Festival Loloan Jaman Lame, Lorong Waktu yang Menghidupkan Kembali Kejayaan Budaya Jembrana

0
219
Bupati Kembang dan Wabup Ipat mendukung penuh Festival Loloan Jaman Lame sebagai upaya melestarikan budaya unik dan sejarah panjang masyarakat Loloan di Jembrana.
Bupati Kembang dan Wabup Ipat mendukung penuh Festival Loloan Jaman Lame sebagai upaya melestarikan budaya unik dan sejarah panjang masyarakat Loloan di Jembrana. Sumber foto : Humas Jembrana

UPDATEBALI.com, JEMBRANA – Suasana masa lalu kembali hidup di tepian Sungai Ijo Gading.

Festival Loloan Jaman Lame kembali digelar meriah di Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana, menghadirkan nuansa nostalgia yang membawa ribuan pengunjung menyelami kehidupan masyarakat Loloan tempo dulu.

Dengan mengusung tema “Merajut Tenun Kebangsaan”, festival yang memasuki tahun keenam ini menyulap kawasan Loloan menjadi lorong waktu penuh kenangan.

Lampu petromaks, dekorasi klasik, dan alunan musik tradisional Melayu menciptakan atmosfer hangat, seolah membawa pengunjung ke masa lampau.

Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, yang hadir bersama Wakil Bupati I Gede Ngurah Patriana Krisna serta jajaran Forkopimda, menyebut festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga perjalanan sejarah dan jati diri masyarakat Loloan.

Baca Juga:  Khidmat, Upacara Peringatan Kemerdekaan RI ke-76 di Puspem Badung

“Ini bukan hanya festival, melainkan perjalanan panjang sejarah Loloan. Masyarakatnya sudah hidup dan berkembang selama ratusan tahun di Jembrana,” ujar Bupati Kembang.

Ia menambahkan, di tengah dominasi budaya Hindu Bali, Loloan menjadi bagian yang unik karena memiliki corak budaya Melayu dan Islam yang kuat—hasil akulturasi antara etnis Bugis, Melayu, dan Bali.

“Mulai dari bentuk rumah, kuliner, bahasa hingga musiknya, semuanya mencerminkan perpaduan budaya Melayu dan Bali yang sangat indah,” imbuhnya.

Bupati Kembang juga mengapresiasi panitia yang konsisten menggelar Festival Loloan Jaman Lame hingga edisi keenam. Menurutnya, acara seperti ini menjadi sarana penting untuk menjaga warisan leluhur agar tidak pudar di tengah arus globalisasi.

Baca Juga:  Serangkaian Pujawali Pura Niti Praja, Bupati dan Pejabat Gelar Pawintenan Saraswati

“Budaya adalah kekayaan sejati yang diwariskan turun-temurun. Jangan sampai kita kehilangan jati diri,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Rivan Hidayat menjelaskan bahwa tema Merajut Tenun Kebangsaan dipilih sebagai simbol kebersamaan dan keharmonisan dalam keberagaman.

“Loloan bukan hanya kaya budaya, tapi juga mengajarkan nilai hidup harmonis di tengah perbedaan,” ucapnya.

Rivan juga menyoroti salah satu tradisi khas masyarakat Loloan, yaitu Ambur Salim — tradisi menebarkan beras kuning dan uang logam sebagai simbol berbagi keselamatan.

Baca Juga:  Peringatan Hari Bakti PU ke-79 di Bali, Momentum Sinergi untuk Infrastruktur dan Ketahanan Pangan

“Ambur berarti menebar, sedangkan Salim berarti keselamatan. Tradisi ini mengajarkan pentingnya berbagi dan menjaga kerukunan,” jelasnya.

Ia menutup dengan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Jembrana yang telah memberikan dukungan penuh terhadap festival budaya ini, termasuk melalui bantuan anggaran sebesar Rp150 juta.

“Dukungan pemerintah menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan festival ini,” tutup Rivan.

Festival yang berlangsung selama beberapa hari ini menjadi ruang pertemuan budaya dan sejarah, memperkuat identitas masyarakat Loloan sebagai bagian penting dari mozaik keberagaman di Kabupaten Jembrana.(yud/ub)