Stabilitas Harga Terjaga, Inflasi Bali Turun Menjadi 2,34 Persen pada Desember 2024

0
326
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja. Sumber foto: Bank Indonesia

UPDATEBALI.com, DENPASAR — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat inflasi bulanan di Bali pada Desember 2024 sebesar 0,31% (mtm), lebih rendah dibandingkan November 2024 yang mencapai 0,50% (mtm).

Secara tahunan, inflasi menurun menjadi 2,34% (yoy) dari 2,50% (yoy) pada November 2024. Penurunan ini didukung oleh upaya pemerintah dalam memitigasi kenaikan harga barang dan jasa saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru. Inflasi tahunan Bali 2024 juga tercatat lebih rendah dibandingkan 2023 yang mencapai 2,77% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan, secara spasial, semua kota di Bali mengalami inflasi bulanan. Kota Denpasar mencatat inflasi 0,19% (mtm) atau 2,69% (yoy), Kabupaten Badung 0,37% (mtm) atau 1,98% (yoy), Kabupaten Tabanan 0,49% (mtm) atau 2,44% (yoy), dan Kota Singaraja 0,32% (mtm) atau 1,93% (yoy).

Baca Juga:  FEB Unud Gelar 1st ICONICS International Seminar 2023

“Inflasi tahunan Kota Denpasar dan Singaraja juga lebih rendah dibandingkan tahun 2023, masing-masing turun dari 2,54% (yoy) dan 4,31% (yoy),” katanya.

ia juga menjelaskan, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama inflasi sepanjang tahun 2024. Pada Desember 2024, kenaikan harga bawang merah, cabai merah, cabai rawit, tomat, dan sawi hijau memicu inflasi. Kenaikan ini disebabkan oleh berakhirnya musim panen dan cuaca buruk yang menghambat produksi. Namun, inflasi tertahan oleh penurunan harga daging babi, tarif angkutan udara, daging ayam ras, kangkung, dan beras.

Baca Juga:  Pemkot Denpasar Gelar Pasar Murah Jelang Nyepi

Penurunan tarif angkutan udara menjadi faktor signifikan dalam menekan inflasi, menyusul kebijakan diskon harga tiket pesawat sebesar 10% selama Natal dan Tahun Baru.

Erwin mengingatkan risiko inflasi pada Januari 2025. Faktor yang perlu diwaspadai antara lain kenaikan permintaan selama libur panjang, peningkatan harga komoditas hortikultura akibat berakhirnya panen dan cuaca buruk, serta tren kenaikan harga emas dan minyak goreng yang dipengaruhi oleh harga Crude Palm Oil (CPO).

Meski demikian, beberapa langkah mitigasi telah dilakukan, seperti perluasan areal tanam padi hingga 90,09% dari target, penguatan pasokan beras, kebijakan diskon tarif listrik, dan penurunan harga tiket pesawat.

Baca Juga:  Leadership Practice 2024, Dedikasi Bank Indonesia dalam Mempersiapkan Pemimpin Masa Depan

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Bali juga memperkuat pengendalian inflasi melalui kebijakan 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Langkah konkret yang dilakukan meliputi operasi pasar, pasar murah, Gerakan Tanam Pangan Cepat Panen (Genta Paten), serta optimalisasi distribusi pangan melalui mitra distributor dan Toko Pangan Kita.

Dengan implementasi kebijakan tersebut, Bank Indonesia optimis inflasi Bali pada 2025 akan tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional, yakni 2,5%±1%.(yan/ub)