UPDATEBALI.com, JAKARTA – Diagnosis gangguan hiperaktivitas defisit perhatian (ADHD) pada anak-anak selama ini dikenal sulit karena sering bergantung pada wawancara subjektif antara dokter, anak, dan pengasuh.
Kini, teknologi virtual reality (VR) yang dipadukan dengan kecerdasan buatan (AI) menawarkan cara baru untuk meningkatkan akurasi diagnosis.
Menurut Thjin Wiguna, profesor di Divisi Psikiatri Anak dan Remaja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, interaksi anak dalam wawancara tradisional sering kali dipengaruhi faktor subjektif. Orang tua yang ingin melindungi anak bisa memengaruhi respons, sementara anak mungkin canggung atau tidak menampilkan perilaku yang sebenarnya di lingkungan klinis.
“Diagnosis klinis ADHD pada anak-anak dan remaja dilakukan melalui observasi, serangkaian wawancara dengan anak dan pengasuh, serta – dalam beberapa kasus – tes kejiwaan yang berhubungan dengan otak,” kata Wiguna.
Untuk mengatasi tantangan ini, Universitas Indonesia bekerja sama dengan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo mengembangkan alat diagnostik berbasis VR dan machine learning. Alat ini menempatkan anak di ruang kelas virtual yang meniru situasi nyata, lengkap dengan gangguan suara dan visual. Anak-anak menjalani tugas seperti mengambil, melempar, atau menempatkan objek menggunakan tangan virtual, sementara sistem mencatat perilaku mereka secara objektif.
“Alat diagnostik ini pada dasarnya adalah permainan realitas virtual yang menilai apakah perilaku anak konsisten dengan diagnosis ADHD atau tidak. Selama prosedur, peserta menggunakan headset realitas virtual dengan pengendali tangan untuk menyelesaikan tugas,” jelas Wiguna.
Selain menciptakan lingkungan yang aman dan familiar, VR memungkinkan pengumpulan data perilaku anak secara lebih akurat. Machine learning kemudian menganalisis data untuk memprediksi kemungkinan ADHD, termasuk gejala kurang perhatian, hiperaktif, dan impulsif.
Meskipun masih terlalu dini untuk menyatakan bahwa kombinasi VR dan AI dapat sepenuhnya menggantikan metode diagnosis konvensional, hasil awal menunjukkan potensi yang menjanjikan. Teknologi ini diharapkan membuka jalan bagi diagnosis yang lebih objektif dan perawatan yang lebih tepat bagi anak-anak dengan ADHD.
ADHD sendiri memengaruhi antara 5–7,2 persen anak-anak dan 2,5–6,7 persen orang dewasa di seluruh dunia, dengan hampir 90 persen anak-anak tetap mengalami gejala hingga dewasa.
Penelitian ini didanai oleh hibah Q1Q2 dari Dana Penelitian Universitas Indonesia 2019 dan diterbitkan pertama kali pada 18 Oktober 2023 oleh 360info™ di bawah lisensi Creative Commons.(*/ub)





