UPDATEBALI.com, BENGKAYANG – KALIMANTAN BARAT – “Hmm…betapa suburnya Pulau Kalimantan. Berbagai keanekaragaman hayati tumbuh disini. Flora dan Faunanya pun sulit ditandingi. Ini anugerah Tuhan yang harus dijaga dan dirawat. Pantaslah dijuluki paru-paru dunia.â€? Gumam saya dalam hati ketika melintasi jalan darat perbatasan Indonesia dan Malaysia melalui Lintas Batas Jagoi Babang Kabupaten Bengkayang.
TEPAT Â pukul 05.00 WIB pagi, Â saya sudah siap-siap berangkat. Peralatan dan kebutuhan selama perjalanan sudah disiapkan dengan baik di backpack, tas panggul yang biasa saya pakai berpergian. Yah, saya akan menjelajahi perjalanan darat melintas sampai batas Negara Jiran, Sarawak. Malaysia.
Saya pandangi ujung jalan, belum tampak mobil yang akan menjemput dan mengantar kami nantinya. Ditemani secangkir teh panas penghangat tubuh, kutatap pagi  mulai terang, cuaca yang masih dingin, kabut tipis menaungi kota kecil tempat tinggalku, Bengkayang.
Sambil duduk menikmati teh itu, saya merenung, mengingat-ingat adakah perbekalan yang terlupakan. Saya ingat satu per satu. Ah…Ku buang rasa khawatir itu, sepertinya sudah lengkap. Mulai dari handphone, charger, kamera, sal untuk penghangat tubuh dan beberapa pakaian ganti, telah masuk dalam backpack itu.
Tak lama  setelah itu, saya melihat dari arah kanan rumah, mobil Toyota Innova, berjalan ke arah rumah kami dan memberi tanda agar saya segera menghampiri. Saya hirup sisa teh terakhir dan segera mengambil backpack, berjalan ke arah mobil.
Setelah menyapa satu per satu teman-temanku, Saya dipersilahkan masuk di jajaran bangku tengah. Kami berjumlah tujuh orang mulai jalan menuju arah perbatasan antara Bengkayang Kalimantan Barat dengan Kuching, Sarawak Malaysia.
Perjalanan ke Pos Lintas Batas Jagoi Babang
Tujuan pertama perjalanan kami adalah ke Pos Lintas Batas Jagoi Babang, Bengkayang, Kalbar. Perjalanan kurang lebih dua jam sama sekali tidak aku nikmati. Aku mabuk dan hanya ingin tidur. Sesampai ditujuan pertama aku dibangunkan. Kami segera mengurus Pas Lintas Batas (PLB) di Pos Imigrasi Jagoi Babang. Kami melakukan Cop PLB yang kami pegang sebagai syarat untuk bisa masuk ke Negara Malaysia.
Lega rasanya persyaratan sudah beres. Saya bersama dengan rombongan melanjutkan perjalanan kembali. Hawa panas tanah Kalimantan Barat, Perbatasan langsung dengan Negara Tetangga, Kuching Serawak Malaysia, sudah mulai hilang. Awan mendung mengiringi perjalanan kami. Menyusuri perjalanan yang mulai berkelok-kelok, dan lewati tanah licin.
Sesekali saya lepaskan pemandangan lewat jendela mobil. Saya kagum dengan kekayaan alam Indonesia dengan keberadaan hutan yang menyimpan beragam keanekaragaman hayati, baik flora maupun faunanya. Ini karunia besar yang diberikan Tuhan.

Menuju Pasar Serikin (Wekend Market)
Setelah sampai ke PLB, kami meneruskan perjalanan dengan tujuan ke Pasar Serikin. Suatu tempat jual beli masyarakat perbatasan dua negara yang sampai sekarang berjalan harmonis dan aman. Pasar ini diakses melalui Bau-Serikin Road dengan jarak tempuh perjalanan sekira 45 menit sampai satu jam. Pasar ini dibuka oleh penduduk setempat sejak tahun 1992, yang berasl dari Indonesia.
Serikin adalah suatu pasar akhir pekan (Weekend Market) yang terletak di Kampung Serikin. Pasar ini dibuka pada setiap akhir pekan dengan pembeli dari berbagai warga negara perbatasan seperti Malaysia, India, Singapore, Brunei Darussalam dan tentu saja Indonesia.
Uniknya, Pasar Serikin ini tidak dibangun secara permanen tetapi berbentuk kios-kios warna warni dari terpal dan atap daun. Sebagian besar pedagang berasal dari Indonesia seperti dari  Pontianak, Bengkayang, Sambas dan Singkawang, yang relatif berdekatan dengan perbatasan.
Barang-barang dagangan mulai dari berbagai jenis pakaian seperti baju, celana, kaos oblong, kerajinan tangan dari rotan, jam tangan berbagai merek, sayur mayur, buah buahan dan berbagai barang dagangan lainnya.
Lanjut ke Kuching
Perjalanan kembali kami lanjut menuju Bau dan Kuching sekitar 45 kilo meter perjalanan. Berbeda dengan perjalanan ke Serikin, Kuching memiliki akses jalan yang lebih baik. Infrastruktur jalan sangat lebar dan dengan kualitas aspal yang baik, licin tanpa ada gundukan batu.
