
UPDATEBALI.com, BULELENG – Pemanfaatan sumber daya alam lokal menjadi peluang strategis dalam mendorong lahirnya inovasi material ramah lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan.
Salah satu potensi yang dinilai menjanjikan adalah sabut kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki peluang untuk diolah menjadi bahan baku produk bernilai ekonomi, termasuk material konstruksi.
Berangkat dari potensi tersebut, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Buleleng menerima kunjungan kerja dan diskusi teknis dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Selasa, 3 November 2026, di Ruang Rapat Kepala BRIDA Kabupaten Buleleng. Pertemuan mengangkat tema “Potensi Pemanfaatan Serat Alam sebagai Bahan Baku Genteng Biomassa Ramah Lingkungan.”
Tim BRIN yang hadir terdiri atas Dr. Jajang Sutiawan, S.Hut., M.Si., Yeyen Nurhamiyah, S.Si., Ph.D., dan Mulya Supianto, S.Pd., M.Sc., Ph.D. Rombongan diterima Kepala BRIDA Kabupaten Buleleng, Ketut Suwarmawan, S.STP., M.M., didampingi Putu Angga Kristyawan, M.Ing., I Made Ardaka, M.Si., dan Ferdi Kurniawan.
Dalam pemaparannya, tim BRIN memperkenalkan teknologi HERBAL-ROOF (Genteng Biomassa Indonesia), yakni inovasi material atap berbasis biomassa yang memanfaatkan serat alam sebagai bahan komposit. Teknologi tersebut membuka peluang penggunaan berbagai sumber biomassa, seperti sabut kelapa, bambu, tandan kosong kelapa sawit, dan bahan alam lainnya sebagai alternatif material konstruksi yang lebih ramah lingkungan.
Berdasarkan materi yang dipaparkan, teknologi genteng biomassa BRIN telah mencapai tahap prototipe skala penuh, memenuhi standar SNI, dan siap memasuki tahap pilot manufacturing. Material ini memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya bobot lebih ringan, mampu meredam panas, lebih efisien dalam penggunaan material, serta berpotensi mengurangi beban struktur atap sehingga mendukung keselamatan bangunan, khususnya di wilayah rawan gempa.
Diskusi juga membahas potensi ketersediaan sabut kelapa di Kabupaten Buleleng, karakteristik bahan baku, proses pengolahan, formulasi material, hingga kebutuhan pengujian teknis. Beberapa aspek yang menjadi perhatian meliputi kekuatan mekanis, daya serap air, ketahanan terhadap cuaca dan api, stabilitas dimensi, serta kelayakan ekonomi dan dampak lingkungan dari produk yang akan dikembangkan.
Kepala BRIDA Kabupaten Buleleng, Ketut Suwarmawan, menegaskan bahwa hilirisasi inovasi material hijau perlu didorong dengan memanfaatkan potensi unggulan daerah.
“Buleleng memiliki peluang besar mengembangkan komoditas perkebunan dan hasil samping pertanian menjadi produk bernilai tambah melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan pelaku usaha,” ujarnya.
Menurutnya, potensi sabut kelapa dan bambu dapat dikembangkan menjadi material komposit serat alam yang memiliki nilai ekonomi. Pemanfaatan limbah perkebunan tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi persoalan limbah, tetapi juga membuka peluang usaha baru, memperkuat ekonomi sirkular, serta mendukung ketahanan bangunan dan perumahan.
Sementara itu, BRIDA Buleleng juga mendorong penjajakan pemanfaatan hasil riset Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN agar teknologi genteng biomassa dapat dikembangkan dan direplikasi secara bertahap melalui keterlibatan pelaku usaha lokal.
“Kami berharap hasil riset tidak berhenti pada tahap pengembangan teknologi, tetapi dapat berlanjut menjadi produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Suwarmawan.
Sebagai bagian dari kegiatan, rombongan mengunjungi Rumah Plastik Mandiri (RPM), perusahaan sosial, bank sampah induk, sekaligus pusat daur ulang sampah plastik di Kabupaten Buleleng yang didirikan oleh Putu Eka Darmawan.
Kunjungan dilanjutkan ke PT Balisynwood, UMKM asal Buleleng yang mengembangkan produk kayu sintetik ramah lingkungan berbahan dasar limbah pertanian, khususnya jerami dan sekam padi, yang dikelola oleh Direktur Operasional Gede Wikrama Putra Setya Adiyana.
Kunjungan ke kedua pelaku usaha tersebut menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung praktik pengolahan limbah dan pengembangan material alternatif di Buleleng. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi daerah tidak hanya bertumpu pada potensi sumber daya alam, tetapi juga pada kreativitas, teknologi, dan kemampuan pelaku usaha dalam menghasilkan produk bernilai tambah.
Melalui pertemuan dan kunjungan lapangan ini, terbangun komunikasi awal antara BRIN dan BRIDA Kabupaten Buleleng untuk menjajaki peluang kolaborasi riset, karakterisasi bahan baku, pengembangan prototipe, pemanfaatan fasilitas pengujian, hingga peluang hilirisasi produk. Ke depan, penjajakan tersebut diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui identifikasi sumber bahan baku, penyusunan formulasi material, serta pengujian kelayakan produk bersama calon mitra.
Sinergi tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi daerah.
Dengan mengoptimalkan potensi sabut kelapa, bambu, serta limbah pertanian dan perkebunan lainnya, Buleleng berpeluang mengembangkan industri material ramah lingkungan yang berdaya saing sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal bagi masyarakat.(adv/updatebali)


