spot_img
spot_img
BerandaBaliSanggar Seni Candrawangsa Angkat Spirit Nyepi Lewat Gamelan Inovatif di PKB ke-47

Sanggar Seni Candrawangsa Angkat Spirit Nyepi Lewat Gamelan Inovatif di PKB ke-47

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Panggung Kalangan Angsoka, Art Centre Denpasar kembali menghadirkan suguhan seni istimewa dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47.

Pada Jumat 4 Juli 2025, Sanggar Seni Candrawangsa asal Banjar Dalem, Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal, Badung, menampilkan pertunjukan gamelan inovatif yang sarat makna spiritual.

Dikoordinatori oleh I Gede Ananta Diparesta, para penabuh muda Sanggar Candrawangsa mempersembahkan empat karya garapan—tiga di antaranya adalah komposisi karawitan inovatif, dan satu berupa tarian. Menurut Ananta, keseluruhan karya tersebut terinspirasi dari nilai-nilai yang terkandung dalam perayaan Nyepi, khususnya melalui pendekatan konsep Tapa Prakerti.

Tapa Prakerti menggambarkan proses pengendalian diri sekaligus usaha untuk kembali ke jati diri alamiah. Tapa berarti meditasi atau tapa brata, sementara Prakerti merujuk pada alam semesta atau sifat dasar,” jelasnya.

Baca Juga:  Mendagri Tito Karnavian Resmi Buka PKB 2022

Tiga karya gamelan yang disuguhkan lahir dari refleksi terhadap nilai-nilai Tri Hita Karana, yakni hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Masing-masing garapan bertajuk Swara Pawitri, Suda Prawerti, dan Tepa Slira.

Sanggar Candrawangsa Angkat Spirit Nyepi Lewat Gamelan Inovatif di PKB ke-47
Sanggar Candrawangsa Angkat Spirit Nyepi Lewat Gamelan Inovatif di PKB ke-47. Sumber foto: Humas Kominfo Badung

Karya pembuka, Swara Pawitri, merefleksikan suasana pemelastian—ritual penyucian menjelang Hari Raya Nyepi. Suara gamelan dirancang menyerupai irama alam dan spiritualitas persembahan, membentuk komposisi yang memadukan nuansa suci dan musikal.

Baca Juga:  K3S Badung Gelar Aksi Sosial, Warga Sembung Dapat Layanan Kesehatan Gratis dan Bantuan

“Swara artinya suara, Pawitri bermakna persembahan. Karya ini berfungsi sebagai media komunikasi antara manusia dan Sang Pencipta,” terang Ananta.

Karya kedua bertajuk Suda Prawerti menggambarkan rangkaian prosesi Tawur Kesanga dalam dinamika kehidupan manusia dan alam. Gamelan menyuarakan konflik dan kehancuran akibat keserakahan, yang kemudian bertransformasi menuju keharmonisan lewat upaya penyucian.

“Ini adalah bentuk refleksi penyadaran spiritual terhadap kerusakan alam,” ujarnya.

Baca Juga:  UMKM Bangli Didorong Melek Digital, 50 Pelaku Usaha Ikuti Pelatihan “Cakap Digital”

Adapun karya pamungkas, Tepa Slira, mencerminkan gejolak emosional masyarakat saat malam pengerupukan menjelang Nyepi. Karya ini terinspirasi dari pawai ogoh-ogoh dan menggambarkan ujian moral manusia ketika tenggang rasa dan kesadaran diri mulai diuji.

“Ada euforia, ada kebutaan, tapi juga harapan akan kesadaran kembali,” imbuhnya.

Penampilan Sanggar Candrawangsa menjadi bukti bahwa tradisi dan inovasi bisa berpadu indah dalam seni karawitan Bali. Tidak hanya menghibur, tapi juga membawa pesan spiritual yang mendalam.(adv/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments