya menjajakan bawang hasil panen ke desa – desa.

Melihat hasil jualannya laris, sehingga darisana Restiti mulai tertarik untuk mencoba berbisnis bawang, hingga akhirnya setelah tamat smk dirinya masuk ke jenjang perkuliahan dan mengharuskannya merantau ke Kabupaten Buleleng. Namun hal itu justru tidak membuatnya berhenti menjual bawang dan malah menambah semangatnya untuk menjajakan hasil bawang di desanya ditempat rantau.

Baca Juga:  Sukseskan Program Electrifiying Agriculture, PLN Salurkan Bantuan Pengembangan Irigasi Pertanian Bawang di Desa Terunyan Bangli

Meskipun keluarganya memiliki lahan seluas 80 are yang khusus untuk ditanami bawang, namun perempuan yang kini kuliah di jurusan hukum Undiksha ini justru memilih tidak memanfaatkan hal itu, melainkan mencari cuan sendiri dengan menjajakan bawang yang dibeli dari petani sekitar rumahnya. Lalu dibawa menggunakan sepeda motor dan dijual ke Buleleng sesuai harga pasaran.

Potret mahasiswa cantik bernama Ni Wayan Restiti saat bergelut didunia pertanian di Desa Songan Kecamatan Kintamani, Bangli.
Potret mahasiswa cantik bernama Ni Wayan Restiti saat bergelut didunia pertanian di Desa Songan Kecamatan Kintamani, Bangli. Sumber foto: Istimewa

Setiap minggu, anak pertama dari pasangan Jero Suba (41) dan Ni Jero Karyani (41) membawa 80 kilogram bawang menggunakan sepeda motor ke Buleleng. Dirinya menjual bawang secara online dengan sistem cash on delivery (COD) dan juga menjajakannya ke warung – warung, bahkan kadang memilih menjual bawang ke pasar banyuasri jika tidak ada yang membeli bawangnya.

“Sekarang harga bawang Rp20 ribu per kilogram. Rata-rata seminggu bisa mencapai Rp300 ribu untungnya. Pernah juga ada yang order sampai 50 kilogram, tapi kalau rata – rata pesanan hanya ada sekitar 10-20 kilogram,” tuturnya saat diwawancara oleh updatebali.com pada Sabtu 18 November 2023 sambil tersenyum seolah tidak menyangka bisa berada diposisi sekarang.

Baca Juga:  Isu Giveaway Palsu Prabowo Subianto Beredar di TikTok

Dalam seminggu, perempuan yang baru berusia 21 tahun ini mampu meraup cuan untuk menambah uang saku dan tabungan selama merantau di Buleleng, bahkan anak pertama dari tiga bersaudara ini tidak menyangka hasil yang didapatnya selama ini sudah mampu memenuhi satu impiannya yakni membeli handphone dengan hasil kerja kerasnya sendiri.

Disela – sela kesibukannya, perempuan yang pernah bersekolah di SMKN 2 Kintamani ini juga meluangkan sedikit waktunya untuk membuat konten yang diunggah di media sosial tiktok dengan akun Restiti_Petani_Muda_Keren. Konten pertamanya yang menampilkan kesehariannya menjadi petani bawang sukses membuat penonton tertarik dan menuai banyak komentar positif.

Sejak saat itu, dirinya pun mulai sering membuat konten hingga mendapatkan pengikut sebanyak 38,2 ribu. Bahkan tidak jarang dengan jumlah pengikut tersebut dirinya berhasil mendapatkan endorse dari live di aplikasi Tiktok. Meski demikian perempuan yang kini baru duduk di semester 5 ini tetap mengedepankan untuk berjualan bawang.

Baca Juga:  Creative Hub Hadir di Jembrana, Bupati Kembang Targetkan Talenta Lokal Go Nasional

Selain berjualan dan kuliah dirinya juga aktif di organisasi eksternal kampus yakni organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sejak setahun lalu. Disana Restiti mendapat banyak pengalaman terutama dalam bidang pertanian hingga perdagangan yang membuatnya selalu bersyukur dan mampu menyumbangkan hasil jerih payahnya kepada orang yang lebih membutuhkan.

“Dulu mau beli sepatu yang diinginkan susah karena belum ada penghasilan. Tapi sekarang hasil jualan saya kadang sampai bisa disisihkan untuk membantu orang kurang mampu,” imbuhnya.

Kini atas hasil yang didapat, perempuan kelahiran Desa Songan ini memiliki sejumlah harapan seperti ingin memiliki sebuah mobil agar bisa membawa bawang lebih banyak dan bisa menambah penghasilannya. Ia pun berpesan dalam memulai usaha para generasi muda supaya tidak merasa gengsi, minder maupun takut. Sebab ketika nantinya sukses maka yang akan menikmati hasilnya adalah diri sendiri.(dna/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments