spot_img
spot_img
BerandaBali108 Seniman Badung Tampilkan Les Kelanguan, Angkat Pesan Penyucian Diri di PKB...

108 Seniman Badung Tampilkan Les Kelanguan, Angkat Pesan Penyucian Diri di PKB XLVIII

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Penampilan Duta Kabupaten Badung pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 sukses memukau penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center) Denpasar, Selasa, 7 Juli 2026.

Melalui garapan Barong Landung bertajuk “Les Kelanguan”, Sanggar Tari Rare Cili Kedonganan, Lingkungan Ketapang, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta, menghadirkan pertunjukan yang sarat nilai budaya, spiritualitas, dan pesan moral.

Pementasan diawali dengan tabuh petegak bebarongan berjudul “Jala Maasin”. Garapan ini mengangkat filosofi air sebagai sumber kehidupan yang mengalir dari pegunungan hingga bermuara di pesisir. Pertemuan air tawar dan air laut yang menghasilkan air payau dimaknai sebagai simbol keharmonisan alam. Dalam ajaran Hindu, perpaduan tersebut juga memiliki nilai sakral sebagai sarana dalam pelaksanaan berbagai upacara yadnya.

Memasuki garapan utama, “Les Kelanguan” mengangkat tradisi Mebuug Buugan yang menjadi ritual khas masyarakat Desa Adat Kedonganan dan dilaksanakan setiap Manis Nyepi. Tradisi bermain lumpur ini dihadirkan sebagai metafora perjalanan manusia menuju Atma Kerthi Jiwa Sidha Parisudha.

Baca Juga:  BKOW Provinsi Bali Gelar Aksi Sosial dan Edukasi Stunting di Kabupaten Jembrana

Kisah diawali dengan gambaran keceriaan anak-anak yang bermain lumpur merah di pesisir sebagai simbol sifat alami manusia yang masih dipenuhi berbagai kekotoran. Cerita kemudian berkembang menjadi konflik yang menggambarkan gejolak batin dan ego manusia dalam menjalani kehidupan.

Perjalanan spiritual dalam garapan tersebut berlanjut dengan hadirnya sosok dukuh yang menanamkan nilai-nilai dharma sebagai pedoman hidup. Tahap penyucian kemudian digambarkan melalui prosesi Sesuhunan yang lunga ngintar sebagai respons terhadap mrana desa.

Kehadiran tokoh Legong, Telek, hingga manifestasi sakral Ida Jro Wayan dan Ida Jro Luh dalam wujud Barong Landung semakin memperkuat pesan bahwa manusia akan mencapai keseimbangan apabila mampu menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatannya hingga mencapai jiwa yang Sidha Parisudha.

Koordinator Nglawang Barong Landung Duta Kabupaten Badung, Agus Suanjaya, mengatakan tema “Les Kelanguan” terinspirasi dari kawasan hutan mangrove di pesisir timur Kedonganan. Menurutnya, garapan tersebut menjadi sarana memperkenalkan tradisi yang masih hidup dan dijaga masyarakat Desa Adat Kedonganan.

Baca Juga:  Bupati Sanjaya Dukung Penampilan Gong Kebyar Anak-Anak di PKB 2024

“Kami mengangkat tradisi yang ada di Desa Adat Kedonganan, terutama Mebuug Buugan yang dilaksanakan setiap Manis Nyepi. Tradisi itu kami hadirkan ke dalam konsep garapan agar masyarakat semakin mengenal warisan budaya yang kami miliki. Harapan kami, desa adat maupun duta kabupaten lainnya juga terdorong mengangkat tradisi yang dimiliki daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Agus menjelaskan proses kreatif garapan telah dimulai sejak 11 Februari 2026 dan berlangsung selama kurang lebih empat setengah bulan. Sebanyak 108 seniman terlibat dalam proses latihan hingga akhirnya tampil mewakili Kabupaten Badung di panggung PKB XLVIII.

Salah satu penampil, Agus Suwira yang memerankan tokoh kakek, mengaku bangga dapat menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali. Menurutnya, PKB menjadi ruang penting bagi para seniman untuk berkarya sekaligus menjaga keberlangsungan seni dan budaya Bali.

“Pesta Kesenian Bali memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Semoga kegiatan ini terus berkembang sehingga seni dan budaya Bali tetap lestari dan semakin dicintai oleh generasi muda,” katanya.

Baca Juga:  PS Profesi Apoteker FMIPA Unud Kunjungi Empat Industri Farmasi Terkemuka di Indonesia

Dalam pementasan tersebut, Agus Suwira memerankan sosok kakek yang menjadi panutan keluarga dengan memberikan tuntunan kepada cucu-cucunya agar tumbuh menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur, menjaga nilai-nilai budaya, serta menjadi kebanggaan masyarakat.

Sementara itu, tokoh nenek yang diperankan oleh Gung Gita menjadi simbol kasih sayang dan kebijaksanaan dalam keluarga. Kehadiran kedua tokoh tersebut memperkuat pesan moral mengenai pentingnya peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai dharma, menjaga keharmonisan hidup, serta mewariskan tradisi kepada generasi penerus.

Tepuk tangan panjang dari penonton menutup pementasan sore itu. Melalui garapan “Les Kelanguan”, Duta Kabupaten Badung tidak hanya menyuguhkan pertunjukan yang memikat secara artistik, tetapi juga mengajak masyarakat memahami makna penyucian diri, menjaga keharmonisan dengan alam, dan melestarikan tradisi sebagai identitas budaya Bali yang terus hidup dari generasi ke generasi.(adv/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments