YBWL Dorong Transformasi Bank Sampah jadi Social Enterprise untuk Bali yang Bersih dan Lestari

0
77
Pegiat bank sampah sekaligus Ketua YBWL, Ni Wayan Riawati
Pegiat bank sampah sekaligus Ketua YBWL, Ni Wayan Riawati. sumber foto : dy/gb

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Di tengah situasi darurat sampah yang masih membayangi Bali, Yayasan Bali Wastu Lestari (YBWL) terus menggerakkan edukasi dan pemberdayaan masyarakat melalui jaringan Bank Sampah yang tersebar di sembilan kabupaten/kota di Pulau Dewata.

Pegiat bank sampah sekaligus Ketua YBWL, Ni Wayan Riawati, menekankan bahwa tantangan utama dalam pengelolaan sampah bukan terletak pada sampah itu sendiri, melainkan pada pola pikir dan tindakan masyarakat dalam menanganinya.

“Permasalahan utama justru karena rendahnya kesadaran masyarakat dan belum terbangunnya konsep manajemen sampah yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Kami percaya perubahan bisa dimulai dari rumah, dan itulah semangat yang kami bawa sejak 2010,” ujar Riawati.

Baca Juga:  Geliatkan Ekonomi Lokal, PKK Gelar Pasar Rakyat di Terminal Negara

Sejak awal, YBWL aktif mengedukasi masyarakat melalui pendekatan sosial gotong royong. Kini, yayasan ini mendorong transformasi gerakan bank sampah menjadi social enterprise bersama Bank Sampah Induk melalui pendirian PT Bali Recycle Center (BRC). Transformasi ini diharapkan dapat memastikan pengelolaan sampah berjalan lebih konsisten dan berkelanjutan.

Dalam rentang 2012–2025, jumlah unit bank sampah aktif di Bali terus meningkat, mencapai lebih dari 650 unit pada 2024. Aktivitas ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, dengan penyerapan sampah plastik hingga 4.500 ton per tahun dan nilai ekonomi mencapai Rp13 miliar.

Baca Juga:  Persiapkan Enam Hal ini Sebelum Liburan ke Jepang

Meski begitu, Riawati menyoroti bahwa implementasi kebijakan pemerintah daerah belum berjalan optimal. Regulasi yang ada, mulai dari UU Pengelolaan Sampah, Perpres Nomor 97 Tahun 2017 tentang strategi nasional pengelolaan sampah, hingga Pergub Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang pengelolaan sampah berbasis sumber, belum sepenuhnya konsisten di lapangan.

“Komitmen regulasi sangat baik, tapi belum ditunjang dengan tindakan yang konsisten dan terukur. Padahal, perubahan perilaku masyarakat butuh keteladanan dan pendampingan berkelanjutan,” tegasnya.

Menurut Riawati, sinergi pentahelix antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media sangat penting untuk mendorong gerakan pengelolaan sampah ini. YBWL telah bekerja sama dengan berbagai pihak seperti Unilever, Coca-Cola, Aqua, serta perguruan tinggi dan institusi pendidikan.

Baca Juga:  Bupati Tamba Semangati Kinerja Nakes

YBWL juga aktif mendorong edukasi lingkungan melalui pelatihan guru, penyediaan komposter rumah tangga, dan kerja sama dengan sekolah serta Dinas Pendidikan. Mereka meyakini bahwa pengelolaan sampah yang baik akan berdampak langsung pada ketahanan ekonomi, kesehatan masyarakat, dan lingkungan yang lestari.

“Gerakan bank sampah bukan sekadar soal sampah, tapi tentang membangun kesadaran kolektif bahwa setiap individu punya tanggung jawab terhadap lingkungan,” pungkas Ni Wayan Riawati. (dy/ub)