UPDATEBALI.com, DENPASAR – Harga gabah kering yang rendah di tingkat petani, sementara harga beras tinggi di tingkat konsumen, menjadi salah satu isu utama dalam High Level Meeting (HLM) TPID Bali 2025 yang digelar pada Selasa, 17 Februari 2025.
Pj. Gubernur Bali, Drs. Sang Made Mahendra Jaya, M.H., menyoroti pentingnya optimalisasi penggilingan padi (Rice Milling Unit/RMU) dan penerapan Sistem Resi Gudang (SRG) guna menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan petani.
Dalam diskusi, terungkap bahwa banyak gabah kering dari Bali dijual ke luar daerah untuk diolah menjadi beras dan kembali dijual di Bali dengan harga lebih tinggi. Untuk mengatasi permasalahan ini, TPID Bali mendorong optimalisasi peran Perusahaan Umum Daerah (Perumda) sebagai offtaker hasil panen petani.
Langkah ini diharapkan dapat memangkas rantai distribusi, menjamin kepastian pasar, serta menjaga stabilitas harga beras.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian RI, Dr. Ferry Irawan, S.E., M.S.E., menegaskan bahwa pengendalian inflasi di sektor pangan harus dilakukan melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi rantai pasok.
Dalam jangka panjang, Pemerintah Pusat telah menyusun peta jalan pengendalian inflasi nasional 2025-2027 yang akan diterjemahkan ke dalam kebijakan daerah.
Selain itu, dalam rapat juga dipastikan bahwa stok beras, BBM, dan gas elpiji dalam kondisi aman menjelang periode HBKN yang mencakup Ramadhan, Galungan, Kuningan, Nyepi, dan Idul Fitri pada Maret 2025. (yud/ub)





