UPDATEBALI.com, BULELENG – Dalam pesatnya pembangunan di Pulau Bali, sistem subak, irigasi tradisional yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, menghadapi ancaman serius. Pertumbuhan populasi, pengembangan pariwisata, dan perubahan kebijakan pembangunan telah membawa dampak negatif terhadap keberlanjutan sistem pertanian ini.
Pertumbuhan populasi yang cepat dan pesat di Bali mendorong peningkatan permintaan akan lahan untuk perumahan dan infrastruktur, 9 Desember 2023.
Sementara itu, industri pariwisata yang terus berkembang memerlukan ruang untuk hotel, resort, dan fasilitas pariwisata lainnya, yang mengakibatkan konversi lahan pertanian tradisional menjadi kawasan pembangunan.
Subak, yang mencerminkan harmoni antara manusia dan alam dalam budaya Bali, kini berada dalam risiko serius. Ancaman terhadap sistem ini menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya praktik pertanian berkelanjutan dan nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Meskipun upaya pelestarian telah dilakukan melalui pengembangan kebijakan dan kampanye kesadaran masyarakat, tantangan yang dihadapi tetap besar. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan pihak terkait lainnya untuk menemukan solusi yang melindungi warisan budaya dan alam di Bali.
Dalam menghadapi dilema ini, muncul pertanyaan krusial tentang bagaimana keberlanjutan pertanian tradisional dan nilai-nilai budaya dapat dijaga seiring dengan pertumbuhan pembangunan yang tidak terelakkan.
Hanya dengan upaya bersama dan fokus pada pelestarian serta pemanfaatan lahan yang berkelanjutan, mungkin kita dapat mempertahankan keberlanjutan sistem subak dan melestarikan identitas budaya unik Pulau Dewata ini.
Penulis: Gede Egar Gita Saputra
Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan Singaraja.





