UPDATEBALI.com, DENPASAR — Gema sejarah dan spiritualitas Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, menggema kuat di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Denpasar, Sabtu, 11 Juli 2025, saat Sekaa Gong Wira Agra Kusuma tampil mewakili Kabupaten Badung dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-XLVII tahun 2025.
Bersanding satu panggung dengan Sekaa Gong duta Kabupaten Buleleng, para seniman muda dari Blahkiuh memukau ribuan penonton lewat sajian seni bertema sejarah desa mereka.
Dipersembahkan dalam bentuk tiga garapan seni monumental, pementasan ini tak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan spiritual dan historis yang mendalam.
I Gusti Made Darma Putra, selaku konseptor, menjelaskan bahwa ketiga garapan tersebut terdiri dari Tabuh Nem Lelambatan Periring Kreasi “Giri Kusuma”, Tari Kreasi Kekebyaran “Kakundur”, dan Fragmentari “Sabda Prawara”—yang seluruhnya terinspirasi dari perjalanan sejarah Desa Blahkiuh.
“Ketiga karya ini kami gagas dari nilai-nilai sejarah, spiritualitas, dan kebudayaan Desa Blahkiuh—mulai dari jejak Kerajaan Singasari yang diyakini sebagai cikal bakal desa, keberadaan Pura Luhur Giri Kusuma, hingga kekuatan tradisi Tari Cak Blahkiuh,” ungkap Darma Putra.

Penampilan dibuka dengan Tabuh Giri Kusuma, yang menjadi refleksi syukur atas anugerah kehidupan dan harmoni semesta. Dengan alunan melodis dan ritme khas Lelambatan, tabuh ini menjadi simbol spiritual lokal yang mengalir dari Pura Luhur Giri Kusuma menuju cita-cita kesejahteraan bersama.
Dilanjutkan dengan Tari Kreasi Kekebyaran “Kakundur”, yang memvisualisasikan pancaran budaya Desa Blahkiuh melalui kekuatan vokabuler gerak tari Cak.
Karya ini menjadi persembahan bagi Hyang Ratu Panji yang berstana di Pura Luhur Giri Kusuma, menggambarkan Blahkiuh sebagai benteng spiritual yang bersinar di tengah arus zaman.
“‘Kakundur’ bukan sekadar karya tari. Ini adalah pusaka gerak yang menyatu dengan napas semesta. Sebuah tarian yang menari dalam gema waktu dan menggetarkan bumi,” jelas Darma Putra.
Penampilan ditutup dengan Fragmentari “Sabda Prawara”, yang mengangkat kisah epik dan reflektif tentang kekuasaan, cinta, dan spiritualitas. Menggambarkan konflik batin di persimpangan Dharma dan ambisi politik, karya ini menyuarakan bagaimana suara sabda di ujung lidah seorang raja dapat mengubah takdir dan membakar keyakinan.
Dengan narasi kuat dan koreografi dramatis, “Sabda Prawara” berhasil membawa penonton menyelami pusaran emosi antara kekuatan dan pengorbanan.
Sebanyak 32 seniman muda dilibatkan dalam pertunjukan ini, terdiri dari penabuh dan penari yang secara totalitas mempersembahkan karya terbaik mereka untuk mengangkat jati diri desa.
Melalui pertunjukan ini, Desa Blahkiuh tak hanya menyuarakan sejarahnya, tetapi juga mempertegas eksistensinya dalam lanskap budaya Bali yang terus bergerak maju.(yud/ub)





