UPDATEBALI.com, JAKARTA – Indonesia tengah berada di persimpangan kritis dalam memanfaatkan bonus demografi, kesempatan langka di mana jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding usia muda dan tua. Namun, peluang ini terancam oleh sejumlah masalah struktural dalam sektor ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Menurut ekonom Indonesia, Ahmad Heri Firdaus, Indonesia mengalami deindustrialisasi awal. Kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menurun dari 27,7 persen pada tahun 2000 menjadi 19,8 persen pada kuartal kedua 2020. Penurunan ini menghambat kemampuan negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
“Bonus demografi akan optimal jika produktivitas tenaga kerja meningkat, ekonomi dieksplorasi secara maksimal, dan daya saing bangsa diperkuat,” kata Werry Darta Taifur, profesor ekonomi Universitas Andalas.
Data menunjukkan, usia kerja penduduk Indonesia akan mencapai puncaknya pada 2020-2030. Namun, distribusi peluang ini tidak merata di seluruh provinsi. Provinsi di luar Jawa, terutama di wilayah timur Indonesia, menghadapi risiko kehilangan manfaat dari bonus demografi karena tingginya angka migrasi keluar dan tingkat kesuburan yang masih tinggi.
Sebaliknya, provinsi-provinsi di Pulau Jawa menikmati periode bonus demografi lebih panjang karena pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang terkonsentrasi di wilayah ini. Kondisi tersebut berpotensi memperlebar ketimpangan pembangunan antarprovinsi jika tidak ada intervensi pemerintah.
Selain faktor demografi, kualitas sumber daya manusia menjadi kunci. Pendidikan rata-rata penduduk usia 25 tahun ke atas hanya mencapai 8,54 tahun, setara sekolah menengah pertama. Sementara kesehatan juga menjadi tantangan, dengan lebih dari 25 persen anak di bawah lima tahun mengalami stunting, yang berdampak pada produktivitas di masa dewasa.
Tingkat pengangguran secara nasional memang turun di bawah 6 persen, namun banyak penduduk usia produktif bekerja dengan jam lebih sedikit dari yang diinginkan, atau setengah menganggur. Ditambah ancaman krisis air dan energi, semua faktor ini bisa menghambat pemanfaatan bonus demografi.
Struktur ekonomi Indonesia juga menjadi hambatan. Sektor manufaktur, yang biasanya bernilai tambah tinggi, menurun, sementara ekspor didominasi komoditas primer dan barang setengah jadi. Tanpa pengembangan sektor industri bernilai tinggi dan pemusatan kegiatan ekonomi di luar Jawa, Indonesia berisiko tetap terjebak sebagai negara berpenghasilan menengah.
Profesor Werry Darta Taifur menekankan perlunya perubahan kebijakan ekonomi dan pembangunan sumber daya manusia, termasuk program keluarga berencana di wilayah timur, agar peluang bonus demografi dapat dimaksimalkan dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan tercapai.
Artikel ini pertama kali dipublikasikan 21 November 2022 tanggal di bawah lisensi Creative Commons oleh 360info™.





