Gubernur Koster Dorong Pinjaman Daring di Bali Lebih Banyak Biayai Sektor Produktif

0
68
Gubernur Koster Dorong Pinjaman Daring di Bali Lebih Banyak Biayai Sektor Produktif
Gubernur Koster Dorong Pinjaman Daring di Bali Lebih Banyak Biayai Sektor Produktif. Sumber Foto : Humas Pemprov Bali / Updatebali

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster mendorong industri Financial Technology atau fintech, khususnya pinjaman daring atau Pindar, untuk memperbesar penyaluran pembiayaan ke sektor produktif di Bali.

Hal tersebut disampaikan Koster saat menjadi pembicara dalam Fintech Lending Days (FLD) 2026 di Bali Sunset Road Convention Center, Pemogan, Denpasar Selatan, Jumat, 21 Agustus 2026.

Koster menyatakan mendukung pengembangan fintech karena memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses layanan dan produk keuangan. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan penguatan literasi keuangan agar masyarakat tidak mengambil keputusan berutang secara impulsif dan konsumtif.

Menurut Koster, penggunaan Pindar di Indonesia masih didominasi kebutuhan konsumtif. Berdasarkan data nasional, sekitar dua pertiga pembiayaan Pindar digunakan untuk konsumsi, sedangkan sepertiga lainnya mengalir ke sektor produktif.

Padahal, Otoritas Jasa Keuangan menargetkan penyaluran pembiayaan Pindar ke sektor produktif dapat mencapai 40 hingga 50 persen.

“Ini adalah tantangan bersama, utamanya pelaku industri,” ujar Koster.

Baca Juga:  HUT ke-68 Provinsi Bali, Gubernur Koster Tekankan Ketulusan dan Integritas dalam Pelayanan

Khusus di Bali, Koster berharap pembiayaan Pindar lebih banyak menyasar sektor-sektor produktif. Di antaranya petani organik, pelaku ekonomi kreatif berbasis budaya Bali, UMKM, serta pengusaha muda yang sedang membangun dan mengembangkan usaha.

Ia meminta pelaku industri Pindar memahami karakteristik dan ekosistem usaha lokal sebelum menyalurkan pembiayaan.

“Kami berharap industri Pindar benar-benar memahami dan masuk ke ekosistem usaha lokal Bali, bukan hanya melihat Bali sebagai pasar, melainkan sebagai mitra yang karakteristiknya perlu dipahami,” katanya.

Koster menekankan pentingnya literasi keuangan dalam perkembangan industri pembiayaan digital. Menurutnya, kemudahan memperoleh pinjaman tanpa pemahaman mengenai hak, kewajiban, dan risiko dapat menimbulkan persoalan bagi masyarakat.

“Masyarakat yang belum sepenuhnya memahami hak dan kewajiban sebagai peminjam sangat rentan terjebak pada keputusan berutang yang impulsif, bukan untuk modal usaha produktif, melainkan konsumsi sesaat,” imbuhnya.

Ia meminta industri Pindar tidak hanya mengejar pertumbuhan penyaluran dana. Pertumbuhan industri, menurut Koster, harus berjalan bersama peningkatan literasi keuangan, transparansi produk, ketepatan sasaran pembiayaan, dan perlindungan konsumen.

Baca Juga:  Satgas Bali Telusuri Tempat Terkait Kasus Omicron di Surabaya

“Yang kami harapkan adalah ekosistem pembiayaan digital yang sehat, tepat sasaran, produktif, transparan, dan melindungi konsumen. Bukan ekosistem yang tumbuh cepat tapi meninggalkan masalah di kemudian hari,” tegasnya.

Pemprov Bali, kata Koster, siap menjadi mitra industri dan regulator dalam memperkuat literasi keuangan hingga tingkat masyarakat.

Ia menyebut Bali memiliki jaringan 1.500 Desa Adat yang dapat menjadi saluran edukasi keuangan. Selain itu, program literasi digital juga telah berjalan di SMA, SMK, dan Desa Adat di seluruh Bali.

“Jaringan ini bisa menjadi saluran yang efektif untuk program edukasi keuangan yang menyentuh masyarakat hingga ke tingkat akar rumput,” ujarnya.

Koster berharap industri Pindar dapat ikut mengambil peran dalam pembangunan Bali dan tidak sekadar menjadikan daerah ini sebagai pasar pembiayaan digital.

Baca Juga:  Pengurus PDIP Denpasar Resmi Dikukuhkan, Koster: Jadilah Ujung Tombak Perjuangan Rakyat

Sementara itu, Dewan Pengawas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Bernadino Vega, menilai Bali memiliki potensi besar dalam pengembangan industri Pindar.

Menurutnya, Bali memiliki sekitar 440 ribu UMKM yang membutuhkan dukungan pembiayaan untuk mengembangkan usaha.

“Tantangan dalam industri Pindar bukan hanya dalam kemampuan penyediaan dana, tapi bagaimana kita mendorong semakin banyak pelaku usaha yang masuk dan terhubung dalam ekosistem keuangan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya tata kelola yang kuat, penyaluran dan penagihan yang bertanggung jawab, serta perlindungan konsumen.

Fintech Lending Days 2026 merupakan forum strategis yang digelar AFPI dan CNBC Indonesia dengan tema Advancing Indonesia’s Digital Financing Ecosystem. Forum tersebut mempertemukan regulator, pemerintah, pelaku industri jasa keuangan, investor, asosiasi, perbankan, dan mitra strategis.

Melalui forum ini, Koster berharap lahir langkah konkret untuk memperkuat ekosistem pembiayaan digital nasional sekaligus memberikan manfaat bagi pertumbuhan UMKM dan perekonomian Bali. (yud/updatebali)