Bupati Sedana Arta Pimpin Upacara Tawur Labuh Gentuh

0
456
Bupati Bangli Pimpin Upacara Tawur Labuh Gentuh
Bupati Bangli Pimpin Upacara Tawur Labuh Gentuh. Sumber foto: Humas Bangli

UPDATEBALI.com, BANGLIBupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, bersama jajaran pejabat pemerintahan dan tokoh masyarakat, memimpin Muspayang Bhakti Tawur Labuh Gentuh Tilem Sasih Kesanga Icaka 1946 di Catus Pata Bangli, hari ini Minggu, 10 Maret 2024.

Acara yang dihadiri Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar, serta Ketua DPRD Bangli, Ketut Suastika, turut dihadiri oleh sejumlah undangan terkemuka. Muspayang Bhakti Tawur Labuh Gentuh ini diselenggarakan menjelang Hari Raya Nyepi, sekaligus menyambut Hari Raya Umanis Kuningan.

Baca Juga:  Modernisasi Pasar Tradisional, Bupati Bangli Luncurkan Sistem E-Retribusi

Tawur Labuh Gentuh adalah salah satu upacara mautama yang penting dalam budaya Bali. Upacara ini melibatkan pengorbanan hewan-hewan suci seperti kerbau, sapi, kambing, babi, angsa, itik, dan ayam sebagai simbol penghormatan kepada Sang Pencipta. Tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon keselamatan dan berkah bagi alam semesta dan seluruh isinya.

Baca Juga:  Realisasi PAD Buleleng Capai 92,49 Persen Hingga Akhir Desember 2021

Rangkaian upacara ini juga memasukkan seni budaya Bali, termasuk pertunjukan Wayang Kulit, Tari Topeng, Tari Rejang, dan Tari Pendet. Semua ini menjadi bagian penting dari pemuspaan bersama yang dilakukan dalam upacara tersebut.

Sembilan Sulinggih terkemuka memimpin upacara ini, yang terdiri dari Ida Pedanda-pedanda dari berbagai griya di sekitar Bangli. Mereka mengambil peran penting dalam memastikan kelancaran dan keberhasilan upacara ini.

Baca Juga:  Bupati Bangli Sosialisasikan Pencegahan Stunting kepada Remaja dan Calon Pengantin di Kecamatan Susut

Bupati Sedana Arta dalam pidatonya menggarisbawahi pentingnya memelihara dan melestarikan budaya Bali, serta memastikan bahwa nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal terus dijunjung tinggi dalam masyarakat Bangli.

Diharapkan, kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga momentum untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga dan menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat. (yud/ub)