HRCON 2026 Dorong SDM Hospitality Bali Siap Hadapi Era AI Tanpa Kehilangan Sisi Kemanusiaan

0
115
Mengusung tema “Human Capital for the Next Era of Hospitality: Humanizing the Digital Future. Embracing the Entrepreneurial Mindset”, HRCON 2026 menekankan pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan kapasitas manusia.
Mengusung tema “Human Capital for the Next Era of Hospitality: Humanizing the Digital Future. Embracing the Entrepreneurial Mindset”, HRCON 2026 menekankan pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan kapasitas manusia. Sumber foto: Den/Updatebali

UPDATEBALI.com, MANGUPURA – Human Resources Convention (HRCON) 2026 kembali digelar dengan mengangkat isu kesiapan sumber daya manusia (SDM) industri hospitality menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Memasuki pelaksanaan tahun kesembilan sejak pertama kali digelar pada 2017, kegiatan ini diikuti sekitar 300 peserta dari kalangan praktisi Human Resources (HR) hospitality dari berbagai daerah di Indonesia.

Mengusung tema “Human Capital for the Next Era of Hospitality: Humanizing the Digital Future. Embracing the Entrepreneurial Mindset”, HRCON 2026 menekankan pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan kapasitas manusia.

Kegiatan diawali dengan opening act bertajuk “Suara yang Menyalakan Masa Depan”. Para panitia menyampaikan berbagai suara dan pesan mengenai perubahan, tantangan talenta, perkembangan teknologi, serta pentingnya mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dalam proses transformasi.

Ketua Human Resources Association (HRA) Bali, Vira Risnayani, mengatakan HRCON tahun ini menjadi ruang untuk menyatukan visi dan langkah para praktisi HR dalam menghadapi perubahan yang semakin cepat.

“Hari ini kita memiliki kegiatan yang sudah kita jalankan selama 9 tahun berturut-turut. Mulai dari tahun 2017. Tahun ini acara kita laksanakan dan dihadiri oleh 300 tebif peserta dari Human Resources Hospitality seluruh Indonesia,” kata Vira pada Sabtu 15 Agustus 2026.

Menurutnya, peserta HRCON 2026 tidak hanya berasal dari Bali, tetapi juga sejumlah daerah seperti Jakarta, Surabaya, Lombok, Balikpapan dan berbagai wilayah lainnya.

“Dari Bali, Jakarta, Surabaya, Lombok, Balikpapan, dan juga dari berbagai kota yang ada di Pulau Bali Tercinta ini. Tahun ini kita memiliki tema Humanizing Digital Era. Dan kita ingin memastikan bahwa Human Resources adalah orang yang terdepan yang membawa potensi kita ke level berikutnya,” ujarnya.

Vira menilai industri hospitality memiliki karakter yang berbeda dibandingkan bidang lain karena aspek manusia masih menjadi kekuatan utama dalam memberikan pelayanan.

“Di Hospitality Industry tentunya kita tahu bahwa sebagai human being, kita memiliki kekuatan untuk memiliki rasa, memiliki asa, dan memiliki karakter yang tidak akan tergantikan dengan AI. Nah disinilah kita semua berkumpul dan kita semua ingin menyatukan visi serta menyatukan langkah ke depan,” katanya.

Ia mengatakan tantangan terbesar bukan sekadar menggunakan teknologi AI, melainkan bagaimana SDM mampu memahami, mengadaptasi, sekaligus mengkritisi teknologi tersebut agar menghasilkan manfaat yang nyata.

“Disinilah kita butuh kepekaan. Kepekaan dalam menyikapi teknologi yang masuk, kepekaan dalam membimbing pengguna AI, dan kepekaan juga secara kritis menantang AI untuk kita bisa menggunakan hasil atau output sehingga menjadi outcome yang lebih bermanfaat. Bukan sekedar output yang mentah,” jelas Vira.

Baca Juga:  Akhiri Masa Jabatan, Bupati Buleleng Ucapkan Terimakasih dan Terus Tekankan Integritas pada Seluruh Jajaran

Menurut dia, kesiapan menghadapi era AI merupakan sesuatu yang tidak dapat ditunda. Karena itu, HRCON 2026 menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang untuk memberikan perspektif sekaligus perangkat yang dapat diterapkan peserta di tempat kerja.

