UPDATEBALI.com, DENPASAR – Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA) resmi membuka ajang Bali Villa Connect (BVC) 2026 sebagai forum kolaborasi strategis bagi pelaku industri villa dan pariwisata di Bali.
Kegiatan yang digelar selama dua hari itu menghadirkan sekitar 40 exhibitor, 30 narasumber nasional maupun internasional, serta diikuti lebih dari 900 peserta dari berbagai sektor industri pendukung pariwisata.
Ketua BVRMA, Kadek Adnyana, mengatakan Bali Villa Connect 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat ekosistem industri villa di Bali agar lebih profesional, sehat, dan berkelanjutan.
Menurutnya, sejak resmi berdiri, BVRMA terus berupaya membangun ruang kolaborasi yang mempertemukan villa operator, pelaku villa rental dan management, agen perjalanan, penyedia teknologi hospitality, penyedia sistem property management system (PMS), hingga berbagai pelaku usaha penunjang lainnya.
“Pariwisata Bali tidak bisa dibangun sendiri-sendiri. Dibutuhkan sinergi pemerintah, asosiasi, investor, akademisi, masyarakat lokal, dan seluruh pelaku industri agar tercipta tata kelola pariwisata yang sehat dan berdaya saing global,” ujar Kadek Adnyana saat pembukaan acara di Bali Sunset Road Convention Center, Selasa 26 Mei 2026.
Ia menjelaskan, BVC 2026 juga menjadi ruang berbagi pengetahuan, memperluas jejaring bisnis, sekaligus menyatukan visi dalam membangun pariwisata Bali berbasis kualitas atau quality tourism.
Dalam kesempatan tersebut, BVRMA juga menggandeng institusi pendidikan sebagai langkah strategis menyiapkan sumber daya manusia yang relevan dengan kebutuhan industri villa. Salah satunya melalui rencana kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Udayana.
Menurut Kadek, selama ini kurikulum pendidikan pariwisata masih lebih banyak berorientasi pada sektor perhotelan, sementara pertumbuhan industri villa di Bali berkembang sangat pesat dan membutuhkan kompetensi yang lebih spesifik.
“Kami ingin membangun jembatan antara dunia pendidikan dan industri agar tercipta talenta pariwisata yang adaptif dan siap menghadapi kebutuhan global,” katanya.
Selain penguatan SDM, BVRMA juga mendorong lahirnya standarisasi industri pervillaan di Bali. Hingga saat ini, belum terdapat klasifikasi resmi villa berbintang yang dapat menjadi acuan kualitas layanan, segmentasi pasar, maupun kepastian investasi.
“Ini momentum untuk membangun fondasi industri villa Bali yang lebih tertata dan memiliki standar internasional,” ujarnya.
Kadek menyoroti sejumlah tantangan serius yang dihadapi industri akomodasi di Bali, mulai dari maraknya villa ilegal, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, persoalan pengelolaan limbah dan sampah, perang tarif tidak sehat, hingga isu keamanan destinasi.
Ia menegaskan pertumbuhan industri harus dikelola secara tertib agar masyarakat lokal tetap menjadi bagian utama dalam pembangunan pariwisata Bali.
“Jangan sampai masyarakat Bali hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri. Bali adalah golden goose pariwisata Indonesia. Jangan hanya mengambil telur emasnya, tetapi kita harus menjaga angsanya agar tetap hidup dan sehat untuk generasi mendatang,” tegasnya.
Mewakili Gubernur Bali, Staf Ahli Gubernur Bidang Permukiman dan Sarana Prasarana, Cok Bagus Pemayun, mengapresiasi penyelenggaraan BVC 2026 sebagai inisiatif strategis dalam memperkuat tata kelola usaha villa di Bali.
Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen menata sektor pariwisata berbasis budaya yang berkualitas dan bermartabat. Seluruh pelaku usaha akomodasi, termasuk villa, diwajibkan memenuhi seluruh persyaratan perizinan dan menaati regulasi yang berlaku.
“Setiap usaha pariwisata di Bali wajib mematuhi ketentuan hukum, menjaga lingkungan, menghormati budaya lokal, serta berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Ia juga menyoroti tingginya pertumbuhan ekonomi Bali sepanjang 2025 yang mencapai 5,82 persen, melampaui rata-rata nasional sebesar 5,11 persen. Sektor akomodasi dan penyediaan makanan-minuman disebut menjadi salah satu penyumbang utama pertumbuhan tersebut.
Namun demikian, ia mengingatkan pertumbuhan usaha villa harus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan tidak melanggar tata ruang.
“Usaha yang ramah lingkungan, hemat energi, bebas plastik sekali pakai, dan peduli komunitas lokal akan semakin dipercaya wisatawan dunia,” ujarnya.
BVC 2026 diharapkan menjadi langkah awal memperkuat ekosistem industri villa yang legal, transparan, profesional, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung terwujudnya visi pembangunan Bali Era Baru berbasis prinsip Nangun Sat Kerthi Loka Bali.(den/ub)





