Dari Warisan Budaya ke Industri Kreatif, Putri Koster Dorong Endek Jembrana Semakin Berdaya Saing

0
216
Putri Koster saat menjadi narasumber talkshow di Radio Dirgantara Jembrana mengajak masyarakat untuk mendukung tenun endek lokal agar semakin berkembang, bernilai ekonomi, dan tetap menjaga kekhasan budaya Bali.
Putri Koster saat menjadi narasumber talkshow di Radio Dirgantara Jembrana mengajak masyarakat untuk mendukung tenun endek lokal agar semakin berkembang, bernilai ekonomi, dan tetap menjaga kekhasan budaya Bali. Sumber foto : Humas Pemprov Bali/Updatebali

UPDATEBALI.com, JEMBRANA – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Putri Koster, mendorong penguatan ekosistem kain tenun tradisional endek dengan mengintegrasikan tiga aspek utama, yakni seni, bisnis, dan perlindungan hukum.

Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai ekonomi endek sekaligus menjamin keberlanjutan perajin dan melindungi kekhasan motif yang diwariskan secara turun-temurun.

Hal itu disampaikan Putri Koster saat mengisi talkshow di Radio Dirgantara Jembrana, Kamis, 27 Agustus 2026, dalam rangkaian Dekranasda Bali Fashion Road Show.

Dalam kesempatan tersebut, ia didampingi Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali, Gede Agus Astapa.

Menurut Putri Koster, salah satu tantangan yang dihadapi industri tenun tradisional saat ini adalah semakin berkurangnya jumlah penenun tanpa diikuti regenerasi yang memadai.

Kondisi tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari persoalan nilai ekonomi yang diterima penenun dibandingkan dengan proses dan kualitas karya yang mereka hasilkan.

“Secara global, penenunan kain tradisional endek Bali saat ini mengalami kesulitan penerus yang mau mengerjakan. Tenaga penenun saat ini semakin menipis tanpa ada generasi pengganti. Mungkin karena karya dan harga tidak sesuai,” ujarnya.

Baca Juga:  Program Bergerak dan Berbagi Perkuat Sinergi PKK Bali dan Buleleng untuk Pemberdayaan Keluarga

Karena itu, ia menegaskan akan terus mengawal perkembangan kain tenun tradisional endek Bali, termasuk mendorong terciptanya keseimbangan antara kualitas produk dan harga jual.

“Selain kualitas, saya akan terus mengawal penyesuaian harga agar kain yang dihasilkan seimbang antara kualitas dan harga,” tegasnya.

Jembrana menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian karena merupakan sentra penghasil kain tenun tradisional dengan motif khas. Kekhasan tersebut harus dijaga agar pengembangan desain dan industri fesyen tidak menghilangkan identitas yang melekat pada karya masing-masing daerah.

Untuk itu, perlindungan hukum terhadap motif tradisional maupun karya yang dikembangkan secara kontemporer menjadi bagian penting dalam penguatan ekosistem wastra Bali.

Menurut Putri Koster, pemerintah harus hadir melalui politik kebudayaan yang tidak hanya menjaga warisan leluhur tetap lestari, tetapi juga memberikan ruang agar karya tersebut berkembang dan memiliki nilai ekonomi.

“Kain itu bisa memberikan dampak estetika yang indah dan juga dampak pada perputaran ekonomi. Dengan desain yang kontinu dan konsisten, saya yakin akan membangkitkan kemampuan kita semua dalam melindungi karya cipta lokal agar mampu bersaing di kancah nasional dan internasional,” katanya.

Baca Juga:  Made Urip Ditunjuk Sebagai Ketua Tim Pemenangan Koster Giri dan Sanjaya-Dirga di Tabanan

Putri Koster menyebut upaya tersebut sebagai trilogi pengembangan fesyen yang mencakup seni, bisnis, dan perlindungan hukum.

Seni menjaga identitas dan nilai budaya, bisnis memastikan karya memberi manfaat ekonomi kepada perajin, sedangkan perlindungan hukum diperlukan untuk menjaga hak atas karya dan motif tradisional.

Di sisi lain, ia mendorong masyarakat untuk ikut memperkuat pasar kain tenun dengan menyerap produk yang dihasilkan perajin di daerah masing-masing. Perputaran ekonomi di tingkat lokal dinilai penting agar aktivitas menenun tetap memiliki prospek dan mampu menarik minat generasi berikutnya.

“Seraplah kain tenun yang masyarakat hasilkan sehingga warga yang ingin mencari kain tenun akan mendatangi sentra tenun di wilayahnya. Dengan demikian, tenun itu bisa bergerak melalui trilogi fashion show, yakni seni, bisnis, dan perlindungan hukum,” ungkapnya.

Ia menilai upaya mengangkat kembali endek mulai menunjukkan perkembangan. Kain tenun tradisional Bali semakin banyak digunakan dalam berbagai bentuk busana modern, baik oleh masyarakat Bali maupun kalangan dari luar daerah.

“Saya merasa perjalanan kami terengah-engah. Namun, karya tenun tradisional endek Bali saat ini semakin disukai oleh warga Bali. Bahkan, tidak sedikit wisatawan lokal dan pejabat dari luar Bali mulai melirik dan menggunakan pakaian berbahan endek Bali,” katanya.

Baca Juga:  Bunda Putri Koster Hadir Sebagai Narasumber dalam Dialog Interaktif Perempuan Bali

Melalui Dekranasda Bali Fashion Day, Dekranasda Bali Fashion Week, dan Dekranasda Bali Fashion Road Show, Dekranasda Bali berupaya mempertemukan kekuatan tradisi dengan kreativitas desainer dan kebutuhan pasar.

Pengembangan tersebut diarahkan agar endek tidak berhenti sebagai warisan budaya, tetapi berkembang menjadi bagian dari industri kreatif yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.

Sementara itu, Ketua KPID Bali Gede Agus Astapa menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga warisan budaya, termasuk motif khas kain tenun yang dimiliki masing-masing daerah.

“Sebagai warga Provinsi Bali, tentu tanpa aba-aba sekalipun kita memiliki kewajiban dan kesadaran untuk menjaga seni, tradisi, dan budaya Bali, termasuk memberikan ruang bagi perajin lokal untuk berkarya, dan kita gunakan hasilnya,” ujarnya.

Pesan mengenai penguatan ekosistem wastra Bali tersebut juga disampaikan Putri Koster saat mengisi talkshow di Radio Swara Bahana dalam rangkaian Dekranasda Bali Fashion Road Show di Jembrana.(yud/updatebali)