“Jadi kalau mau ditanya siap atau enggak, ya mau enggak mau harus siap. Berbagai tools atau berbagai solusi kita coba untuk berikan kepada audiens hari ini. Kita memiliki berbagai framework yang nanti akan ditawarkan oleh para pembicara,” ungkapnya.

Konsep HRCON 2026 juga diarahkan agar peserta tidak hanya memperoleh wawasan, tetapi dapat membawa hasil pembelajaran tersebut ke lingkungan kerja masing-masing. Setiap sesi dirancang dengan interaksi dan mini workshop sehingga peserta dapat mengidentifikasi langkah konkret yang bisa dilakukan setelah kegiatan.

“Yang lebih spesifik untuk tahun ini, yang unik, yang berbeda adalah kita memastikan bahwa setiap output dari setiap ruangan atau setiap sesi adalah hasil yang bisa dibawa oleh para audiens,” kata Vira.

“Gak usah nunggu tahun depan, tapi besok, apa yang bisa saya lakukan. Karena kalau kita tidak berpikir untuk besok, berarti masa depan yang lebih jauh lagi akan susah terbayangkan. Jadi first things first, hari ini outputnya adalah setiap peserta akan pasti bisa pulang dan mendapatkan sebuah tools atau sebuah framework yang akan membantu mereka di tempat kerja,” sambungnya.

Terkait kompetensi yang dibutuhkan untuk mengintegrasikan AI di dunia kerja, Vira menekankan pentingnya memperkuat keterampilan yang melekat pada manusia, terutama kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif dan rasa ingin tahu.

“Untuk integrasi AI, kualifikasi itu sebetulnya adalah critical thinking. Jadi kita sampaikan di sini adalah skill kemanusiaan yang harus lebih ditingkatkan. Jadi dalam hal ini, kalau kita bisa menggunakan alat AI, bukan berarti kita bisa memaknai,” tuturnya.

“Jadi kemampuan untuk bisa memaknai AI itu adalah kemampuan lebih utama. Jadi critical thinking, kemudian creative thinking, dan kemudian curiosity atau keingin tahuan,” tambah Vira.

Pada sesi utama, Senior Global Advisor ESQ Group, Rina Sarif, menegaskan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat yang memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya. Melalui materi “From Identity to Impact: Winning the AI Era Through Purpose & Human Potential”, peserta diajak melihat kembali pentingnya identitas, purpose, karakter dan potensi manusia sebagai fondasi menghadapi era AI.

Baca Juga:  HUT ke-23 Desa Kutuh, Bupati Adi Arnawa Komit Dukung Pengembangan Pariwisata

Pembahasan kemudian berkembang pada aspek kepemimpinan dan pola pikir kewirausahaan. Gemini Aryanto, M.Si., GPHR, Group Chief People & Culture Officer Kopi Kenangan, membawakan materi “Entrepreneurial Leadership Mindset in Service Industry” yang menyoroti pentingnya ownership, agility, keberanian mengambil keputusan, inovasi dan business awareness dalam kepemimpinan industri jasa.

Sementara itu, Panel “From Mindset to Workforce Readiness: Building Talent for the Next Era”, mempertemukan perspektif corporate, education, dan realitas hospitality Bali. Bersama Drs. I Wayan E. Ginastra, Dwi Sunu Widyo Pebruanto, S.Pd., M.Ed., Ph.D., dengan Peggy Putri sebagai Session Host, Di tengah disrupsi yang berlangsung secara berkelanjutan, kemampuan SDM untuk beradaptasi dan menciptakan nilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan organisasi.

HRCON 2026 juga menghadirkan dua strategic panel. Panel pertama bertajuk “From Mindset to Workforce Readiness: Building Talent for the Next Era” yang mempertemukan perspektif dunia korporasi, pendidikan dan industri hospitality Bali.

