
UPDATEBALI.com, MANGUPURA – Perubahan pesat yang terjadi di Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, menjadi perhatian dalam pengukuhan Prajuru Desa Adat Pecatu periode 2026-2031.
Perkembangan sektor pariwisata dan investasi yang terus meningkat dinilai harus diimbangi dengan tata kelola yang mampu menjaga kepentingan masyarakat, lingkungan, serta keberlanjutan adat dan budaya.
Hal tersebut disampaikan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa saat menghadiri Upacara Pamikukuh miwah Pajaya-jayaan Prajuru Desa Adat Pecatu untuk masa ayahan Isaka Warsa 1948-1953 atau 2026-2031, Kamis 27 Agustus 2026.
Dalam prosesi tersebut, I Made Sutama resmi dikukuhkan sebagai Bendesa Adat Pecatu bersama jajaran prajuru yang akan menjalankan tugas selama periode lima tahun. Bupati Adi Arnawa menyampaikan ucapan selamat kepada kepengurusan baru sekaligus memberikan penghargaan kepada prajuru sebelumnya yang telah menyelesaikan masa ayahan dan membangun dasar tata kelola Desa Adat Pecatu.
Ia meminta kepemimpinan baru tetap menjadikan awig-awig sebagai pedoman dalam menjalankan tugas. Selain itu, proses pengelolaan desa adat diharapkan dilakukan secara terbuka dengan mengedepankan sikap mengayomi dan merangkul seluruh krama.
“Dalam menjalankan awig sekaligus tata kelola agar tetap satu. Dalam pengambilan keputusan harus transparan, terbuka dan harus ada semangat mengayomi, merangkul,” tegasnya.
Menurut Adi Arnawa, Bendesa Adat Pecatu yang baru memiliki pengalaman di bidang birokrasi yang dapat menjadi bekal dalam menghadapi dinamika perkembangan wilayah. Pecatu saat ini menjadi salah satu kawasan strategis di Badung Selatan yang pertumbuhan pariwisata dan investasinya terus bergerak.
Pertumbuhan kawasan tersebut turut berdampak pada meningkatnya aktivitas ekonomi dan populasi. Kondisi itu, kata dia, membutuhkan pengelolaan yang semakin baik agar perkembangan wilayah tetap berada dalam koridor yang sesuai dengan kepentingan masyarakat.
Bupati juga mengingatkan posisi penting Desa Adat Pecatu bersama Puri Agung Jro Kuta sebagai pengempon dan pengempon Pura Luhur Uluwatu, yang merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan di Bali. Karena itu, perkembangan kawasan harus tetap memperhatikan nilai-nilai adat dan kesucian kawasan.
Adi Arnawa juga meminta masyarakat melihat pembangunan dari perspektif yang lebih luas. Infrastruktur yang dibangun pemerintah di kawasan Pecatu diharapkan tidak hanya mendukung perkembangan wilayah, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat lokal.
“Mulai hari ini diharapkan merubah mindset. Dengan pembangunan yang semakin masif ke Pecatu, terutama pembangunan infrastruktur, saya meyakini ekonomi masyarakat di Pecatu akan semakin meningkat. Tentunya tantangannya juga akan semakin meningkat,” katanya.
Sebagai kawasan dengan pertumbuhan akomodasi wisata yang cukup tinggi, Pecatu membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan desa adat. Menurutnya, desa adat perlu mengambil peran aktif dalam mengawal perkembangan pariwisata agar manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat tanpa menghilangkan karakter serta keberlanjutan kawasan.
“Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Ayo membangun sinergi antara pemerintah dengan desa adat,” ajaknya sembari mengajak masyarakat agar banyak belajar juga dari desa adat lainnya dalam membangun sinergi yang baik antara desa adat dengan pemerintah.
Bupati berharap pengurus baru Desa Adat Pecatu dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perkembangan pariwisata, dan keberlangsungan adat. Dengan demikian, kemajuan yang terjadi saat ini dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi generasi mendatang.
“Tantangan bagi Bendesa Adat dan prajuru sekalian, mari menjaga bersama agar pariwisata ini bisa dinikmati anak cucu kita ke depan,” pungkasnya.
Sementara itu, Bendesa Adat Pecatu terpilih I Made Sutama menyampaikan bahwa jajaran prajuru yang baru mulai menjalankan tugas setelah prosesi pengukuhan. Sebanyak 28 orang prajuru akan mengemban tanggung jawab selama masa ayahan 2026-2031.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia pemilihan yang telah menjalankan seluruh tahapan hingga menghasilkan kepengurusan Desa Adat Pecatu yang baru.
Untuk tahap awal, kepengurusan baru akan meneruskan program kerja prajuru sebelumnya yang masih tersisa sekitar empat bulan. Selanjutnya, penyusunan program kerja 2027 akan dilakukan mulai November dengan mengacu pada visi dan misi yang dibawa saat pencalonan, sekaligus mengevaluasi program yang telah berjalan.
“Kami mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada prajuru sebelumnya yang telah meletakkan pondasi landasan yang bagus untuk kami lanjutkan. Kalau ada yang belum dilaksanakan, kami akan laksanakan. Kalau perlu ada yang kami evaluasi, kami akan evaluasi. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada panitia yang sudah selesai tugasnya dan berhasil menghasilkan serta mewujudkan Kelian Desa Adat yang baru,” ujarnya.
Sutama juga memohon dukungan seluruh krama Desa Adat Pecatu dalam menjalankan swadarma sebagai Bendesa Adat. Ia menegaskan pembenahan tata kelola menjadi salah satu fokus awal kepengurusan baru.
Koordinasi dengan staf desa adat dan seluruh prajuru akan dilakukan untuk memperjelas pembagian tugas, pokok dan fungsi masing-masing sehingga roda pemerintahan desa adat dapat berjalan lebih terarah.
Sejumlah tokoh dan pejabat turut menghadiri prosesi tersebut. Di antaranya Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti, Anggota DPRD Badung I Made Tommy Martana Putra, Perbekel Pecatu I Made Karyana Yadnya, Bendesa Adat Pecatu sebelumnya I Made Sumerta, Penglingsir Puri Jero Kuta I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya, sejumlah tokoh puri lainnya, serta Bendesa Madya Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Badung Ida Bagus Gede Widnyana.(den/updatebali)


