spot_img
spot_img
BerandaBaliTumpek Krulut dan Purnama Kepitu, Momentum Menyemai Kasih Sayang dan Kesadaran Batin

Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu, Momentum Menyemai Kasih Sayang dan Kesadaran Batin

UPDATEBALI.comBULELENG – Tidak semua hari suci hadir dengan getaran spiritual yang sama. Ada waktu-waktu tertentu yang terasa lebih kuat, seakan alam semesta mengajak manusia berhenti sejenak dari rutinitas dan menyelami suara batinnya sendiri. Salah satu momentum tersebut terjadi saat Tumpek Krulut bertemu dengan Purnama Kepitu.

Dalam perspektif ajaran Hindu Bali, pertemuan dua hari suci ini dimaknai sebagai perjumpaan antara energi kasih sayang dan cahaya kesadaran. Berdasarkan kajian lontar Sundarigama, Tumpek Krulut dipahami sebagai hari penyucian rasa, ketika manusia diajak melembutkan hati, merawat keindahan jiwa, serta menumbuhkan harmoni lahir dan batin. Hari suci ini dipersembahkan kepada Bhatara Iswara sebagai manifestasi Tuhan yang menjaga kesucian, seni, dan keseimbangan semesta.

Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Buleleng, Luh Irma Susanthi, menjelaskan bahwa ketika Tumpek Krulut jatuh bersamaan dengan Purnama Kepitu, makna spiritualnya menjadi semakin mendalam.

“Ketika Tumpek Krulut jatuh bertepatan dengan Purnama Kepitu, maknanya menjadi berlapis. Purnama adalah fase bulan paling terang sebuah simbol puncak kejernihan pikiran dan keterbukaan hati. Kepitu sendiri secara spiritual sering dikaitkan dengan proses penyembuhan dan pemurnian emosi, konsep sederhana namun penuh makna dari kemampuan untuk memahami konsep Sapta Timira yang selalu mengikuti ritme kehidupan, tujuh kegelapan yang ada dalam diri manusia, yang harus diperhitungkan dengan spirit dan kecerdasan,” ujar Irma.

Baca Juga:  Jalur Utama Denpasar-Gilimanuk Lumpuh, Satake Bayu Sarankan Cari Jalan Alternatif

Ia menambahkan, pesan spiritual dari pertemuan dua hari suci ini menjadi sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini. Fenomena bullying, depresi, hingga bunuh diri, khususnya di kalangan generasi muda, menunjukkan krisis empati di tengah masyarakat modern. Di era yang penuh hiruk pikuk informasi, banyak individu tampak kuat secara visual, namun menyimpan kerapuhan secara emosional.

Dalam konteks tersebut, Tumpek Krulut tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, melainkan sebagai pengingat pentingnya menjadikan kasih sayang sebagai laku hidup sehari-hari.

Baca Juga:  Gubernur Wayan Koster Ajak Krama Bali Rayakan Tumpek Krulut Sebagai Hari Tresna Asih

“Kitab suci Bhagavadgita menegaskan bahwa kualitas manusia utama terletak pada welas asihnya, adveṣhṭā sarva-bhūtānāṁ maitraḥ karuṇa eva cha nirmamo nirahankāraḥ sama-duḥkha-sukhaḥ kṣhamī santuṣhṭaḥ satataṁ yogī yatātmā dṛiḍha-niśhchayaḥ mayy arpita-mano-buddhir yo mad-bhaktaḥ sa me priyaḥ (Bhagavadgita XII.13 dan 14). Artinya, Ia yang tidak membenci siapa pun, bersahabat, penuh kasih dan welas asih dialah yang dicintai Tuhan,” terang Irma.

Ia juga mengungkapkan bahwa akar persoalan seperti bullying kerap lahir dari ego dan kebencian, sementara tindakan bunuh diri sering berawal dari perasaan tidak dicintai dan tidak dihargai. Karena itu, solusi spiritual yang ditawarkan bukan sekadar seruan agar seseorang “harus kuat”, melainkan kehadiran empati dan ruang aman untuk didengar.

Simbol cahaya dalam Purnama Kepitu semakin menegaskan pesan tersebut, bahwa kesadaran adalah jalan keluar dari kegelapan batin.

“Lontar Sundarigama secara halus mengingatkan bahwa upacara tanpa penghayatan hanya akan menjadi rutinitas kosong. Bhagavadgita bahkan menegaskan bahwa manusia harus berperan aktif menyelamatkan dirinya, diperkuat dalam, Sloka Bhagavad Gita VI.5 uddhared ātmanātmānaḿ nātmānam avasādayet ātmaiva hy ātmano bandhur ātmaiva ripur ātmanaḥ. Artinya yang sangat relevan, hendaknya seseorang mengangkat dirinya dengan kesadaran, jangan menjatuhkan dirinya sendiri,” imbuhnya.

Baca Juga:  Purnama Sadha, Fapet Unud Gelar Piodalan di Farm Sesetan

Nilai Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu, menurutnya, perlu dihadirkan dalam tindakan nyata seperti mendengar tanpa menghakimi, menciptakan ruang aman di lingkungan keluarga dan pendidikan, serta mengakui kesehatan mental sebagai bagian dari dharma menjaga kehidupan.

Ketika kasih sayang dan cahaya kesadaran benar-benar dihidupkan, kemarahan akan mereda, kebencian kehilangan daya, dan empati menemukan ruang untuk tumbuh. Inilah kondisi batin ideal untuk menekan kekerasan verbal, bullying, dan keputusasaan hidup. Ajaran suci dalam Bhagavadgita dan kajian lontar Sundarigama kembali menegaskan bahwa cahaya kesadaran merupakan kunci pembebasan dari kegelapan batin manusia. (adv/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments