
UPDATEBALI.com, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster meminta PT Pertamina (Persero) mempercepat pemulihan distribusi bahan bakar minyak (BBM) menyusul antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali.
Sebanyak 92 SPBU di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung menjadi prioritas penanganan untuk mempercepat normalisasi pelayanan.
Hal tersebut disampaikan Koster saat menggelar rapat terbatas bersama Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri dan jajaran terkait di Depot BBM PT Pertamina Patra Niaga, Pesanggaran, Denpasar, Selasa, 13 Oktober 2026.
Usai rapat, Koster bersama Simon dan jajaran terkait meninjau langsung fasilitas sandar serta bongkar muat kapal tanker BBM di Pelabuhan Benoa. Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi operasional penerimaan pasokan sekaligus mendukung percepatan penanganan kendala distribusi.
Koster menegaskan, ketersediaan pasokan harus diimbangi dengan distribusi yang lancar dari terminal penyimpanan menuju SPBU. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh BBM tanpa harus mengantre terlalu lama.
Berdasarkan laporan Pertamina, stok Pertalite dan Pertamax di Bali dipastikan mencukupi kebutuhan hingga dua pekan ke depan dengan dukungan pasokan tambahan yang dikirim secara bertahap.
“Yang pertama ingin saya pastikan, ketersediaan BBM Pertalite dan Pertamax itu ada sampai dua minggu ke depan. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir. Pasokan tersedia dan akan terus datang secara bertahap,” tegas Koster.
Pertamina melaporkan kapal tanker pembawa pasokan BBM telah tiba di Terminal BBM Manggis dan Pesanggaran pada Selasa, 13 Oktober 2026. Pasokan Pertalite yang tiba mencapai 19,2 juta liter, diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan selama enam hingga tujuh hari.
Sementara itu, tambahan Pertamax sebanyak 3 juta liter diperkirakan mencukupi kebutuhan sekitar tiga hari.
Pasokan berikutnya dijadwalkan tiba pada 15, 16, dan 17 Oktober 2026, dengan tambahan Pertalite sebanyak 25 juta liter. Pasokan Pertamax juga akan diperkuat melalui kedatangan kapal berikutnya.
Pengiriman secara bertahap tersebut diharapkan menjaga kesinambungan pasokan selama proses pemulihan distribusi berlangsung.
Untuk mempercepat penanganan antrean, Pemprov Bali bersama Pertamina memprioritaskan pemulihan distribusi di Denpasar dan Badung. Kedua wilayah ini memiliki aktivitas tinggi dan mengalami antrean kendaraan di sejumlah SPBU.
Sebanyak 92 SPBU menjadi fokus percepatan pelayanan, terdiri atas 54 SPBU di Denpasar dan 38 SPBU di Badung.
Pertamina menyiapkan operasional SPBU selama 24 jam secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan tenaga kerja dan sarana pendukung. Fasilitas penyimpanan dan distribusi BBM di Manggis serta Pesanggaran juga dioptimalkan agar dapat beroperasi selama 24 jam untuk memperlancar penyaluran pasokan.
Selain itu, Pertamina menambah armada mobil tangki pengangkut BBM dari sekitar 90 unit menjadi 105 unit. Penambahan 15 armada ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan frekuensi pengiriman dari terminal menuju SPBU, terutama di wilayah yang mengalami kendala distribusi.
Koster juga mengoordinasikan dukungan Polda Bali untuk mengawal mobil tangki menuju SPBU. Pengawalan tersebut diharapkan memperlancar pergerakan armada, mempersingkat waktu tempuh, dan mempercepat penyaluran BBM ke lokasi yang membutuhkan.
Pertamina turut merencanakan penerapan pelayanan SPBU selama 24 jam di Kabupaten Tabanan dan Gianyar dalam satu hingga dua hari berikutnya. Pelaksanaannya menyesuaikan kesiapan operasional dan perkembangan kebutuhan di masing-masing wilayah.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali atas ketidaknyamanan akibat antrean panjang di sejumlah SPBU.
Ia menjelaskan, salah satu kendala distribusi berasal dari gangguan proses bongkar muat kapal tanker akibat persoalan pada jangkar kapal. Kondisi tersebut menyebabkan jadwal yang semula direncanakan sekitar pukul 06.30 tertunda hingga sekitar pukul 22.00.
Simon menegaskan Pertamina bertanggung jawab meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Langkah penanganan yang disiapkan mencakup penguatan pasokan, percepatan pengiriman BBM, penambahan armada dan tenaga operator, serta optimalisasi jam operasional SPBU.
Pertamina juga akan terus memantau kondisi distribusi dan perkembangan antrean di lapangan. Hasil pemantauan menjadi dasar evaluasi efektivitas penanganan sekaligus pertimbangan untuk mengembalikan jam operasional SPBU ke kondisi normal setelah distribusi stabil.
Koster menegaskan penyelesaian persoalan distribusi BBM membutuhkan koordinasi seluruh pihak sesuai kewenangan masing-masing. Menurutnya, gangguan distribusi berdampak langsung terhadap masyarakat, pekerja transportasi, pelaku usaha, hingga sektor pariwisata yang menjadi salah satu penopang perekonomian Bali.
“Ini bukan hanya urusan Pertamina atau satu instansi saja. Ini urusan kita bersama. Kalau kita saling melempar tanggung jawab, masyarakat yang akan kesulitan. Karena itu, kita selesaikan bersama-sama dan kita tuntaskan demi kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga meminta persoalan yang terjadi saat ini menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat perencanaan, kesiapan operasional, dan sistem pengelolaan distribusi BBM agar kejadian serupa dapat diantisipasi ke depan.
Koster mengimbau masyarakat tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Masyarakat juga diharapkan tidak melakukan pengisian secara bersamaan apabila belum mendesak, karena penumpukan kendaraan dapat memperpanjang antrean dan menghambat pelayanan di SPBU.
“Yang terpenting, kebutuhan masyarakat harus terpenuhi. Kita pastikan pasokannya tersedia, distribusinya dipercepat, dan pelayanan diperbaiki. Kita bekerja bersama-sama agar kondisi ini segera normal dan tidak terulang kembali,” tegasnya.
Pemprov Bali akan terus berkoordinasi dengan Pertamina dan instansi terkait untuk memantau perkembangan penanganan di lapangan. Langkah percepatan tersebut diharapkan segera mengurangi antrean dan memulihkan kelancaran pelayanan BBM bagi masyarakat Bali. (yud/updatebali)


