Badung Siapkan 42 Hektare Lahan Cabai, Produksi 420 Ton Ditargetkan Mulai 2026

0
233
Kepala Diperpa Badung, A.A. Ngurah Raka Sukadana segera mengembangkan tanaman cabai di 42 hektare lahan di Mengwi, Abiansemal, dan Petang dengan target produksi 420 ton.
Kepala Diperpa Badung, A.A. Ngurah Raka Sukadana segera mengembangkan tanaman cabai di 42 hektare lahan di Mengwi, Abiansemal, dan Petang dengan target produksi 420 ton. Sumber foto : Kominfo Badung/updatebali

UPDATEBALI.com, MANGUPURA — Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Diperpa) menyiapkan lahan seluas 42 hektare untuk pengembangan tanaman cabai.

Program yang tersebar di Kecamatan Mengwi, Abiansemal, dan Petang tersebut ditargetkan mampu menghasilkan hingga 420 ton cabai.

Pengembangan komoditas cabai ini dilakukan sebagai langkah menjaga ketersediaan pasokan sekaligus mengantisipasi potensi kelangkaan, terutama saat memasuki musim hujan. Penanaman dilaksanakan secara bertahap mulai Agustus hingga Desember 2026.

Kepala Diperpa Badung A.A. Ngurah Raka Sukadana mengatakan, produktivitas cabai ditargetkan mencapai 10 ton per hektare. Dengan total lahan pengembangan mencapai 42 hektare, produksi keseluruhan diproyeksikan mencapai 420 ton.

“Total target produksi 10 ton per hektare dikali 42 hektare, jadi ditargetkan produksi 420 ton,” kata Raka, Rabu, 19 Agustus 2026.

Di Kecamatan Mengwi, pengembangan cabai mencakup Kelompok Manik Pertiwi seluas 2 hektare, Subak Perang 2 hektare, Subak Guming 2 hektare, Kelompok Bina Mandiri 2 hektare, Subak Lepud 4 hektare, Subak Babakan 2 hektare, Babakan Sorangan 2 hektare, Tinjak Menjangan 1 hektare, serta Kelompok Tani Merta Nadi 1 hektare.

Baca Juga:  Penjualan Mobil Naik di Oktober, Astra Catat Pertumbuhan Positif

Sementara di Kecamatan Abiansemal, lokasi pengembangan meliputi Subak Blahkiuh, Citra, Tanah Putih, dan Umasangiang. Masing-masing lokasi memiliki luas 2 hektare sehingga total mencapai 8 hektare.

Adapun di Kecamatan Petang, penanaman dilakukan di Subak Wana Sari, Semanik Sari, dan Sedana Winangun yang masing-masing memiliki luas 5 hektare. Selain itu, terdapat lahan seluas 1 hektare di Munduk Samuan.

Salah satu lokasi yang dipersiapkan untuk gerakan tanam berada di Subak Lepud, Desa Baha, Kecamatan Mengwi. Area tersebut memiliki luas 4 hektare dan menjadi salah satu titik pengembangan cabai yang melibatkan petani secara langsung.

Menurut Raka, sarana produksi untuk program tersebut telah didistribusikan sejak akhir Juli. Saat ini, petani masih menjalani proses pembibitan yang membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 25 hari.

Baca Juga:  Bupati Sutjidra Dorong Gerokgak Jadi Sentra Pertanian dan Hortikultura Penopang Ketahanan Pangan

Di sisi lain, persiapan lahan telah berjalan. Sejumlah tahapan seperti pengolahan tanah, pemasangan mulsa, dan pemupukan telah dilakukan sehingga lahan siap digunakan ketika bibit memasuki usia tanam.

“Rencana tanggal 26 kalau benih sudah siap tanam akan dilaksanakan gerakan tanam cabai,” sambungnya.

Khusus di Subak Lepud, penanaman akan dilakukan pada delapan munduk. Masing-masing munduk menggarap lahan sekitar 50 are dengan melibatkan sekitar 10 petani. Dengan demikian, total sekitar 80 petani akan terlibat dalam pengembangan cabai di lahan seluas 4 hektare tersebut.

Varietas yang digunakan adalah Caliber. Dengan asumsi produktivitas 10 ton per hektare, lahan di Subak Lepud diperkirakan menghasilkan sekitar 40 ton cabai.

Hasil produksi dari lokasi tersebut diperkirakan mulai memasuki masa panen pada Oktober hingga November 2026. Pengaturan waktu tanam tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk menjaga kesinambungan pasokan cabai di tengah potensi peningkatan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga:  Wabup Badung Serahkan Hibah Rp. 1,7 Miliar untuk Pembangunan Pura Giria Buncing

Tidak hanya fokus pada produksi, Diperpa Badung juga menyiapkan skema penyerapan hasil panen. Salah satunya melalui kerja sama dengan Perumda Pasar dan Pangan Giri Mangu Sedana.

“Strategi kami menjalin dan menggandeng kerja sama dengan Perumda Pasar dan Pangan Giri Mangu Sedana untuk membeli hasil panen petani, di samping petani menjual ke pengepul maupun langsung memasarkan ke pasar,” terang Raka.

Dengan pola tersebut, hasil panen petani diharapkan memiliki jalur pemasaran yang lebih beragam.

Program pengembangan cabai sekaligus diarahkan untuk memperkuat produksi pangan daerah, menjaga pasokan di pasar, serta memberikan peluang ekonomi bagi petani di Badung.(adv/updatebali)