UPDATEBALI.com, DENPASAR – Komunitas Seni Grahasta Bawera Banjar Pengayehan, Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, menampilkan garapan bertajuk “Bala Sikap” dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026.
Garapan ini mengusung revitalisasi kesenian klasik yang berpijak pada sejarah, nilai keprajuritan, serta kearifan lokal Desa Adat Munggu yang selama ini belum banyak dikenal masyarakat.
Ketua Komunitas Seni Grahasta Bawera, I Kadek Sugiarta, S.Sn., M.Sn., mengatakan, judul “Bala Sikap” dipilih karena memiliki makna mendalam sebagai simbol prajurit yang mengabdikan diri kepada desa adat. Garapan tersebut juga mengangkat keberadaan pusaka sakral berupa Tameng Polem yang disucikan oleh masyarakat Desa Adat Munggu.
“Bala Sikap memiliki arti sebagai prajurit yang telah mendedikasikan dirinya melalui perjuangan dan pengabdian kepada desa adat. Cerita yang kami angkat juga berangkat dari kearifan lokal yang selama ini tersembunyi, yakni keberadaan Tameng Kolem yang menjadi pusaka suci di Desa Adat Munggu,” ujar I Kadek Sugiarta saat diwawancara tim updatebali.com pada Senin 6 Juli 2026.
Menurutnya, garapan tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi media edukasi mengenai sejarah desa yang berkaitan erat dengan tradisi Mekotek, salah satu tradisi budaya khas Desa Munggu. Hubungan sejarah antara Tameng Kolem dengan tradisi Mekotek menjadi benang merah dalam alur cerita yang disajikan di atas panggung.
Ia menjelaskan, meskipun belum terdapat tari khusus yang mengisahkan sejarah tersebut, tim kreatif berupaya menerjemahkannya dalam sebuah pertunjukan yang memadukan unsur tari, tabuh, topeng, hingga dramatari.
Dalam pementasan nanti, Komunitas Seni Grahasta Bawera melibatkan sekitar 34 seniman yang terdiri atas 22 penabuh, empat penari topeng, delapan penari Baris, serta didukung penembang (gerong).

Persiapan menuju PKB telah dilakukan selama kurang lebih tiga bulan. Namun, proses latihan tidak lepas dari berbagai tantangan, terutama dalam mengatur jadwal seluruh pendukung pertunjukan.
“Kendala terbesar ada pada proses latihan penabuh dan penari karena sebagian besar masih berstatus pelajar, sementara yang lainnya bekerja di sektor pariwisata. Jadi kami harus menyesuaikan waktu latihan agar semuanya bisa ikut berproses,” ungkapnya.
Salah satu daya tarik utama dalam pementasan ini, lanjut Sugiarta, akan muncul pada bagian penutup. Di akhir pertunjukan, penonton akan disuguhkan atraksi Tari Baris Bala Sikap yang dikemas sebagai klimaks cerita sekaligus menggambarkan semangat dan kemeriahan tradisi Mekotek yang menjadi identitas masyarakat Desa Munggu.
“Momen paling menarik kami letakkan di bagian akhir, ketika Tari Baris Bala Sikap tampil sebagai puncak pertunjukan yang menggambarkan semangat tradisi Mekotek. Itu akan menjadi klimaks dari keseluruhan alur cerita,” jelasnya.
Melalui garapan “Bala Sikap”, Komunitas Seni Grahasta Bawera berharap masyarakat semakin mengenal sejarah serta kekayaan budaya Desa Adat Munggu. Selain itu, mereka juga berharap penampilan di PKB 2026 mampu mendapat apresiasi luas sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Badung.
“Kami berharap garapan ini bisa diterima masyarakat, memperkenalkan sejarah dan budaya Desa Munggu kepada khalayak yang lebih luas, serta mengharumkan nama Kabupaten Badung. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung dan Listibiya Kabupaten Badung yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk tampil di Pesta Kesenian Bali 2026,” tutup I Kadek Sugiarta. (Yud/ub)