Kuching merupakan ibukota Sarawak yang terletak di Malaysia Timur. Kota ini juga merupakan pusat perdagangan dan pemerintahan Sarawak, Malaysia. Kuching adalah tujuan pangan utama bagi wisatawan dan merupakan pintu gerbang utama bagi wisatawan mengunjungi Sarawak dan Kalimantan. Kota ini telah menjadi salah satu pusat industri dan komersial utama di Malaysia Timur.
Satu hal sebagai contoh baik yang kami dapatkan, Malaysia memang di kenal sangat bersih dengan tata kota yang rapi. Peraturan lalu lintas pun sangat tertib. Selama perjalanan, hampir tidak ada ditemui para pengemudi atau warga Malaysia yang menggunakan sepeda motor. Ada tapi sangat jarang (bisa dihitung jari). Rata-rata memakai roda empat atau mobil. Namun begitu, tidak ada terdapat kemacetan di Negeri ini.
Setelah sampai di Kuching kami pun langsung mencari tempat makan siang. Rombongan pun sudah tampak lapar dan lelah. Usai santapan siang kami melanjutkan perjalanan yang pertama dituju yaitu Waterfront  City.
Waterfont, merupakan tempat wisata yang menjadi ikon Kuching. Tempat pertemuan populer, dengan warung makan, restoran dan fasilitas hiburan termasuk teater terbuka. Ada juga warung warung tempat menjual aneka makanan khas dan minuman. Dengan arsitektur tradisional seperti Square Tower juga dan pemandangan khas Sungai Sarawak merupakan objek wisata yang mempesona.
Disana juga terdapat Kantor Dewan Undangan Negeri Serawak. Kantor ini merupakan tempat pertemuan Datuk-datuk, Perdana Menteri atau pejabat setempat dalam acara resmi dan penting lainnya. Kami hanya bisa berjalan didepannya, kerena dibatasi oleh Sungai Sarawak. Tak jauh dari situ, Saya melihat kapal pesiar  River Cruise sedang bersandar dan tampak banyak turis yang sedang menaikinya.
Kuching tempat bermukim warga multi-budaya di Malaysia. Berbagi etnis hidup rukun disini. Seperti orang Cina berbicara dalam Hokkien atau Hakka. Orang Melayu berbicara bahasa Melayu. India terdiri Tamil, Punjabi dan Sing. Selain itu, ras seperti Dayak juga dapat ditemukan di Kuching. Secara keseluruhan, Kuching menawarkan wisatawan dengan ramuan budaya yang beragam yang langka di tempat lain.

Kuching North City Hall.
Setalah puas selfie, kami berpindah menuju tempat selanjutnya yaitu Kuching North City Hall yang merupakan juga ikon Kuching. Di tempat ini, banyak orang berdatangan untuk sekadar berphoto dan santai. Tidak hanya warga setempat tapi juga mancanegara.
Tidak hanya itu, kami juga mengunjungi pusat pembelanjaan yang menjual bermacam oleh-oleh khas Kuching. Percisnya, saya lupa nama tempatnya. Driver kami, membawa kami jalan mengelilingi kota Kuching senja itu, kami hanya dapat melihat Kuching Central Terminal dari kejauhan. Selepas dari itu, kami juga dilihatkan megahnya bangunan Hospital. Sangat bersih dan rapi. Tidak terasa hari pun mulai gelap, waktu sudah menunjuk pukul delapan malam waktu setempat. Kami akan segera berpindah tempat kembali ke Bau, untuk menginap disana.
Pulang ke Indonesia
Hari pun berganti. Udara dingin dipagi hari menyentuh kalbu. Rasa tak ingin bangun dari pembaringan. Selimut tebal masih membungkusi badan. Namun, mengingat akan masih ada tempat yang mesti dituju. Saya pun wake up. Setelah mandi, saya harus packing/persiapan pulang.
Sebelum pulang kami masih menyempatkan diri untuk melihat pasar Bau. Tidak terasa begitu cepat jam berputar. Berat rasanya meninggalkan kota ini. Waktu terasa begitu singkat, kami pun keluar dari hotel dan menikmati breakfast didekat penginapan kami.
Ah, Saya rasanya berat untuk kembali pulang.  Suatu perjalanan yang takkan pernah terlupakan. Banyak hal yang menjadi pelajaran penting dalam perjalanan kali ini. Mulai dari keindahan panorama alam Pulau Kalimantan yang memiliki keanekaragaman hayati yang berlimpah, kekayaan budaya masyarakatnya, keunikan tempat-tempat wisata seperti Waterfront City di Kuching dan masih banyak lagi hal-hal baru yang kutemui dalam perjalanan ini.
Terutama kondisi fasilitas, sarana, kebersihan dan ketertiban masyarakat, sangat layak untuk dicontoh. Bahkan keadaan ekonomi dan kemakmuran masyarakat di Negeri Jiran Malaysia ini lebih baik dari tempat Saya, Kalimantan Barat dan Indonesia umumnya. Padahal kekayaan alam dan potensi ekonomi pulau ini, relatif sama.
Ah, Saya tak mau membandingkannya. Kalau sekadar untuk mengambil pelajaran, boleh-boleh saja. Bagaimana pun hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, masih lebih baik di negeri sendiri. Walaupun lebih makmur dan lebih mewah hidup di negeri orang, negeri sendiri tetaplah yang paling baik. I love you, Indonesia. Merah putih darahku takkan tergantikan dengan apapun.
Penulis : Narwati
Profesi : Jurnalis (Kalbar)





