UPDATEBALI.com, BULELENG – Perayaan Buda Wage Merakih yang hadir setiap enam bulan sekali dalam kalender Bali kembali mengajak umat Hindu untuk melakukan refleksi diri yang lebih mendalam.
Di tengah rutinitas sembahyang, mebanten, hingga membagikan momen spiritual di media digital, muncul pertanyaan yang kerap dirasakan banyak umat: mengapa setelah melaksanakan yadnya, hati dan pikiran masih terasa ribut?
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi, menjelaskan bahwa perasaan tersebut justru menjadi bagian dari makna Buda Wage Merakih itu sendiri.
Dalam tradisi Hindu Bali yang bersumber dari Lontar Sundarigama, Buda Wage Merakih dipersembahkan kepada Bhatari Manik Galih sebagai energi penenang yang membersihkan dan melepaskan beban batin.
“Kalau setiap umat pernah merasa begitu, tentulah kita semua tidak sendirian, dan justru di situlah makna Buda Wage Merakih bekerja. Personifikasi yang dipuja hari ini adalah energi yang menenangkan, membersihkan, dan melepaskan beban batin,” terang Irma saat dikonfirmasi, Rabu, 7 Januari 2026.
Ia menambahkan, dalam Lontar Sundarigama dijelaskan bahwa Buda Wage Merakih merupakan waktu terbaik untuk membersihkan mala atau kekotoran batin, khususnya pikiran yang dipenuhi rasa iri, marah, dan kelelahan mental.
“Merakih itu bukan soal merapikan banten, tetapi merapikan isi kepala,” tegasnya.
Menurut Irma, istilah Merakih bermakna merajut ulang, bukan memulai hidup baru, melainkan menata kembali kehidupan yang sudah terasa kusut. Kondisi sering merasa lelah tanpa sebab yang jelas, mudah emosi meski rajin sembahyang, menjadi tanda bahwa kesehatan mental sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan penataan batin, bukan sekadar ritual.
“Hindu itu jujur. Agama ini tidak pernah menjanjikan sembahyang rajin hidup langsung mulus. Yang dijanjikan adalah hati yang kuat saat hidup tidak mulus,” ungkapnya.
Ajaran tersebut sejalan dengan nilai dalam Sarasamuccaya sloka 14 yang menekankan bahwa Dharma yang dijaga akan melindungi, bukan untuk membuat hidup sempurna, melainkan membentuk kedewasaan batin. Proses yang masih berlangsung setelah sembahyang bukanlah kegagalan, melainkan tanda kesadaran yang sedang tumbuh.
“Buda Wage Merakih mengajarkan bahwa menyembuhkan diri adalah bagian dari menjaga kesucian hidup,” lanjut Irma.
Ia juga menjelaskan, konsep Buda dengan Urip 7 mengajarkan pengendalian Sapta Timira dalam diri, Wage dengan Urip 4 mengajarkan empat tujuan hidup atau Catur Purusa Artha, sementara Merakih dengan Urip 9 menekankan pelayanan umat melalui Nawa Wida Bakti.
“Mari muliakan kehidupan bukan untuk terlihat spiritual, tetapi untuk bertumbuh dalam nilai spiritual melalui sadhana kesadaran yang hakiki,” tutupnya.(adv/ub)





