UPDATEBALI.com, JEMBRANA – Dinas Peternakan dan Pangan (Distan) Jembrana telah membentuk Tim Siaga Rabies (Tisira) dengan dukungan dari AIHSP (Australia Indonesia Health Security Partner) guna mengatasi kasus gigitan hewan penular rabies (HPR).
Tim Siaga Rabies ini dibentuk dalam acara bimbingan teknis (Bimtek) dengan tema “Berjuang Bersama Menuju Jembrana Bebas Rabies” yang diselenggarakan di Gedung Kesenian Ir. Soekarno pada hari Senin, 17 Juli 2023.
Bimtek ini dihadiri oleh tiga kecamatan, yaitu Pekutatan, Negara, dan Kecamatan Jembrana, dan melibatkan berbagai elemen masyarakat, seperti tokoh masyarakat, tokoh perempuan PKK, tokoh adat, dan kepala desa.
“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membantu Dinas Pertanian Bidang Kesehatan Hewan dalam penanganan kasus rabies,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Wayan Sutama, pada hari Senin, 17 Juli 2023.
Ia menjelaskan bahwa partisipasi masyarakat dalam membentuk Tim Siaga Rabies (Tisira) merupakan langkah penting untuk menjaga wilayah dari wabah rabies. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengaktifkan peran serta masyarakat desa dalam membantu penanganan rabies.
“Kami ingin agar masyarakat lebih peduli dan terlibat aktif dalam melindungi wilayah mereka dan tetangga sekitarnya dari ancaman penyakit rabies. Tim Tisira diharapkan dapat membantu korban gigitan dalam mencari fasilitas kesehatan (faskes) dan membantu tim vaksinasi dalam mendata jumlah populasi anjing di Jembrana,” jelasnya.
Kegiatan bimbingan teknis ini tidak hanya terbatas pada tiga kecamatan tersebut. Ia juga menyatakan bahwa kegiatan serupa akan dilanjutkan pada tanggal 20 dan 21 Juli di dua kecamatan lainnya, yaitu kecamatan Mendoyo dan Melaya.
Dengan dibentuknya Tim Siaga Rabies (Tisira) dan melibatkan berbagai elemen masyarakat, diharapkan pelayanan veteriner pemerintah dapat diperkuat dan dipadukan di semua tingkat.
Hal ini akan memungkinkan pemerintah untuk lebih baik mengelola ancaman penyakit menular, termasuk wabah rabies, serta memberikan respons cepat dan terintegrasi terhadap keadaan darurat kesehatan hewan dan masyarakat.
Selain itu, upaya akan dilakukan untuk memperkuat sistem informasi kesehatan hewan dan sistem surveilans kesehatan masyarakat. Dengan demikian, informasi terkait kesehatan hewan dan masyarakat dapat digunakan secara efektif dalam pengambilan keputusan berbasis bukti.
“Dengan kinerja kelembagaan dan individu yang lebih baik dalam hal kepemimpinan dan manajemen, diharapkan Jembrana akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kesehatan di masa mendatang,” tambahnya.
Melalui upaya kolektif ini, diharapkan Jembrana dapat menjadi contoh dalam menekan kasus rabies dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan hewan serta mencegah penyebaran penyakit yang berbahaya bagi kesehatan manusia. (dik/ub)





