Gubernur Koster Hidupkan Sad Kerthi, Pemerintah dan Masyarakat Gelar Aksi Tanam Pohon Serentak

0
337
Gubernur Bali Wayan Koster memimpin perayaan Tumpek Wariga sebagai wujud syukur dan ajakan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Gubernur Bali Wayan Koster memimpin perayaan Tumpek Wariga sebagai wujud syukur dan ajakan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Sumber foto : Humas Pemprov Bali

UPDATEBALI.com, KARANGASEM – Gubernur Bali Wayan Koster mengajak seluruh krama Bali untuk terus merawat dan menghidupkan kearifan lokal yang menjadi jati diri Pulau Dewata.

Seruan tersebut disampaikan saat memimpin perayaan Tumpek Wariga yang dipusatkan di Pura Pengubengan, Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Sabtu, 25 Oktober 2025.

Upacara yang juga diiringi dengan ritual Wana Kerthi itu menjadi wujud penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan, sekaligus refleksi ajaran Sad Kerthi yang menuntun manusia menjaga kesucian alam semesta.

Dalam suasana penuh khidmat, Gubernur Koster bersama masyarakat memanjatkan doa ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa dan para leluhur sebagai bentuk rasa syukur atas berkah alam.

“Kita memuliakan Sarwa Tumbuh, tumbuh-tumbuhan yang dalam ajaran kita adalah saudara tua yang hadir lebih dulu di dunia,” ujar Koster dalam sambrama wacana-nya.

Baca Juga:  Gubernur Koster Resmikan Pengurus TP PKK dan Posyandu Bali

Menurutnya, berdasarkan ajaran Siwa Nata Raja, saat Dewa Siwa menari menciptakan kehidupan, yang pertama hadir adalah tumbuhan, penopang utama bagi kehidupan makhluk lain.

“Tumbuhan itu ibarat ‘kakek’ kita. Ia tidak pernah menipu, selalu memberi makan, udara, dan kehidupan bagi manusia. Bila dirawat dengan kasih, ia akan berbuah lebat dan subur,” imbuhnya.

Hari suci Tumpek Wariga yang datang setiap 210 hari sekali menurut kalender Bali, juga dikenal sebagai Tumpek Pengarah atau Tumpek Bubuh. Perayaan ini jatuh 24 hari sebelum Hari Raya Galungan, sebagai momentum memohon agar tumbuhan berbuah dan memberi hasil pada hari kemenangan dharma tersebut.

“Upacara ini menggambarkan kesadaran ekologis tinggi. Leluhur kita telah mengajarkan bagaimana manusia berkomunikasi dengan alam secara spiritual,” kata Koster.

Koster menceritakan, sejak sebelum menjabat Gubernur, ia telah menelusuri nilai luhur Sad Kerthi dan menjadikannya dasar kebijakan setelah memimpin Bali. Melalui Surat Edaran Gubernur Bali tahun 2022, pelaksanaan Tumpek kini menjadi agenda resmi pemerintah.

Baca Juga:  Groundbreaking PSEL Bali Dimulai, Wali Kota Jaya Negara Apresiasi Dukungan Pemerintah Pusat

“Dulu tradisi ini hanya dijalankan masyarakat, belum jadi kebijakan. Kini pemerintah wajib ikut menjaga agar tidak hilang di tengah arus modernisasi,” tegasnya.

Ia menilai konsep Sad Kerthi sejatinya melampaui konsep lingkungan modern, karena menyatukan nilai spiritual, ekologis, dan sosial secara utuh.

“Kalau boleh saya katakan, leluhur kita pantas mendapat penghargaan setara Nobel karena sejak ribuan tahun lalu sudah mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam,” ujar Koster disambut tepuk tangan hadirin.

Dalam penutup sambutannya, Gubernur menegaskan pentingnya kembali mendekat pada alam.

“Kalau manusia merusak alam, maka alam akan memberi peringatan lewat bencana. Mari kita jaga alam dengan disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual demi Bali yang ajeg, sejahtera, dan lestari,” pungkasnya.

Baca Juga:  Gubernur Koster Pimpin Apel Siaga Pilah Sampah, Bali Perkuat Gerakan Pengelolaan Sampah dari Sumber

Sebagai simbol tindakan nyata, Gubernur Koster melakukan penanaman pohon Cendana di halaman Pura Pengubengan. Ia didampingi Bupati Karangasem, Wakil Bupati I Wayan Pandu Prapanca Lagosa, Danrem 163/Wirasatya Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, serta sejumlah kepala perangkat daerah.

Masih dalam rangkaian Tumpek Wariga, pemerintah provinsi bersama seluruh kabupaten/kota se-Bali akan menggelar aksi tanam pohon dan bersih-bersih sungai secara serentak pada Minggu, 26 Oktober 2025 pukul 08.00 WITA.

Di tingkat provinsi, kegiatan dipusatkan di Tukad Badung, Desa Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, sementara pemerintah kabupaten/kota akan melaksanakan di lokasi masing-masing sesuai arahan kepala daerah.

Gerakan ini menjadi wujud nyata pelestarian alam sekaligus penguatan spiritualitas masyarakat Bali dalam menjaga keharmonisan antara manusia dan lingkungan.(yud/ub)