Ratusan Peserta Ikuti Manusa Yadnya Massal, Wagub Giri Prasta Beri Dukungan Penuh

0
69
Wagub Giri Prasta menegaskan bahwa Krama Bali boleh mengikuti perkembangan zaman, namun harus tetap menjaga adat, budaya, dan makna upacara sebagai bagian dari swadharma dalam kehidupan beragama.
Wagub Giri Prasta menegaskan bahwa Krama Bali boleh mengikuti perkembangan zaman, namun harus tetap menjaga adat, budaya, dan makna upacara sebagai bagian dari swadharma dalam kehidupan beragama. Sumber foto : Humas Pemprov Bali

UPDATEBALI.com, DENPASAR Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menekankan pentingnya masyarakat Bali untuk tetap berpegang pada akar adat dan budaya meskipun terus mengikuti perkembangan zaman.

Hal itu disampaikan saat memberikan sambramawacana dalam Upacara Manusa Yadnya Mapetik, Menek Kelih, dan Metatah Massal di Banjar Tunjung Sari, Peguyangan Kangin, Denpasar Utara, Kamis, 4 September 2025.

Dalam kesempatan itu, Giri Prasta menyampaikan rasa bangga atas semangat krama Banjar Tunjung Sari dalam nangun yadnya. Ia menegaskan, pemerintah harus hadir untuk meringankan beban masyarakat dalam menjalankan kewajiban adat dan agama.

Baca Juga:  Pulau Bali Menuju Ketenagalistrikan Berkelanjutan, Kolaborasi dan Inovasi sebagai Kunci Keberhasilan

“Itu sudah saya lakukan sejak menjabat Bupati Badung, dan sekarang saya melihat Wali Kota Denpasar juga melakukan hal serupa,” ujarnya.

Sebagai wujud dukungan, Giri Prasta menyerahkan bantuan berupa punia Rp50 juta untuk penyelenggaraan karya serta Rp5 juta bagi Sekaa Gong Banjar Tunjung Sari. Bantuan itu diterima langsung Ketua Panitia Karya, Wayan Dana.

Mantan Bupati Badung dua periode ini juga memberi pemahaman tentang makna upacara Manusa Yadnya. Ia menjelaskan bahwa mapetik bukan sekadar memotong rambut anak, melainkan penanda bahwa seorang balita telah menjadi manusia seutuhnya. Sementara dalam upacara metatah, ia mengingatkan orang tua agar melaksanakan atur piuning di merajan masing-masing.

Baca Juga:  Relawan Sekaa Demen Banjar Cau Bangun Jembatan Darurat Secara Swadaya

“Sembah bakti ditujukan kepada Hyang Semara Ratih, agar upacara mesangih berjalan lancar,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar umat Hindu tidak sekadar menjawab Nak Mule Keto saat ditanya soal makna tradisi.

Menurutnya, pelaksanaan swadharma harus berpijak pada konsep Tri Samaya: memaknai masa lalu (atita), masa kini (wartamana), dan masa depan (nagata).

Baca Juga:  Wali Kota Jaya Negara Hadiri Karya Padudusan Agung, Apresiasi Semangat Ngayah Krama Kesiman

“Kalau yang dulu baik, pertahankan. Yang tidak baik, tinggalkan. Kita laksanakan di masa kini agar ke depan lebih baik,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Wayan Dana menyampaikan terima kasih atas dukungan Wagub Giri Prasta. Ia menyebutkan, upacara Manusa Yadnya ini diikuti oleh 42 peserta mapetik, 61 peserta menek kelih, dan 104 peserta metatah.

“Bantuan yang diberikan sangat membantu meringankan beban krama,” tutupnya.(yud/ub)