Gubernur Koster Luncurkan 11 Bus Listrik Trans Sarbagita dan 6 Charging Station Hibah Korea

0
13
Gubernur Koster Luncurkan 11 Bus Listrik Trans Sarbagita dan 6 Charging Station Hibah Korea
Gubernur Koster Luncurkan 11 Bus Listrik Trans Sarbagita dan 6 Charging Station Hibah Korea. Sumber Foto : Humas Pemprov Bali / Updatebali

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster meluncurkan 11 unit bus listrik Trans Sarbagita beserta enam unit infrastruktur pengisian daya atau charging station hibah Proyek Bali E-Mobility di Lapangan Timur, Niti Mandala Renon, Kamis, 22 Oktober 2026.

Peluncuran ini menjadi langkah Pemerintah Provinsi Bali dalam mempercepat penggunaan energi bersih, khususnya di sektor transportasi.

Koster mengatakan, kebijakan energi bersih di Bali diterapkan dari hulu hingga hilir. Pada sektor hulu, Pemprov Bali mendorong pengurangan penggunaan energi fosil, seperti batu bara dan solar, serta mempercepat pengembangan energi baru terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Kebijakan tersebut mengacu pada Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih. Upaya pengembangan energi surya juga mendapat dukungan pemerintah pusat melalui alokasi kapasitas sebesar 1.000 megawatt untuk wilayah Jembrana dan Gilimanuk. Saat ini, proses perizinan masih berjalan dan pengembangannya diharapkan mulai dilaksanakan pada 2027.

Sementara di sektor hilir, Pemprov Bali mempercepat penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 48 Tahun 2019 tentang Kendaraan Listrik Berbasis Baterai.

Baca Juga:  Koster Tetapkan Lima Kawasan Rendah Emisi di Bali, Dorong Pariwisata Berkualitas dan Berkelanjutan

Koster mengakui implementasi kebijakan tersebut sempat terkendala pandemi COVID-19. Namun, pada periode kedua kepemimpinannya, ia menegaskan komitmen untuk mempercepat peralihan menuju transportasi ramah lingkungan.

“Hasil studinya di Bali 90 persen lebih polusi udaranya bersumber dari pembangkit listrik dan transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil. Oleh sebab itu kebijakan ini kita percepat,” kata Koster.

Melalui Proyek Bali E-Mobility, Pemerintah Republik Korea melalui Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas serta Global Green Growth Institute (GGGI) memberikan hibah berupa 11 unit bus listrik dan enam unit infrastruktur pengisian daya kepada Pemprov Bali.

Bus listrik yang dihibahkan telah memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Pembuatan bodi bus dilakukan di Indonesia, sehingga proyek ini turut melibatkan kemampuan industri dalam negeri.

Koster menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Republik Korea atas dukungan terhadap pengembangan transportasi ramah lingkungan di Bali. Ia juga berterima kasih kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas yang telah menunjuk Bali sebagai penerima manfaat sekaligus lokasi percontohan kerja sama tersebut.

Baca Juga:  Akademisi Apresiasi Perjuangan Gubernur Koster Memperdakan Haluan Pembangunan Masa Depan Bali

Menurut Koster, desain dan warna bus juga disesuaikan dengan identitas budaya Bali. Kombinasi warna hitam, merah, dan putih dipilih sebagai lambang Tri Datu, yang lekat dengan nilai-nilai budaya masyarakat Bali.

“Desain dan warnanya pun kami yang mengarahkan, kombinasi warna hitam, merah dan putih sebagai lambang Tri Datu sebagai simbol yang lekat dengan nilai budaya Bali. Ayo rame-rame kita beralih menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai,” ujar Koster.

Ia menambahkan, penjualan mobil listrik di Bali terus menunjukkan peningkatan. Meski demikian, penggunaan kendaraan listrik roda dua masih perlu didorong lebih jauh.

Koster mengajak masyarakat beralih menggunakan kendaraan listrik karena dinilai lebih hemat, efisien, tidak bising, dan tidak menghasilkan emisi gas buang dari kendaraan.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan, Proyek Bali E-Mobility merupakan bukti kolaborasi antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Republik Korea, dan GGGI dalam mendorong transisi dari bahan bakar fosil menuju energi bersih.

Menurutnya, Bali menjadi lokasi percontohan yang diharapkan memberikan pembelajaran bagi pengembangan kebijakan serupa di tingkat nasional.

Rachmat juga mengapresiasi komitmen Pemprov Bali dalam mendorong pembangunan berkelanjutan melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Ia menilai upaya menjaga kebersihan lingkungan tidak cukup hanya melalui pengelolaan sampah rumah tangga, tetapi juga harus mencakup pengurangan pencemaran dari pembangkit listrik, kendaraan bermotor, dan industri yang masih menggunakan energi fosil.

Baca Juga:  Cetak Sejarah, Pebalap Astra Honda Rajai Asia

Ia turut menyoroti relevansi filosofi Tri Hita Karana, yang mengajarkan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

“Saya sejak muda saya sudah kagum dengan kearifan lokal Tri Hita Karana di Bali, yaitu bagaimana masyarakat membina hubungan yang baik dan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dan manusia, serta manusia dengan alam,” ungkap Rachmat.

Ia berharap Bali dapat menjadi model pembangunan berkelanjutan, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga dunia. Integrasi kearifan lokal, pemanfaatan energi bersih, dan pelestarian lingkungan dinilai menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembangunan yang selaras dengan alam.

Peluncuran bus listrik Trans Sarbagita dan fasilitas pengisian daya ini diharapkan memperkuat upaya Bali mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus mendorong masyarakat menggunakan transportasi yang lebih ramah lingkungan. (yud/updatebali)