Panel kedua, “Create Clarity, Reach for Impact”, dipandu oleh Bambang Yapri, M.Pd., PCC, bersama Wiwik Wahyuni, Dr. Ni Made Ayu Sulasmini, S.Pd., M.Pd., CHT., CHE., CTE., dan Flavia Sungkit. Sesi ini membawa peserta pada satu kualitas kepemimpinan yang semakin penting di tengah perubahan: clarity — kejelasan yang lahir dari purpose dan values, diperkuat oleh proses learn, unlearn, relearn, serta dibangun dari pemahaman diri melalui IKIGAI. Dalam dunia yang tidak selalu memberikan certainty, seorang pemimpin tetap dituntut untuk memberikan direction dan clarity.

Senior Director Human Capital Talent Culture and Transformation Danantara, Wiwik Wahyuni, menilai kegiatan seperti HRCON penting untuk memperkuat jejaring dan budaya belajar antarpelaku HR, khususnya di Bali.

“Ilmunya human capital itu tuh susah untuk just dibaca dari bukunya. Kita bukan orang production, bukan orang finance yang yaudah rumusnya seperti apa. We learn from each other dari sering-sering pengetahuan yang ada,” kata Wiwik.

Ia mendorong para praktisi HR untuk terus menjaga komunikasi dan membangun jaringan setelah konferensi berakhir. Menurutnya, forum semacam HRCON dapat menjadi awal terbentuknya sinergi ketika para praktisi menghadapi persoalan di lingkungan kerja masing-masing.

Baca Juga:  Pansus TRAP DPRD Bali Tegaskan Transparansi, Usut Dugaan Tukar Guling Mangrove di Serangan

“Di Bali kalau ini dilakukan terus pembelajarannya akan lebih cepat karena kan saya yakin it’s not going to stop from here. Di konferensi saja mereka akan punya synergy, punya network, kalau ada masalah saling berbagi ada saling membantu untuk menjadi lebih baik,” ujarnya.

Wiwik juga menekankan pentingnya dua hal bagi para praktisi HR, yakni tetap terhubung dan terus belajar. Hal tersebut dinilai semakin penting karena perubahan teknologi dan kebutuhan industri bergerak sangat cepat.

“Jadi kalau ada masalah saling berbagi, ada saling membantu untuk menjadi lebih baik. Maksudnya, satu tetap stay connected ya, ini penting banget untuk saling belajar. Yang kedua, continue to learn ya, karena perkembangan zaman ini cepat banget,” katanya.

Menurut Wiwik, posisi Bali sebagai destinasi hospitality memberikan tantangan sekaligus peluang tersendiri. Pengalaman wisatawan tidak hanya ditentukan oleh satu hotel atau satu perusahaan, melainkan terbentuk dari keseluruhan ekosistem pariwisata.

“Lucky di Bali sebenarnya karena the industry is hospitality dan menurut saya, customer journey itu gak bisa dilakukan oleh one perusahaan saja,” jelasnya.

“Karena seperti tadi saya bilang di dalam when customer, tamu-tamu tuh happy atau gak happy yang mereka pikirkan bukan hotelnya, bukan yang melayanin tapi adalah Bali,” imbuh Wiwik.

Karena itu, ia menilai kolaborasi antarstakeholder menjadi kunci untuk menjaga kualitas pelayanan dan pengalaman wisatawan di Bali.

“Jadi kalau kita secara ekosistem tinggal saling support dan juga berkembang bersama-sama, service yang diberikan bisa jadi gak bagus kan ya atau juga menjadi bagus kalau itu connection, sehingga mereka akan kembali lagi ke Bali. Perlu kolaborasi dan sinergi,” tegasnya.

Selain Main Stage, HRCON 2026 dilanjutkan dengan sesi networking serta sembilan concurrent sessions dalam dua round. Peserta dapat memilih sejumlah topik yang lebih praktis, mulai dari intrapreneurial mindset, IKIGAI dalam HR, financial wellbeing dan employee resilience, employee sebagai value creator, corporate health, human-centred employee experience, entrepreneurial mindset dalam HR, pengelolaan self-talk dan overthinking dalam leadership, BRAIN Framework untuk pengambilan keputusan, hingga kolaborasi dengan AI dengan tetap menjaga human potential.

Rangkaian kegiatan ditutup melalui Closing Reflection “Reflect Within, Impact Beyond”. Sesi tersebut mengajak peserta mengevaluasi kembali pembelajaran yang diperoleh serta menentukan komitmen yang dapat diterapkan setelah kembali ke lingkungan kerja.(den/updatebali)