UPDATEBALI.com, DENPASAR — Penggunaan smartphone yang semakin masif di berbagai kalangan dinilai turut berdampak pada kesehatan mental masyarakat. Kondisi ini mendorong meningkatnya kebutuhan akan terapi alternatif, salah satunya hipnoterapi.
Ahli hipnoterapi, Quarina F. Maulana, mengungkapkan bahwa klien yang datang tidak hanya berasal dari generasi Z, tetapi juga mencakup kalangan milenial hingga usia yang lebih dewasa.
“Klien yang datang cukup beragam, tidak hanya Gen Z. Ada juga milenial dengan berbagai latar belakang masalah,” ujarnya saat diwawancara pada Sabtu 4 April 2026.
Ia menjelaskan, hipnoterapi bukan bertujuan untuk menyembuhkan secara langsung, melainkan membantu mengurangi gejala serta menggali akar permasalahan dari alam bawah sadar. Melalui proses tersebut, klien diharapkan mampu meregulasi emosi dengan lebih baik.
“Hipnoterapi itu bukan mengobati, tetapi membantu mengurangi gejala dan mengorek alam bawah sadar, sehingga klien bisa lebih memahami dan mengelola emosinya,” jelasnya.
Berbagai persoalan yang ditangani pun beragam, mulai dari luka batin masa kecil, rasa tidak percaya diri, tekanan pekerjaan, hingga keinginan untuk menurunkan berat badan. Menurutnya, banyak klien merasa terbantu karena dalam kondisi relaksasi mendalam atau trance, mereka lebih mudah terbuka.
“Dalam kondisi trance, seseorang berada di titik paling rileks sehingga lebih mudah menyampaikan hal-hal yang selama ini terpendam,” katanya.
Dalam praktiknya, Quarina menggunakan beberapa pendekatan, termasuk teknik konvensional dan metode Ericksonian. Teknik Ericksonian dinilai lebih fleksibel dan efisien karena dapat langsung diterapkan saat klien berada pada kondisi yang tepat.
“Kalau teknik konvensional biasanya membutuhkan waktu lebih panjang, sedangkan Ericksonian bisa lebih cepat karena langsung menyesuaikan kondisi klien saat itu,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa untuk kasus yang bersifat klinis, penanganan tetap perlu melibatkan tenaga medis profesional seperti psikiater. Hipnoterapi, kata dia, sebaiknya menjadi terapi pendamping.
“Untuk kasus klinis, tetap harus ada rujukan dari psikiater. Hipnoterapi lebih kepada membantu proses pemulihan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tekanan hidup modern yang tidak hanya berasal dari lingkungan keluarga, tetapi juga dari pekerjaan dan lingkungan sosial yang semakin kompleks.
“Di zaman sekarang, tekanan itu datang dari berbagai arah. Banyak yang merasa tidak sadar memiliki beban emosi, padahal itu sudah ada di dalam dirinya,” tambahnya.
Melihat kondisi tersebut, hipnoterapi dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu masyarakat memahami diri sendiri sekaligus menjaga kesehatan mental di tengah dinamika kehidupan modern.(den/ub)





