UPDATEBALI.com, DENPASAR – Studi terbaru menunjukkan bahwa kecoa dan beberapa spesies hewan lainnya dapat mengajarkan manusia bagaimana menyeimbangkan pola makan dan menghindari konsumsi berlebihan.
Temuan ini menyoroti hubungan antara kebutuhan nutrisi spesifik dan perilaku makan, yang juga relevan bagi manusia dalam menghadapi tantangan sistem pangan modern.
Profesor David Raubenheimer dari Universitas Sydney, yang memimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa eksperimen dengan kecoa menunjukkan kemampuan serangga untuk menyeimbangkan kembali diet mereka setelah mengalami ketidakseimbangan gizi.
“Cukup menakjubkan, ketiga kelompok kecoa tersebut memilih kombinasi makanan yang tepat dari ketiga jenis pilihan makanan untuk menyeimbangkan kembali diet mereka,” kata Raubenheimer.
Penelitian ini menekankan bahwa hewan, termasuk manusia, memiliki nafsu makan spesifik terhadap nutrisi tertentu. Dalam hal ini, protein menjadi prioritas utama, dan jika jumlah protein dalam diet rendah, konsumsi karbohidrat dan lemak meningkat secara otomatis. Fenomena ini membantu menjelaskan mengapa manusia cenderung makan berlebihan dalam sistem pangan modern yang penuh makanan ultra-proses rendah protein.
Raubenheimer menambahkan, “Tubuh kita utuh, sama seperti kerabat primata liar kita. Masalah konsumsi berlebihan lebih disebabkan oleh lingkungan makanan daripada kegagalan biologis.”
Makanan ultra-proses, yang rendah protein namun tinggi energi, sering menjadi pilihan utama masyarakat berpenghasilan rendah karena faktor harga. Padahal, makanan ini juga berdampak pada lingkungan karena emisi gas rumah kaca lebih tinggi dibanding makanan nabati utuh. Sebaliknya, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan yang kaya protein alami tidak menyebabkan konsumsi berlebihan karena kandungan seratnya yang mengenyangkan.
Profesor Raubenheimer menekankan bahwa memahami prioritas protein dalam diet manusia penting dalam merancang kebijakan pangan yang sehat dan berkelanjutan. “Mengurangi protein tanpa mengganti dengan makanan nabati nyata justru dapat meningkatkan konsumsi energi berlebih dan memperburuk dampak lingkungan,” ujarnya.
Selain penelitian tentang kecoa, Raubenheimer juga meninjau perilaku primata liar yang menyesuaikan asupan protein mereka berdasarkan fluktuasi ketersediaan makanan di alam. Temuan ini menjadi dasar bagi pemahaman bagaimana manusia bisa belajar dari alam untuk menyeimbangkan pola makan mereka sendiri.
Profesor Raubenheimer merupakan pemegang kursi Leonard P. Ullmann dalam Ekologi Nutrisi di Universitas Sydney. Ia telah menerbitkan lebih dari 300 makalah ilmiah dan beberapa buku, termasuk Eat Like the Animals (2020), yang mengkaji hubungan antara perilaku makan hewan dan manusia.
Studi ini didanai oleh Dewan Penelitian Australia (ARC), Dewan Penelitian Kesehatan dan Medis Nasional Australia (NHMRC), serta Asosiasi Daging dan Peternakan Australia. Hasil penelitian ini dipresentasikan dalam pidato kunci di Simposium Nasional 2024 Akademi Sains Australia, bertema Masa Depan Pangan: Memelihara Sebuah Bangsa.
Artikel ini sudah terbit dalam Bahasa Inggris pada tanggal 18 Juni 2024 di 360info.org.(*/ub)





