spot_img
BerandaBaliHarmoni Alam dan Nyomiang Bhuta Kala, Tawur Agung Kesanga Jembrana Berlangsung Khidmat

Harmoni Alam dan Nyomiang Bhuta Kala, Tawur Agung Kesanga Jembrana Berlangsung Khidmat

UPDATEBALI.com, JEMBRANA – Puncak Upacara Tawur Agung Kesanga Kabupaten Jembrana dalam rangka menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 berlangsung khidmat di Catus Pata Jembrana, Rabu, 18 Maret 2026.

Prosesi sakral tahun ini istimewa karena dipimpin langsung oleh lima Sulinggih, yang memuput jalannya upacara untuk memohon harmonisasi alam semesta. Kelima Sulinggih tersebut adalah:

  • Ida Pedanda Gede Oka Darma Manuaba

  • Ida Shri Bhagawan Jaya Waringin

  • Ida Rsi Bhujangga Wisnawa Dharma Santika

  • Ida Pandita Mpu Nabe Rastra Guna Wibawa

  • Ida Sri Mpu Pande Istri Galuh Santika Putri

Ketua Panitia Tawur Kesanga Jembrana, A.A.B. Hendra Sugihantara Putra, menjelaskan bahwa kehadiran lima Sulinggih ini sejalan dengan pelaksanaan Caru Manca Kelud Jangkep yang disertai lima bebangkit.

Baca Juga:  Dari Luka Batin hingga Tekanan Kerja, Hipnoterapi Bantu Pulihkan Emosi

“Upacara ini merupakan implementasi dari sastra Agastya Parwa, sebagai upaya nyomiang bhuta kala (menetralisir kekuatan negatif) dan membayar hutang hidup kepada alam semesta agar tercapai kesejahteraan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit sebelum memasuki Catur Brata Panyepian,” ujarnya.

Rangkaian Hari Suci Nyepi sudah dimulai dengan pelaksanaan Melasti di pesisir pantai. Setelah Tawur Agung di Catus Pata selesai, masyarakat akan melanjutkan dengan upacara Pengerupukan di masing-masing rumah atau banjar untuk meredam aura negatif.

Upacara yang dihadiri oleh Bupati, Wakil Bupati, Ketua TP PKK, jajaran Forkopimda, dan tokoh umat ini bertujuan untuk “membayar hutang hidup” kepada alam semesta sebelum memasuki masa hening Catur Brata Panyepian.

Baca Juga:  DJP Bali dan Pemkab Jembrana Bersinergi, Bentuk Tim Optimalisasi Pajak Pusat dan Daerah

“Puncaknya, pada Kamis, 19 Maret 2026, kita akan melaksanakan Catur Brata Panyepian, yaitu Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan, sebagai pengendalian diri total selama 24 jam,” tambah Hendra.

Senada, Ketua PHDI Jembrana, I Wayan Windra, menekankan bahwa inti dari Tawur Agung adalah proses Nyomia, yaitu mensterilkan segala bentuk kekotoran dan penyakit.

“Segala bencana kita mohonkan agar dinetralisir agar Bhuta Ya menjadi Dewa Ya. Kita ingin memulai Tahun Baru Saka 1948 dengan kondisi bersih, indah, dan damai,” ungkapnya.

Baca Juga:  Lindungi Pekerja migran, Pemkab Jembrana jalin  MoU dengan BP2MI

Di tengah suasana religius, pesan penting juga disampaikan terkait toleransi. Mengingat Nyepi tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadan, masyarakat diajak memperkuat moderasi beragama.

“Momentum ini menjadi wadah introspeksi untuk meningkatkan persaudaraan menuju Jembrana yang Maju, Harmoni, dan Bermartabat, melalui pembangunan Manusia, Alam, dan Budaya yang utama,” tutup Hendra.

Setelah rangkaian di Catus Pata usai, masyarakat melanjutkan dengan Pengerupukan di banjar masing-masing, sebelum memasuki pengendalian diri total melalui Catur Brata Panyepian pada Kamis, 19 Maret 2026.(yud/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments